Tuhan, Kau Sedang Apa?

Tuhan, Kau Sedang Apa?
©Vimeo

Tuhan, apakah kau sedang berpuisi?

Menggeram hati, Ah… kau ini!
Seketika aku terlonjak, mataku terbelalak
Hidup makin lucu saja
Semut-semut bersalaman, menunduk saat bertemu di jalan
Sedang manusia saling memalingkan mata, saling menghujat di belakang
Reinkarnasi kejadian satu dua kali mereka abaikan
Tidak mereka ambil sebuah pelajaran, malah mengomel tanpa ampun

Tuhan, apakah kau sedang tertawa
Jika kau tertawa, buatlah diriku tertawa juga
Buat apa aku marah, jika kau saja tidak keberatan
Tuhan, apakah kau sedang berpuisi
Jika demikian, perbaikilah diksiku, agar lakuku tidak monoton saja
Atau Engkau sedang merencanakan sesuatu
Jika demikian, beri tahu aku akan propagandamu, agar mulus menjalani hidup

Intuisi

Durjana, malapetaka kau!
Duh, aku…, bisakah diam?
Bukankah kau bagak dengan anugerah Sang Hyang Wi Dhi
Jalanmu penuh lubang memang, tapi nikmatilah!
Bukankah itu sebuah keistimewaan
Tidakkah kau melihat banyak sekali luka melebihi luka yang kau rasa?

Janganlah beranja-anja, tegar dan hadapilah!
Mantapkan langkah!
Tiada berat jika dipikul, dan ringan jika dijinjing
Bersujudlah, buka matamu di sepetiga malam
Tumpahkan asa, dan jangan putus asa

Politik, Anak dan Bapak

Maaf, Bapak…
Kami ingin minta uang
Itu hak kami, kenapa Bapak selalu memonopoli
Jalanan-jalanan rusak, pembangunan sempat berhenti
Karena korupsi menjadi inti dari inti
Bapak, kami ini anakmu
Bukankah kau orang tua kami
Tapi kenapa kami dituntut untuk membayar ini-itu

Oh, Bapak…
meski kau berkumis atau berjenggot
Kami akan selalu menghormatimu sebagai orang tua kami
Tapi kenapa, Bapak…
Sering kali kami kau anggap sebagai anak yang tak berbakti
Bukankah kami sudah bergotong royong untuk memilihmu
Tapi kenapa, Bapak…
Sekali lagi kau tak memilih kami
Tapi kau malah memilih diri kau sendiri

Bapak…
Ini bukan rintihan
Ini bukan keluhan
Melainkan ini adalah peringatan
Agar kami ingat bahwa kami punya bapak
Agar Bapak ingat bahwa Bapak memiliki kami
Negeri sedang butuh perdamaian antara kami dan kau
Negeri juga butuh mantapnya jati diri

Paiton, 11 September 2021
Tempatku mengabdi dan berbakti

    Marsyidza Alawiya
    Latest posts by Marsyidza Alawiya (see all)