Tumpukan Buku

Tumpukan Buku
©Lokasena

Terlepas dari ingatan masa lalu, saya kembali tersadar, lalu duduk berhadapan dengan tumpukan buku itu.

Sudah hampir dua bulan ini saya merasa ada yang berbeda dengan Eiden. Dia sudah jarang pulang dengan alasan ada waktu lembur di tempat kerjanya. Jadinya ketiduran di sana. Kalau pulang pun sudah larut malam, di atas jam 12 malam – bahkan bisa lewat.

Kami berdua pun sering bertengkar hebat. Dan setelah dipikir-pikir dengan tidak harmonisnya lagi hubungan ini, saya dan Eiden akhirnya bersepakat untuk bercerai. Dimulai dari saya yang sudah dari awal telah menaruh curiga ke Eiden dari sikap dan tingkah lakunya.

Setelah berpisah dengan Eiden, saya seperti menjadi seorang pengembara di tengah padang pasir dan tak tahu arah jalan untuk menuju ke mana. Saya betul-betul kehilangan arah untuk selanjutnya mau melangkah ke mana.

Saya dengan Eiden resmi bercerai dari buah pernikahan kami yang belum cukup lama, tiga tahun tahun usia pernikahan kita berdua. Perceraian ini adalah langkah baik untuk masing-masing. Bagaikan satu tamparan keras dalam hidup saya selama ini.

Namun, saya tidak mau berlama-lama dengan situasi dengan ketidakpastian seperti ini. Hampir setahun saya terkatung-katung menjalani hidup pasca-perceraian itu. Eiden sudah pergi.

Dan kepergian Eiden membuat saya harus memulai semuanya dari awal kembali. Terakhir dari pertemuan kami, Eiden berkata, “Ini keputusan yang terbaik buat kita berdua,” sambil mengembuskan napas panjang.

“Kita berpisah dan kamu jaga diri baik-baik, ya,” lanjutnya.

“Hmm, iya. Kamu juga jaga diri baik-baik.” Saya pun menyampaikan itu ke Eiden dengan penuh sesak di dalam dada. Seakan tidak menyangka dengan apa yang sudah terjadi.

“Ah, sudahlah,” ucap saya dalam hati. Bahwa yang terjadi biarlah berlalu seiring waktu.

***

Tiba-tiba saya teringat dengan sebuah tempat yang dulu pernah saya tinggali sewaktu masa-masa kuliah dulu sebelum menikah dengan Eiden. Sebuah kamar kos berukuran tidak begitu luas, yang di dalamnya hanya ada buku-buku yang pernah saya beli dan baca.

Kamar itu sudah saya tinggalkan tepat dua tahun yang lalu. Kabar terakhir yang saya dengar bahwa kamar itu belum ditempati oleh siapa pun selepas saya pergi. Akhirnya, saya putuskan untuk besoknya pergi ke sana, ke Bandung tepatnya.

Kesempatan ini juga saya manfaatkan untuk pergi menemui kawan-kawan lama yang pernah berjuang bersama menaklukan berbagai macam dinamika dan misteri ketika saat itu kami begitu seriusnya menyelami lautan ilmu pengetahuan.

Dan tak lupa pula tempat-tempat penuh kenangan manis dan pahitnya perjuangan itu satu per satu saya datangi. Saya pun menghabiskan waktu selama lima hari lalu-lalang sebelum ke tujuan utama yakni ke kamar kos yang berukuran kecil itu.

Di hari keenam setelah saya keluar dari rumah barulah saya pergi ke tempat itu—kamar itu—yang ada tumpukan buku-buku itu.

Saya pun tiba, suasana kosan tidak jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu saat saya terakhir kali melihat tempat ini. Yang berubah hanya penghuni kamarnya yang sedari tadi saya lihat keluar masuk dari kamar-kamar mereka.

Di kosan ada sepuluh kamar dan merupakan kosan elite (sebutan untuk kos yang terlihat bagus dari bahan bangunan dan sarana kosnya).

Saya sengaja tidak berkomunikasi dengan pemilik kos tentang lanjut atau tidak untuk ngekos di sini setelah pergi dari sini dua tahun yang lalu itu. Karena bagi saya ini tempat yang sesuai untuk menyimpan buku-buku ini, yang semuanya adalah harta karun untuk bisa menjadi modal menjelajahi dan menemukan rahasia kehidupan ini.

Dan di satu sisi di antara tumpukan buku-buku itu sebagiannya adalah milik Ayah yang saya bawa dari Jakarta ke sini.

