Umar Abdullah Assegaf dan Kesalehan Seseorang

Umar Abdullah Assegaf dan Kesalehan Seseorang
©Line

Saya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Nabi Muhammad SAW melihat orang yang mengeklaim dirinya keturunan nabi, tapi bertindak brutal dan arogan, mengeluarkan kata-kata kasar kepada petugas negara. Seperti yang dilakukan Umar Abdullah Assegaf, pengasuh Majelis Roudhotus Salaf, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

Seperti yang pernah saya sampaikan dalam tulisan terdahulu, pakaian seseorang bukan penanda keimanan dan kesalehan. Ini terbukti dicontohkan oleh Umar Abdullah Assegaf. Meskipun dia berpakaian gamis ala pakaian Arabia, ternyata tidak menjamin akhlaknya seputih gamis yang dikenakan. Alih-alih mencoba meniru cara berpakaian Nabi Muhammad SAW, dia justru lupa meneladani akhlak dan perilaku nabi yang lembut dan penuh kesantunan.

Umar Abdullah lupa, Abu Lahab dan Abu Jahal juga berpakaian serupa nabi, tapi akhlaknya berbanding terbalik 180° dari akhlak Nabi Muhammad SAW yang penuh kemuliaan. Karena jelas pakaian orang beriman yang paling hakiki adalah ketakwaan, akhlak yang baik. Juga, perilaku santun dan tawadhu, hati yang bersih dan pikiran yang lurus. Bukan hanya terbatas pakaian fisik dan kelakuan buruk seperti dicontohkannya pada Rabu, 20 Mei 2020.

Di samping perilaku kasar dan brutal, cara berpikir Umar Abdullah Assegaf juga sangat menyesatkan. Dia bilang hanya orang yang tidak salat yang akan terpapar Covid-19. Logika sesat ini sangat berbahaya kalau ditularkan dan diyakini para jemaahnya. Ucapannya ini secara tidak langsung juga merupakan penistaan bagi korban terpapar Covid-19, baik yang masih dirawat maupun yang meninggal.

20 ribu lebih orang yang positif Covid-19 dan 1.200 orang lebih yang meninggal, termasuk para tenaga medis. Sebagian besar mereka juga umat Islam yang taat beribadah. Ucapan dan logika sesat Umar Abdullah Assegaf sangat melukai hati keluarga para korban. Di sisi ini, dia tidak layak disebut sebagai ulama yang menjadi panutan.

Peristiwa memalukan yang dilakukan oleh Umar Abdullah Assegaf adalah contoh terbaik bahwa dalam beragama kita harus mengedepankan ketulusan, budi pekerti, karakter humanis, dan akal sehat. Bukan sekadar terbatas secara simbolik dengan menunjukkan cara berpakaian atau merasa keturunan Nabi Muhammad SAW. Cara berpakaian dan keturunan siapa tidak menjamin apa-apa.

Seorang Pak Karto Kamijan, petani desa dari daerah Gunung Kidul, hanya dengan berpakaian batik sederhana dan sarung lusuh, tapi mempunyai sifat humanis, tawadhu, dan bertutur kata sopan, akan mendapat penghormatan tinggi dari saya dan kita semua. Daripada orang yang mengeklaim dirinya pemuka agama, pengasuh pondok pesantren, keturunan nabi, tapi berperilaku riya’, arogan, kasar, dan semena-mena.

Terakhir, aparat keamanan negara harus tegas dan tidak boleh ragu-ragu menindak keras para pelanggar aturan dan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Kelakuan busuk mereka bukan hanya membahayakan diri mereka sendiri, tapi juga berpotensi besar mengorbankan keselamatan orang lain.

Kepekokan dan kebebalan ternyata bukan monopoli orang-orang yang berkerumun di pasar-pasar dan yang berburu pakaian lebaran di mall-mall. Hmmm…

*Rudi S Kamri

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)