Tuhan Tahu tapi Menunggu di Libertaria

Launching buku Imam Lapeo yang sedianya dulu akan dilaksanakan di 2020 harus tertunda di karena pandemi Covid-19. Kini, ketika kami melakukan perjalanan ke Jogja, Juni, 2022, kami kembali menghubungi teman, Maman Suratman, empunya kafe Libertaria agar kembali diberikan ruang untuk membedah buku ini.

Maman menginyakan, kami akan mendiskusikan buku itu di Libertaria. Walau Libertaria telah berpindah tempat, namun ruh “kebebasan” tetap hadir di setiap tempatnya yang memberikan energi kepada pengunjungnya.

Akhirnya, diskusi buku pun dihelat di Selasa, 07 Juni 2022, pukul 19.30; bekerja sama dengan Ikatan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar Yogyakarta (IPMPY) yang diketahui oleh Abdul Fattah.

Di malam Rabu itu, Libertaria penuh dengan personel asrama Todilaling Polewali Mandar, dan asrama-asrama lainnya seperti Majene, Mamuju, Pinrang, juga Takalar. Kegiatan yang dimoderatori oleh Aco Nursyamsu, mahasiswa Hukum, Janabadra, berlangsung dengan seru.

Kami hanya membuka bedah buku sekitar sepuluh menit (10 menit). Sebelumnya, kami meminta kepada semua yang hadir untuk mengirimkan Al Fatihah kepada Imam Lapeo. Kh. Muhammad Thahir atau Imam Lapeo merupakan wali di Mandar, Sulawesi Barat, sekaligus dalam kesepakatan masyarakat Sulselbar dianggap sebagai salah satu bagian dari wali pitu (tujuh wali).

Kemudian kami berbicara seputar awal buku ini ada yaitu dari hasil tesis kami di Center for Religiuos and Cross Cultural Studies Universitas Gadjah Mada (CRCS UGM). Sebelumnya, kami meminta pendapat dosen kami, Samsul Maarif atau kak Anchu untuk menuliskan jejak kakek yang bernama asli Junaihim Namli ini. Menurut kak Anchu, silakan dituliskan selama kami tidak subjektif tapi objektif.

Lalu, peserta yang rata-rata mahasiswa Mandar, Sulawesi Barat itu pun menyerbu dengan berbagai pertanyaan. Ada Yusuf dari Kenje, Campalagian yang mempertanyakan tentang tarekat Imam Lapeo. Kami lalu menjawab, Imam Lapeo telah melampaui semua (organisasi) tarekat yang ada, dan beliau sendirilah menjadi tarekat, tarekat Imam Lapeo.

Ada Donar dari Tutar mempertanyakan konsep “To Manurung” dalam buku kami dan Imam Lapeo disebut sebagai wali apa. Konsep “To Manurung” kami maksudkan sebagai konsep manusia setengah dewa sebelum adanya wali. Hari ini, kami menganggap bahwa Imam Lapeo merupakan wali viral karena beliau yang terkenal di Mandar, padahal banyak wali-wali lain di Mandar yang tidak kalah hebat.

Bedah Buku Imam Lapeo

Ada Miftah, mahasiswi S2 yang konsen dengan “Gender” ini menanyakan tentang dukungan Imam Lapeo pada Andi Depu, seorang pejuang perempuan kini beliau termasuk sebagai pahlawan di Indonesia, kemudian bagaimana relasi perempuan dan laki-laki bagi Imam Lapeo. Kami tegaskan bahwa Imam Lapeo merupakan guru spiritual Andi Depu, di mana Imam Lapeo merupakan tempat Andi Depu meminta saran dan pendapat dalam menyusun strategi untuk melawan penjajah.

Aswad dari Mamuju yang sering bersama sepupu kami, kiai muda, Multazam kembali membuka cerita di masa kecil kami tentang kisah sumbangan semen seratus (100) sak yang menghebohkan bukan hanya di Lapeo, Mandar, Sulawesi Barat, namun se-Sulawesi. Bagaimana mungkin Imam Lapeo yang dulu semasa hidupnya adalah imam di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat membeli semen untuk pembangunan masjidnya di saat beliau telah meninggal.

Kami menjawab dengan dua versi. Versi pertama menurut nenek kami, Hj. Muhsanah Thahir, anak perempuan Imam Lapeo jika Aksa Mahmud seorang politisi datang ke Lapeo untuk didoakan menjadi orang di pusat (Jakarta). Ketika nenek kami selesai mendoakan, ia berjanji akan membantu pembangunan masjid Lapeo yang lagi diperbaiki. Tak lama kemudian, ia pun mengirimkan semen seratus (100) sak.

