Tuhan, Manusia, dan Penderitaan

Tuhan, Manusia, dan Penderitaan
©GKI

Sejarah hidup manusia tidak terlepas dari permenungan akan Tuhan, yang diyakini sebagai pencipta segala sesuatu yang ada. Namun permenungan akan Tuhan tidak bisa diterima begitu saja secara rasional, tetapi terlebih dahulu perlu adanya pertimbangan rasional yang mendalam. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kehausan manusia akan keingintahuannya tentang Tuhan.

Banyak orang yang berusaha menalarkan Tuhan dengan segala misteri-Nya, namun rasanya tidak cukup menalarkan Tuhan dengan pengetahuan yang mereka miliki. Ketahuilah bahwa Tuhan sejatinya tidak saja diimani dengan nalar melainkan juga diimani dengan hati.

Terlepas dari itu, diyakini bahwa hasrat manusia untuk mengetahui sesuatu itu sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil. Keingintahuan itu terus hidup di dalam dirinya, yang melahirkan beribu pertanyaan tentang sesuatu yang dilihatnya secara kasat mata maupun tidak, sehingga hampir seluruh pergumulan hidupnya penuh dengan pertanyaan. Mungkin lahir dari hasrat ingin tahu inilah sebuah buku yang berjudul “Hidup: Sebuah Pertanyaan, Kenangan 50 Tahun STFK Ledalero”, yang berisikan kumpulan artikel menarik dan penuh makna.

Tetapi, dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk membahas isi buku tersebut. Tulisan ini saya buat sebagai bentuk refleksi saya tentang realitas kehidupan sekarang ini, yang masih terpasung dalam doktrin agama-agama, yang mana Tuhan dilihat sebagai Mahasegalanya. Dalam arti bahwa apa pun yang terjadi dengan kehidupan manusia ada kaitannya dengan Tuhan.

Sejak lahirnya manusia dengan peradaban baru yang dialaminya dalam hidupnya selalu menjadi topik hangat untuk dibahas, termasuk adanya sendiri. Segala sesuatu yang ada mesti digugat dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu bukan sekadar dilontarkan dan dibiarkan begitu saja, tetapi membutuhkan jawaban dan penjelasan. Dengan maksud, jawaban dan penjelasan tersebut menjadi alasan dasar eksistensi manusia di dunia dan mengapa ia ada sebagai manusia.

Dengan demikian, apa yang menjadi persoalan dan yang dipersoalkan dalam hidup tidak diterima begitu saja, namun dapat dipertanggungjawabkan secara manusiawi. Misalnya, pertanyaan tentang mengapa manusia hidup atau mengapa ia ada sebagai manusia. Pertanyaan ini merupakan sesuatu yang menukik ke dalam tentang eksistensi manusia. Tentu pertanyaan ini tidak dilontarkan begitu saja, tetapi terlebih dahulu perlu ada pertimbangan secara rasional dan harus dipetanggungjawabkan pula secara rasional.

Sementara itu, tentang realitas dunia manusia berpijak tidak bisa diterima begitu saja, tetapi harus dipertimbangkan dan dipertanyakan terlebih dahulu kebenarannya, termasuk eksistensi manusia dan Tuhan. Manusia tidak menerima begitu saja keberadaannya sebagai manusia, tetapi harus mempunyai pertanggungjawaban terlebih dahulu, mengapa ia ada sebagai manusia.

Begitu pula dengan Tuhan. Orang mesti mempunyai dasar terkait dengan imannya. Hal ini bertujuan untuk menghindari sikap ikut-ikutan dalam beriman.

Orang yang beriman sekadar mengikuti orang lain tanpa adanya keyakinan dari dalam dirinya sendiri sering kali jatuh pada pemahaman yang salah, sehingga apa pun yang terjadi dengan dirinya, Tuhan selalu disalahkan. Misalnya, di tengah penderitaan yang dialaminya, Tuhan dilihat sebagai subjek penyebab penderitaannya tersebut. Orang terkadang putus asa dan selalu bertanya, mengapa ia menderita? Mengapa Tuhan membiarkan ia menderita? Ke manakah Tuhan sehingga ia ditimpa kemalangan dan penderitaan?

Di tengah wabah virus korona saat ini, orang juga tidak lari jauh dari pertanyaan-pertanyaan seputar itu. Namun, persoalan seperti ini kerap kali muncul di saat orang rapuh dan tidak mampu memahami kasih Tuhan dalam hidupnya.

