UNESCO Soroti Pentingnya Solidaritas Global dalam Visi Pendidikan 2050

UNESCO Soroti Pentingnya Solidaritas Global dalam Visi Pendidikan 2050
©Maarif Institute

Ulasan Pers – MAARIF Institute for Culture and Humanity bersama dengan Institut Leimena, dan didukung oleh Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, LP2 PP Muhamadiyah, RBC Institute A Malik Fadjar, serta Templeton Religion Trust, kembali menyelenggarakan Webinar Internasional yang mengangkat tema “Visi Pendidikan UNESCO dan Peran Madrasah dalam Mengokohkan Solidaritas Kemanusiaan” pada Kamis, 11 Maret 2022 malam, yang merupakan rangkaian dari program “Literasi Keagamaan Lintas Budaya.”

Saat ini UNESCO tengah menyoroti pentingnya solidaritas global dalam visi pendidikan dunia tahun 2050, dengan diterbitkannya dokumen visi pendidikan 2050 “Reimagining Our Futures Together” yang diluncurkan pada 10 November 2021 lalu. Pendidikan disadari harus mampu bertransformasi seiring dengan tantangan umat manusia yang semakin kompleks, utamanya di masa pandemi Covid-19.

Tidak ada kekuatan transformatif yang lebih kuat daripada pendidikan. Di mana pendidikan dimaksudkan untuk memajukan hak dan martabat manusia, mendasarkan pada persamaan hak dan keadilan sosial, penghormatan terhadap keragaman budaya, dan solidaritas internasional serta tanggung jawab bersama.

Hal ini merupakan aspek fundamental, yang mengharuskan kita untuk melihat kembali tatanan pendidikan di dunia yang terus-menerus berubah. Sehingga pendidikan adalah kunci utama pendidikan global dalam pembangunan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali, mengingatkan bahwa pendidikan madrasah harus dirancang dengan prinsip profesionalisme, mendalam, saling terhubung, kerja sama, kesetaraan, dan inklusi.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menambahkan salah satu kunci untuk menghadapi tantangan global ke depan seperti digambarkan UNESCO adalah solidaritas kemanusiaan yang kokoh, saling memahami, dan menghormati, serta bekerja sama dengan orang yang berbeda.

Dalam pidato kuncinya, Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), menyampaikan:

“UNESCO telah menempatkan pendidikan sebagai kunci dalam kemajuan sebuah bangsa, di samping kesehatan. Keduanya, kesehatan dan pendidikan ibarat dua sisi mata uang yang satu sama lain saling menguatkan.”

Baca juga:

Selanjutnya Muhadjir Effendy mengatakan PBB melalui UNESCO telah mencanangkan 4 pilar pendidikan, yaitu learning to be, learning to know, learning to do, dan learning to live together.

Beliau menjelaskan bahwa pendidikan di Indonesia telah dimulai sejak sebelum kemerdekaan berupa lembaga pendidikan tradisional berbasis agama. Pondok pesantren muncul sebagai pendidikan berbasis agama Islam di kantong-kantong perjuangan sekaligus menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah.

“Indonesia dengan realitas kehidupan aneka ragam, termasuk agama, adalah ciri atau karakter bangsa. Di situ dituntut kesediaan toleransi, saling menghargai, dan tenggang rasa. Maka muatan berkaitan semangat inklusif yang diprakarsai lembaga pendidikan keagamaan termasuk madrasah, menjadi sangat penting,” kata Muhadjir kepada lebih dari 1.100 peserta webinar.

Sementara itu, Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, Ismunandar, mengatakan visi pendidikan 2050 menggarisbawahi kebutuhan akan solidaritas global. Ismunandar mencontohkan ancaman kepada bumi karena eksploitasi kebutuhan dan gaya hidup manusia.

“Saat ini dibutuhkan 1,6 bumi atau hampir 2 bumi untuk memenuhi jejak karbon manusia,” ujarnya.

Masalah lainnya adalah turunnya demokrasi dan bangkitnya supremacism dan chauvinism. Di samping itu, kesenjangan digital menghambat akses kepada pendidikan terutama saat pandemi, serta munculnya kecerdasan digital yang diprediksi bisa menghilangkan banyak pekerjaan di dunia.

“Semua ini kuncinya adalah bagaimana solidaritas global. Sudah disadari banyak problem kehidupan manusia yang membutuhkan solusi bersama-sama seluruh penduduk bumi,” lanjut Ismunandar.

Ismunandar mengatakan visi pendidikan 2050 mendorong semua pihak menyusun kontrak sosial baru terdiri dari nilai dasar, desain pembelajaran, serta aktivitas dan pelaku. Ini adalah dokumen ketiga setelah Learning to be: the world of education today and tomorrow (1972) dan Learning: the treasure within (1966).

Halaman selanjutnya >>>