Uang Panai’ Makin Meningkat: Kemajuan atau Malapetaka?

Uang Panai' Makin Meningkat: Kemajuan atau Malapetaka?
©Kompas

Istilah uang panai’ mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Ia kadang menjadi momok yang sangat menyeramkan, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, terlebih kepada kaum laki-laki yang mau menikah mengingat uang panai’ menjadi kewajiban yang harus dipenuhi oleh kaum laki-laki sebelum meminang kekasihnya.

Uang panai’ adalah mahar yang biasanya berbentuk uang atau duit untuk diserahkan kepada orang tua perempuan supaya anaknya bisa ia nikahi. Bicara soal pernikahan, tentu tiap daerah ada ciri khasnya masing-masing, termasuk soal uang panai’ sekalipun.

Mendengar uang panai’, terutama di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat adat Bugis, bukanlah sesuatu yang bisa disembunyikan lagi. Uang panai’ di daerah tersebut memang dikenal sangat tinggi, sehingga membuat para kaum laki-laki mesti berpikir dua kali jika ingin melamar perempuan Bugis. Bahkan tingkatan uang panai’ pun juga ada yang sangat dipengaruhi dengan kasta sosial masyarakat. Walau tidak semua uang panai’ orang Bugis itu mahal, namun konotasi itu sudah melekat hingga hari ini.

Sebenarnya bukan hanya di daerah Bugis, bahkan masyarakat Mandar pun termasuk di daerah saya juga mengalami hal demikian. Makin hari uang panai’ terus meningkat di kalangan masyarakat, bahkan seakan menjadi bahan perlombaan masyarakat.

Ketika ada perempuan yang ingin menikah dengan uang panai’ yang tinggi, pasti harga uang panai’ itu menjadi patokan ketika pernikahan selanjutnya ada lagi. Misalnya dulu uang panai’ dengan harga Rp20 juta menjadi patokan bahkan bisa kurang dari itu. Akan tetapi, uang panai’ makin melonjak dari kisaran Rp30-40 jutaan.

Itu disebabkan ketika ada orang yang menikah dengan uang panai’nya terus meningkat dan dijadikan bahan rujukan. Itu hanya uang saja ya, belum termasuk dengan biaya-biaya yang lain mesti juga dibawa oleh laki-laki saat melamar.

Walau kita tahu bahwa perkembangan dunia terus meningkat, tetapi apakah dengan uang panai’ yang terus naik bisa dikatakan sebagai kemajuan dalam hal pernikahan? Apakah ekonomi masyarakat juga terus mengalami kenaikan di tengah maraknya krisis dan mahalnya harga kebutuhan hidup?

Mungkin bagi masyarakat yang berpunya tidak masalah kalau uang panai’ terus meningkat, tetapi tidak bagi masyarakat yang ekonominya pas-pasan. Jangankan untuk memenuhi target uang panai’ dengan harga tertinggi, pemenuhan kebutuhan hidup saja pun mengalami ngos-ngosan.

Baca juga:

Kondisi demikian bisa lebih memperburuk laki-laki masyarakat kelas bawah jika ingin menikah namun harus memenuhi target uang panai’ tertentu. Bisa jadi ia tidak mampu memenuhi target itu, namun di sisi lain ia sangat cinta dan ingin menikahi perempuan yang dituju. Alhasil bisa repot jadinya, kan?

Selain bisa memungkinkan kawin lari, laki-laki juga pasti akan berusaha untuk pinjam uang sana-sana demi mencapai target uang panai’ tersebut. Alhasil setelah menikah, mereka terbelit utang dan uang panai’ yang dipakai saat menikah hangus begitu saja hanya karena dengan mewahnya pernikahan di saat itu juga.

Mewahnya pernikahan tidaklah jadi soal, tetapi yang jadi masalah ketika pernikahan sangat mewah namun kemewahannya itu hasil dari utang sana-sani. Pasti akan kewalahan saat acara pernikahan selesai apalagi kalau pekerjaan pun tak bisa diandalkan untuk bayar utang, maka tambah pusinglah jadinya. Maka kondisinya akan seperti kata bang Haji Rhoma Irama, gali lubang tutup lubang.

Menurut hemat saya, lebih baik acara pernikahan konsep sederhana tetapi tidak berutang, daripada bermewah-mewah tetapi semuanya hasil dari ngutang. Mestinya kita tidak selalu memaksakan membawa sesuatu yang tidak sanggup kita memikulnya.

Lebih baik pula uang panai’ yang tinggi itu dipangkas untuk digunakan setelah menikah, bukan malah menyerahkan semua pada orang tua perempuan. Justru akan lebih mudah ketika ada sisa uang digunakan untuk usaha atau membangun rumah, daripada uang itu dihabiskan demi menargetkan uang panai’ yang tinggi.

Namun, kondisi demikian tentu butuh keberanian mendobrak budaya uang panai’ yang makin meningkat ini. Terlebih mesti ada kesepakatan kedua belah pihak antara laki-laki dan perempuan, serta kesepakatan orang tua laki-laki dan orang tua perempuan. Saya rasa ketika itu mampu terbangun, pasti semua akan merasakan kemudahan dan tidak ada yang terlalu terbebani.

Jadi, uang panai’ yang terus meningkat bisa jadi malapetaka bagi laki-laki masyarakat golongan kelas menengah ke bawah. Di sisi lain ketika laki-laki sudah sangat ingin menikah, namun uang panai’ terus meningkat dan kondisi ekonomi tidak memungkinkan. Alhasil, hal-hal yang tak diinginkan pun bisa saja terjadi dan dapat berujung pada malapetaka.