Mempertanyakan Tuhan

Pantaskah Tuhan dipertanyakan? Tentu saja. Manusia lahir dan ada dengan segala kebebasannya. Ia bebas menanyakan sesuatu termasuk yang diimaninya sejauh pertanyaannya itu secara rasional bisa dipertanggungjawabkan. Manusia yang terlahir dengan akal budinya, menuntutnya untuk kritis dalam segala hal, termasuk adanya sendiri dan kepercayaannya akan Tuhan.

Masih berkaitan dengan hal itu, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, manusia juga terus-menerus berusaha memperdalam dan memperluas pengetahuannya. Manusia berusaha untuk mengungkapkan pengetahuan itu dengan pengertian yang baru atau dengan metode ilmu yang baru atau dalam bentuk kesusastraan, puisi, roman, musik, dan kesenian. Namun demikian, kenyataan tidak pernah terungkap sampai pada titik selesai (Adelbert Snijders, 2006: 195).

Sama halnya juga manusia mempertanyakan tentang Tuhan yang tidak akan pernah sampai pada titik akhir. Sejatinya, Tuhan tidak akan pernah dicapai dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia tentangnya merupakan suatu refleksi atas pengalaman masa lampau dan merupakan suatu tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan bukan atas dasar keyakinannya sendiri tentang Tuhan itu. Tidak salah Feuerbach berkata bahwa Tuhan adalah ciptaan manusia dan bukan sebaliknya.

Menurut Feuerbach, sebagaimana yang dikutip oleh F. Budi Hardiman, lukisan­-lukisan kita tentang tuhan dan keyakinan­-keyakinan kepadanya tidak lain daripada lukisan-­lukisan dan keyakinan-­keyakinan kepada manusia sendiri dalam sosoknya yang terasing. Bila demikian, doa­-doa kita, harapan-­harapan akan surga dan ketakutan kita akan api neraka sebenarnya menembus ruang kosong saja karena kita hanya terlibat dengan angan-angan manusia yang telah ‘diproyeksikan’ atau diidealkan sedemikian rupa sehingga terkesan sempurna dan berada di luar pikiran.

Jadi, makin tuhan kita bicarakan dan jadikan tema dalam kesadaran kita, makin nyatalah Dia dalam kesadaran, namun tetaplah hampa di luarnya (F. Budi Hardiman, 2012: 19). Namun bukan berarti bahwa saya mendukung Feuerbach di sini, tetapi saya mau membuka pemahaman kita yang baru tentang Tuhan dan tidak lagi terpasung pada limitasi tradisi dan doktrin agama, tetapi berdiri dengan pemahaman sendiri tentang Tuhan tersebut.

Di era modern ini, kehidupan manusia tidak terlepas dari tiga poros entitas kenyataan yang menjadi objek penelahaan serius ilmu filsafat sepanjang masa: alam, manusia, dan Tuhan. Pendekatan filsafat dengan ciri dan sifatnya yang kritis reflektif, selalu mempertimbangkan ketiga segi itu dalam kerangka pencapaian struktur dasar realitas yang komprehensif universal.

Tetapi, dunia modern menyisakan problem yang rumit akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Problem ini menghendaki pemecahan yang tidak lagi monolitik-seperti abad pertengahan, melainkan harus dapat melahirkan banyak paradigma, filsafat, teologi, dan pandangan hidup yang menggugat keberadaan ketiga entitas tersebut. Modernitas pun lantas menjadi sebuah kesadaran baru, dengan visi rasionalitas, menempatkan manusia menjadi sosok yang sentral, subjek, pelaku dan menjadi ukuran kebenaran (Siti Murtiningsih, 1997: 59).

Terlepas dari itu, perihal mempertanyakan Tuhan dalam hidup manusia lahir dari penderitaan yang dialaminya. Sering kali pertanyaan yang muncul sungguh menantang dan menggoyangkan iman kaum beriman.

Hal ini disebabkan karena penderitaan tidak pernah memandang siapa dan bagaimana orang bertindak dalam hidupnya, tetapi penderitaan itu dapat dialami oleh semua orang, entah dia baik atau tidak. Hal ini nyata dalam wabah virus korona, dia tidak memandang siapa dia, siapa mereka. Yang penting baginya, dia bisa bersarang untuk sementara dalam kita, kamu, dan mereka.

Baca juga:
    Jordi Sahat
    Latest posts by Jordi Sahat (see all)