Versi kedua, dari adik  bungsu perempuan nenek kami, Hj. Marhumah Thahir yang mengatakan jika tiba-tiba ada truk penuh semen yang mencari alamat Desa Lapeo. Ketika sopir dan anak buahnya bingung akan menurunkan semen di mana, ia kemudian naik ke rumah Imam Lapeo. Di atas rumah, sopir melihat foto Imam Lapeo yang terpasang di dinding rumah, ia kemudian berseru, “Beliau yang membeli semen, beliau yang punya semen.”

Kemudian Yusuf bertanya lagi tentang genelogis keilmuan Imam Lapeo. Kami menjawab, peziarah-peziarah yang berziarah ke Lapeo merupakan peziarah-peziarah yang turun-temurun dan biasanya peziarah itu mengatakan keluarga mereka (kakek atau nenek) berguru pada Imam Lapeo. Lalu Dirham yang biasa datang ke Lapeo bertanya tentang fenomena berziarah di Lapeo secara tradisional dan modern. Lalu bagaimana eksistensi Imam Lapeo?

Bagi kami, tentu fenomena berziarah ini sangat berbeda bagi generasi di atas kami, dan atau di bawah kami. Ketika orang tua (lansia) datang biasanya karena keinginan mereka sendiri, anak muda biasanya karena suruhan, itu pun karena ingin berswa foto di lapeo.

Kemudian, hari ini Imam Lapeo tetap eksis, salah satunya dengan membedah buku ini. Kami juga memakai kaos bergambar Imam Lapeo, lalu di Lapeo sendiri disediakan “pernak-pernik” Imam Lapeo seperti gantungan kunci, mug, kalender, dan foto-foto Imam Lapeo yang biasanya dipajang di rumah-rumah penduduk.

Lalu Dipho, mahasiswa Pariwisata di Jogja itu mempertanyakan tentang wisata religi di Lapeo. Kami pun mengisahkan pengalaman kami ketika kami diundang oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sulbar untuk mengikuti Forum Grup Discussion (FGD) tentang konsep wisata religi di Lapeo yang menurut kami akan lebih jika tanpa banyak “rules” atau aturan karena wisata di Lapeo merupakan wisata spritual wilayahnya di batin.

Peserta Bedah Buku

Walaupun maksud dari Dinas Pariwisata adalah untuk menata Lapeo dengan menyediakan fasilitas-fasilitas seperti penginapan yang memang belum ada di Lapeo karena selama ini peziarah biasa menginap di rumah Imam Lapeo ataupun di masjid yang beliau bangun.

Kemudian, ada Aksan dari Pinrang yang mempertanyakan ajaran-ajaran Imam Lapeo. Bagi kami, ajaran Imam Lapeo seperti yang kami ketahui adalah zikir, ziarah kubur. Adapun pesan yang belum kami gali itu masih terdapat dalam manuskrip yang bertulis Arab Serang, dan lontara Bugis.

Selain itu, ada “Ada Pitu” (Tujuh Aturan) yang salah satu poinnya harus jujur. Lalu ada yang menanyakan nilai-nilai spiritual Imam Lapeo untuk hari ini, bagaimana penanamannya. Kami menjawab, nenek kami Hj. Muhsanah Thahir mengatakan jika Imam Lapeo berkata:

“Tania Appou mua indangi mappogau pisiona puang Allah ta’ala, appou tia mua mappogau pisiona puang Allah ta’ala.” Artinya, bukan cucuku jika ia tidak melaksanakan perintah Allah SWT, cucuku adalah orang yang melaksanakan perintah-Nya.

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berbobot di saat itu semuanya memiliki benang merah tentang ajaran hidup Imam Lapeo. Lebih-lebih ketika ada mempertanyakan tawasul yang dilakukan di Lapeo, berdoa kepada Allah dengan “dijembatani” oleh Imam Lapeo dengan mengirimkan beliau Al Fatihah.

Aku meminjam kata mutiara Leo Tolstoy, “Tuhan Tahu tapi Menunggu” ketika aku berdoa dan berharap di 2020 untuk bisa launching buku Imam Lapeo di Jogja, harapanku terjawab di 2022.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam acara ini; Maman pemilik Libertaria dan kru-krunya, terkhusus Naspa yang sudah masak ikan khas Mandar (Bau Peapi)—btw, sambelnya pedas.

Fattah, aku minta dibuatin sertifikat, ya. Adik-adik di kost Gowok. Teman-teman Mandar, Majene, Mamuju di Jogja, terutama Marding yang sudah men-share flayer bedah buku ini ke aku. Berlian yang semangat banget kuliah Antrop. Teman-teman baru dari berbagai asrama. Pak Dosen, Sam yang menyempatkan diri ikut hadir. Adik Ammoz tim suksesku, dan lain-lain.

Bedah Buku

Zuhriah
Latest posts by Zuhriah (see all)