Si pemilik kosan juga tidak pernah ambil pusing untuk menghubungi saya untuk mempertanyakan mau lanjut atau tidak untuk ngekos, tidak tahu apa alasannya-mungkin karena si pemilik kos tahu bahwa saya akan kembali lagi ke sini suatu saat nanti.

Saya punya hubungan baik dengan pemilik kos ini, Marni namanya. Anak kosan sering memanggilnya Ibu Marni, termasuk juga saya. Kebetulan saya berteman baik dengan anak gadisnya, namanya Anggi, karena kita berdua satu kampus. Satu jurusan dan seruangan kelas pula. Sehingga saya sering diajak main ke rumah, baik oleh Bu Marni maupun si Anggi.

Mereka sangat baik kepada saya. Bahkan saya sering diminta untuk menemani Anggi tidur dan menjaga rumah ketika Bu Marni dan suaminya sedang pergi keluar kota. Kebetulan di antara semua penghuni kos cuma saya sendiri yang kuliah. Sedangkan yang lain sudah pada kerja.

Sebelum saya keluar dan pergi dari kosan ini, untuk kembali ke Jakarta saat kuliah sudah diselesaikan, saya meminta izin ke Bu Marni untuk barang-barang yang di dalam kamar termasuk buku-buku yang ada saya titip.

Dengan senang hati Bu Marni memberikan izin—bahkan ia mengatakan tidak usah memikirkan biaya sewa kamarnya. Dengan dalih anggap saja barang-barang itu seperti  milik si Anggi. Dan Bu Marni menyuruh saya untuk membawa kuncinya.

Pagi-pagi sekali, saya pun ke rumah untuk pamitan sama Bu Marni, suaminya, dan tentu juga Anggi yang mereka semua sudah saya anggap keluarga sendiri. Dengan janji saya akan kembali lagi, tapi waktunya tidak bisa dipastikan kapan. Kami pun berpisah.

Dan betul pada hari ini, jam ini, detik ini, saya datang lagi ke sini untuk bersua kembali dengan mereka. Dengan tujuan utama saya yaitu ingin melihat barang-barang dan buku-buku saya untuk membuka kembali bacaan-bacaan lama.

Membaca adalah aktivitas yang sudah saya lakukan dari kecil sebagai seorang perempuan. Yang hari ini sudah jarang dilakukan seorang perempuan yakni baca buku.

Suatu aktivitas yang memerlukan ketenangan pikiran, dan menjauhi gejolak perasaan (hati) dalam dirinya. Saya punya kerinduan tersendiri dan teramat sangat dengan buku-buku ini.

***

Memori lama saat masa-masa kecil saya pun muncul ketika yang pada masa itu Ayah masih hidup dan menemani hari-hari saya. Saya sangat dekat dengan Ayah. Dia adalah segalanya dalam hidup saya. Sejak berumur 1 tahun, Ibu saya sudah meninggal.

Akhirnya Ayahlah yang merawat, menjaga, dan mendidik saya sampai dewasa. Segala tentang saya, dengan pasti Ayah sangat tahu. Ayah berperan ganda yakni sebagai dirinya sendiri dan sebagai Ibu dalam menjaga saya setelah Ibu tiada.

Pagi itu, saya diajak oleh almarhum Ayah saat usia saya 13 tahun untuk pergi jalan-jalan. Kita berdua tiba di suatu tempat yang dulu di abad-19 pernah menjadi kantor pusat administrasi pemerintahan Hindia Belanda di masa-masa penjajahan, sekarang sudah menjadi pasar tradisional.

Di pasar tradisional ini ada satu tempat favorit Ayah yang selalu didatanginya, baik itu ketika mengajak saya atau pergi sendiri untuk memenuhi kemauan dari hobinya membaca buku.

Di toko buku berukuran kecil inilah Ayah saya selalu membeli buku-buku yang ada untuk dibawa ke rumah lalu dibaca. Buku-buku dalam toko buku ini adalah buku-buku lama yang sudah susah didapatkan di tempat lain.

Dalam sehari Ayah saya selalu menggunakan waktu istirahatnya untuk membaca tiap-tiap buku yang sudah dibelinya. Ada kurang lebih 2 jam dia gunakan untuk menyelesaikan bacaannya. Sering juga setelah selesai membaca, Ayah selalu mengajak saya untuk berbicara.

Dari pembicaraan itu terselip juga beberapa pertanyaan mendasar dari Ayah ke saya dan mengajak saya bincang-bincang yang Ayah sesuaikan dengan kapasitas berpikir saya yang saat itu masih anak-anak.

Belakangan baru saya ketahui bahwa padahal itulah cara Ayah mengajak saya berdiskusi. Pikiran-pikiran saya perlahan diaktifkan oleh Ayah. Saya tumbuh menjadi perempuan yang hobi membaca yang tertular dari sang Ayah.

