Ungkapan “Selamat Natal” Bukan Syarat Pindah Agama

Ungkapan “Selamat Natal” Bukan Syarat Pindah Agama
©Pinterest

Di penghujung tahun, tepatnya di akhir Desember menjelang natal, Indonesia selalu digemparkan dengan problematika sederhana namun memelik, yaitu preihal hukum seorang muslim yang mengucapkan “Selamat Natal” bagi Kristiani.

Setiap tahun, problematika tersebut dikaji secara mendalam oleh Majelis Ulama Indonesia. Namun, hingga detik ini, permasalahan tersebut tak kunjung usai. Selalu terdapat perbedaan pendapat antara Majelis Ulama Indonesia dengan organisasi keagamaan lainnya.

Polemik hukum pengucapan natal bahkan dianggap sebagai tradisi yang “harus ada” sebagai kenangan penutup tahun. Tak lupa, tradisi penyebaran broadcast tahunan turut memanaskan keadaan yang juga tak kunjung dingin. Broadcast yang dikirimkan dari tahun ke tahun berisi pesan yang sama. Broadcast tersebut tersebar luas melalui media sosial, yaitu WhatsApp.

Ungkapan “Selamat Natal” Bukan Syarat Pindah Agama
Ungkapan “Selamat Natal” Bukan Syarat Pindah Agama

Dalam percakapan tersebut, membandingkan antara ucapan Selamat Natal dengan pengucapan kalimat syahadat. Dari segi kesakralan, perbandingan tersebut tidaklah memiliki bobot yang seimbang untuk dibandingkan.

Syahadat merupakan kalimat yang sangat sacral, bahkan dianggap sebagai kunci dalam beragama Islam. Sebab, kalimat syahadat merupakan syarat mutlak manusia memeluk agama Islam. Dengan pengucapan kalimat syahadat disertai 2 orang saksi yang adil, akan menjadikan seseorang tersebut berpindah keyakinan menjadi seorang muslim. Setelah pengucapan 2 kalimat syahadat, maka kewajiban-kewajibannya sebagai Hamba Allah SWT harus dilaksanakan dengan keimanan dan keikhlasan.

Sedangkan untuk bobot pengucapan “selamat natal”, hanya bisa dibandingkan dengan pengucapan “Selamat Ulang Tahun” bagi yang sedang berulang tahun. Sebab, hanya dengan pengucapan natal, tidak dapat memengaruhi keyakinan seseorang, termasuk perpindahan agama dari agama Islam menjadi agama Kristen.

Seperti halnya pengucapan selamat ulang tahun, dengan kita mengucapkan Selamat Ulang Tahun, maka tanggal, bulan, dan tahun lahir kita pun tidak akan berubah sama seperti dengan orang yang sedang berulang tahun. Maka, apabila kita mengucapkan selamat natal, maka keyakinan kita tidak akan sama seperti yang sedang merayakan natal. Sebab, ucapan selamat natal bukanlah syarat untuk masuk ke dalam agama Kristen.

Syarat berpindahnya dari agama Islam ke agama Kristen adalah melewati jalan pembaptisan. Seperti yang telah tertulis dalam kitab Injil surat Roma ayat 3-4, pembaptisan disebut sebagai pelambangan Yesus. Pembaptisan dilakukan dengan cara orang yang dibaptis dimasukkan ke dalam air diibaratkan telah mati. Ketika ia keluar lagi dari air, diibaratkan seperti kebangkitannya kembali, menjadi manusia yang suci tanpa dosa.

Baca juga:

Dalam tradisi kasus ini, tidak ada kubu yang salah dan tidak ada kubu yang benar. Benar atau tidaknya merupakan sebuah keyakinan setiap pribadi manusia masing-masing. Apabila Anda merasa dengan mengucapkan natal kepada kristiani dapat menggangu keyakinan Anda, bahkan membuat Anda merasa kehilangan keyakinan, maka sebaiknya jangan ucapkan.

Namun, apabila Anda merasa pengucapan natal tidak menggoyahkan Iman Anda, maka tidak ada yang melarang. Dan Allah SWT mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan (Q.S An Nahl: 19).

Namun perlu saya tegaskan sekali lagi, bahwa syarat yang dilakukan untuk menjadi pemeluk agama Kristen adalah pembaptisan, bukan dengan pengucapan Selamat Natal. Mengucapkan selamat natal bukanlah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Pengucapan natal merupakan bentuk menghargai keberadaan hari raya selain Islam.

Dalam kasus ini, tidak ada pihak yang salah. Karena setiap manusia memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Yang menjadi permasalahan dan bersalah adalah ketika antara satu dengan yang lain saling menyalahkan dan menjatuhkan. Misalnya pihak yang mengucapkan natal men-judge yang tidak mengucapkan natal sebagi seorang yang intoleran. Juga bagi yang tidak mengucapkan natal, menilai bahwa yang mengucapkan sebagai seorang yang kafir, bahkan murtad.

Indonesia adalah kegara kepualauan yang memiliki ribuan pulau dengan keanekaragaman ras, budaya, hingga agama. Secara resmi, terdapat 6 agama yang diakui, yaitu Islam sebagai agama dengan pemeluk terbanyak, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu.

Setiap manusia memiliki hak untuk memeluk suatu agama, dan setiap agama memiki hak untuk menjalankan ibadahnya masing-masing. Maka, perlu adanya toleransi dan pengakuan agama lain beserta dengan hari raya hingga tempat ibadah.

Mari bersatu membentuk Indonesia yang lebih baik, dengan tanpa membeda-bedakan bahkan menghina agama lain. Sebab, Indonesia merupakan wadah perkembangan keyakinan. Dengan adanya Indonesia, dapat berkembanglah agama.

Baca juga:
Nurul Malahayati
Latest posts by Nurul Malahayati (see all)