Tuhan Buatan

Tuhan Buatan
©Scoop.It

Sesuatu yang diciptakannya, seperti menjadi Tuhan buatan.

Terbius dalam diagonal layar.
Tertunduk menghamba tak pedulikan sekitar.
Makhluk sosial yang kesetanan asosial.
Makhluk sialan!

Ruang maya bukan kehidupan sebenarnya.
Tapi mengasyikkan hingga lupa dibuatnya.
Teruslah menunduk.
Sampai mata meremuk.
Dan kesadaran jadi takluk.

Teknologi didayagunakan.
Tetapi malah jadi bumerang,
berbalik menyerang.
Manusia di ujung keterpurukan atas kekalahan.
Sesuatu yang diciptakannya,
seperti menjadi Tuhan buatan;
mempertundukan harkat manusia, sebagai hamba yang wajib takluk kepadanya.

Kudus, 2019

Menantikan Sebuah Jawaban

Ingar bingar perkotaan
Senyap dalam beberapa jam
Mataku mengantuk,
Pikiranku seperti diaduk-aduk
Namun aku telanjur dikutuk
Menjadi penunggu malam
Oleh rembulan, untuk menemaninya
Mengobrolkan perjuangan orang-orang
Yang bekerja di sisa waktu malam

Di sepanjang jalan pantura,
Sepasang bola mata terpaksa menganga
Padahal tak menderita insomnia
Menyaksikan sampah plastik yang menari-nari bersama angin
Menghirup debu dan asap kotor yang berterbangan
Kupikir itu pemandangan yang biasa-biasa saja
Ternyata bukan, kesehatan terancam dan nyawa dipertaruhkan
Ahh… mungkin aku terlalu melebih-lebihkan

Di sebuah kamar, harga diri terbeli dengan uang
Saluran hasrat seksual para hidung belang terpuaskan
Tempat mucikari menggantungkan hidupnya
Pada desahan manja wanita malam
Yang terselip jerit tangis yang terbungkam

O, betapa hidupnya yang malang
Ahh… lagi-lagi aku terlalu melebih-lebihkan

‘Terus seperti inikah siklus kehidupan malam?’
Kutanya sesekali pada rembulan
Tapi ia sudah menghilang dari singgasananya
Waktu hampir beranjak pagi
Ia bersembunyi di balik mega mendung
Sembari menantikan jawaban
Yang belum sempat dijawab
Masih menyisakan sebuah tanda tanya besar
Lebih baik kusimpan pertanyaan itu untuk esok pagi
Dan akan kutanyakan pada mentari

Kudus, 2019

Feminisme

budaya patriarki
tumbuh subur
tak manusiawi
di dalam negeri
yang ngeri

konsepsi kesetaraan
terus diperjuangkan
menuntut emansipasi
merupakan harga mati

esensi perempuan yang dilucuti
ditindas dan tak dihargai
menolak untuk menyerah
dan pasrah
pada sistem yang serakah

dari dalam pikiran memberontak untuk revolusi
bibit-bibit feminisme telah ditanam
tumbuh subur dengan tegap melawan!

Kadjen, 2019

    Muhammad Fatwa Fauzian

    Mahasiswa IAIN Kudus, Jurusan Pemikiran Politik Islam
    Muhammad Fatwa Fauzian

    Latest posts by Muhammad Fatwa Fauzian (see all)