Pernah di suatu sore yang langitnya berwarna kemerah-merahan, saya mengeluarkan pertanyaan ke Ayah yang itu untuk pertama kalinya saya tanyakan.

“Kenapa Ayah tidak mau menikah lagi setelah Ibu meninggal?”

Ayah pun menjawab, “Sudah cukup rasa kasih dan sayang Ayah berikan ke seorang perempuan yang itu Ibu kamu, An.”

“Lagi pula sekarang sudah ada kamu yang menenami hari-hari Ayah nanti, dan juga buku-buku yang dipunya,” lanjut Ayah menanggapi pertanyaan saya.

Ayah pun memandang dengan dalamnya ke langit yang indah itu. Kami berdua pun berbincang banyak hal dan menikmati suasana tenang sampai malam mengakhiri semuanya di sore itu.

Ada satu momen yang sangat berkesan—di mana momen itulah yang membuat saya sampai jatuh cinta dengan yang namanya buku dan dunia membaca. Di mana waktu itu karena Ayah lupa membawa buku yang sudah ia beli di toko buku saat kami berdua sudah sampai di rumah yang membuat Ayah terpaksa harus kembali untuk mengambilnya.

Namun, di tengah perjalanannya, dia mengalami kecelakaan saat sudah dalam perjalanan pulang ke rumah. Ayah sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong. Ayah pun meninggal dan menyusul Ibu ke surga-Nya.

Ayah meninggal dengan keadaan tetap memegang buku di tangannya. Saya pun hidup sendiri tanpa mereka berdua, Ayah dan Ibu.

Dari peristiwa masa lalu yang tragis itu menjadikan saya sampai hari ini masih membaca. Karena Ayah saya dan atas nama pengetahuan. Itulah satu alasan dari sekian banyak alasan kenapa sebagai seorang perempuan harus membaca banyak pengetahuan dari berbagai sumber tanpa ada alasan tidak suka membaca.

Buku-buku milik Ayah menjadi peninggalannya kepada saya yang kemudian akan saya jaga dan akan terus saya baca.

***

Terlepas dari ingatan masa lalu saya itu kemudian saya kembali tersadar. Lalu duduk berhadapan dengan tumpukan-tumpukan buku itu. Saya pun mulai menjelajah buku-buku satu per satu.

Walaupun saya tahu semua tumpukan buku ini sudah pernah dibaca. Hanya untuk mengaktifkan bacaan-bacaan yang lalu-lalu. Saya cuma membaca judul-judulnya saja.

Saya menghabiskan waktu seharian penuh untuk melihat-lihat buku-buku itu sambil memasukannya satu per satu ke dalam kardus yang sudah saya siapkan. Sesekali saya berkesempatan untuk membaca beberapa buku sebelum dimasukkan—walaupun membacanya tidak selesai. Sebab, semua tumpukan buku ini telah sudah pernah saya baca.

Saat sedang asyik membaca, tiba-tiba terdengar ketukan pintu tepat di telinga sambil memanggil nama saya.

“Ana…, An…, Ana…”

Saya langsung bangkit dari duduk, lalu menuju pintu dan langsung membukanya.

“Eh, Ibu…”

Ternyata Bu Marni sudah berdiri tepat di depan pintu kamar saya dan yang tadi mengetuk pintu dan memanggil nama saya.

“Ada apa, ya, Bu?”

“Udah seharian aja kau di kamar, Ibu mau ajak kau makan.”

Memang sudah seharian penuh saya di kamar sampai lupa makan.

“Oh iya, Bu”

“Nanti saya nyusul ke rumah, ya, An.”

“Siap, Bu.”

Selepas ngobrol pendek, saya langsung kembali masuk dan mengunci pintu kamar dan lanjut membaca. Seharian itu saya memilih untuk tidak tidur sampai pagi, karena memang paginya saya sudah siap-siap pulang kembali ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, saya sudah punya tekad untuk menjalani kehidupan baru tanpa Eiden yang dulu pernah bersama. Dengan tumpukan buku-buku ini, saya siapkan untuk mengisi waktu luang dengan terus membacanya. Kalaupun pada akhirnya dari buku-buku ini pula bisa dijadikan modal untuk menulis kemudian.

Dan berharap pada akhirnya, saya akan dipertemukan dengan seseorang yang tepat—bukan sebagai pengganti Eiden, tapi seseorang yang bisa menemaniku sampai akhir hidup. Seperti cinta Ayah ke Ibu, saya, dan buku-bukunya.

Latest posts by Nardi Maruapey (see all)