Uji Iman dengan Ular Berbisa

Uji Iman dengan Ular Berbisa
©Them That Follow

Film ini mewakili karakter negara bagian West Virginia yang masih melegalkan aktivitas serpent-handling, atau penggunaan dan penanganan ular berbisa oleh pihak gereja.

Bagi penyuka topik pertentangan ajaran agama dan sains, film Them That Follow (2019) cukuplah mewakili diskursus tersebut. Film ini ambil bagian dalam Festival Film Sundance pada 27 Januari 2019 yang lalu. Cukup bagus sebagai film yang bersutradara debutan.

Film ini dibintangi Walton Goggins (Lemuel Childs), Olivia Colman (Hope), Kaitlyn Dever (Dilly), Alice Englert (Mara) Jim Gaffigan (Zeke), Walton Goggins, Lewis Pullman (Garret), dan Thomas Mann (Augie). Berdurasi 1 jam 38 menit. Cukup menguras pikiran dengan plot-plot padatnya yang rata tersebar.

Apalagi bagi pemirsa yang tertarik dengan konsep The Law of The Instrument ala “Palu Maslow”, akan mendapatkan intisarinya dalam film ini. Pesan dari “Palu Maslow” adalah cukup sederhana. Yaitu, hendaknya memiliki sejumlah peralatan dan kemampuan yang sesuai untuk menyelesaikan sebuah masalah.

Jenis dan jumlah peralatan tentu berbeda antar tiap lingkup bidang pekerjaan, tiap wilayah geografis, dan bahkan tiap kegiatan yang spesifik. Sering kali diperlukan peralatan yang berbeda juga untuk kegiatan yang berbeda (kadang-kadang bahkan untuk kegiatan yang sama). Mengandalkan dan bersandar hanya pada satu peralatan (sarana) saja bisa mendatangkan kesulitan dan bahkan bahaya.

Konsep “Palu Maslow” yang dibawa oleh Pastor Lemuel Childs (Walton Goggins) dalam film ini terlihat begitu jelas. Itu ketika ia menyelesaikan masalah hanya dengan menggunakan satu sudut pandang saja (Alkitab). Tanpa memberikan kesempatan kepada sains (ilmu kedokteran) untuk menyelesaikan korban gigitan ular berbisa.

Konsep “Palu Maslow” yang hantam kromo terlihat saat membuat kesalahan-kesalahan fatal dalam menafsir isi Alkitab dengan harfiah telanjang. Termasuk metode penyembuhan dalam film ini yang dilakukan oleh Pastor Lemuel Childs (Walton Goggins) terhadap anak kecil yang menderita asma hanya dengan memegang kepalanya dan berdoa saja.

Carut-marut tersebut berujung pada sebuah pepatah: jika yang Anda miliki adalah palu, semuanya tampak seperti paku.

Skenario film yang bergenre thriller ini menjadikan ular sebagai deus ex machina alam yang sangat otoriter. Menakutkan yang berperan dalam pembuktian keimanan dengan cara-cara yang fatal dan mematikan.

Debutan duo sutradara, Poulton dan Savage, dalam film Them That Follow ini sebenarnya tidaklah terlalu memaksa pemirsa mendiskreditkan dogma-dogma agama yang sekiranya bertentangan dengan sains. Film ini menghormati keyakinan mereka.

Setidaknya, memberikan ruang berpikir kepada pemirsa tentang ketulusan keyakinan mereka. Di mana ada sebagian umat Kristiani yang masih percaya bahwa membawa ular, meminum bisa ular, dan menyulutkan api ke badan adalah perintah agama.

Latar perdesaan dipadu dengan pemandangan alam pegunungan Appalachian yang sejuk dan segar, memberi selingan kepadatan plot. Beberapa kali juga ditampilkan sentuhan yang sifatnya kilas balik dengan penampilan sebuah latar bekas reruntuhan Gereja Ular di Pegunungan Appalachian yang sudah ada lebih dari seratus tahun lalu.

Diperkirakan ada 125 gereja yang pernah menggunakan ular berbisa sebagai bagian ritualnya. Namun, aktivitas seperti itu sudah mengalami penurunan.

Film ini juga mewakili karakter negara bagian West Virginia yang masih melegalkan aktivitas serpent-handling, atau penggunaan dan penanganan ular berbisa oleh pihak gereja (snake handling church). Semua itu diilhami oleh ayat Alkitab Markus 16:18: Mereka akan mengambil ular, dan jika mereka minum racun yang mematikan, itu tidak akan menyakiti mereka.

Paham ini menumbuhkan Gereja patriarkal yang antisains, terutama mengenai gigitan ular beracun yang mereka yakini tidak akan membahayakan orang-orang yang telah diurapi Tuhan. Termasuk untuk melawan kutukan, orang-orang percaya harus menguji kasih Allah dengan ular yang mematikan.

Model-model penyelesaian fatal ala keyakinan ini bukan barang baru. Dalam sebuah karya sastra, alkisah, di masa Daulah Abbasiyah, seorang wanita bernama Zainab mengaku bahwa dirinya adalah cucu nabi Muhammad SAW. Itu terjadi tepat ketika Khalifah Al Mutawakkil menjabat sebagai kepala negara.

Untuk mengujinya, datanglah Ali Al Hadi sebagai turunan asli keluarga Nabi. Ia berkata: sesungguhnya jasad keturunan Fatimah tidak akan dimangsa oleh hewan-hewan buas. Ali Al Hadi membuktikannya dengan dilemparkannya ia ke tengah kerumunan hewan buas itu.

Enam ekor singa yang ada di dalam kandang itu mendekati Ali satu per satu. Dengan lembut, tangan Ali membelai kepala singa-singa yang mendekatinya. Binatang-binatang buas itu, di hadapan Ali Al Hadi, menjadi jinak dan penurut.

Begitu melihat Ali keluar dari kandang dengan selamat, dan dilihatnya dengan mata kepala sendiri, akhirnya Zainab pun hanya terdiam seribu bahasa. Ia mengakui kebohongan yang selama ini ia desuskan, hingga Zainab berjuluk Zainab Al Kadzaabah.

    Yudho Sasongko

    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)