Untuk Dia Perempuanku; Rifda Ode Adu

Untuk Dia Perempuanku; Rifda Ode Adu
©Dok. Pribadi

Untuk Dia Perempuanku; Rifda Ode Adu

Aku ingin menulis, tentang seseorang yang begitu istimewa dalam hidup. Dia yang begitu kuat menahan leleh dalam kerapuhan. Hampir tak ada kata-kata yang mampu menuliskan semua cinta yang ia berikan.

Ya, dialah perempuanku, perempuan hebat dan istimewa setelah ibu. Rupanya? Tak perlu ditanya; cantik dan menawan begitu sejuk ketika dipandang.

Seperti selarik puisi yang bermakna, dia adalah kata-kata yang kaya akan cerita. Senantiasa selalu hidup dalam bait-bait aksara yang terus melompat-lompat dari waktu ke waktu. Dia adalah puisiku, hidupku hari ini, esok, dan seterusnya.

Menata kesemrawutan menempuh jalan hidup keabadian penuh duka lara. Setiap bait-bait yang ku rangkai lahir dari kemegahan dirinya. Itulah mengapa puisi bernyawa dirinya.

Sejak awal, pertemuan kita tak begitu sempurna. Begitu juga dengan cara yang ditempuh untuk berikrar menjadi satu; jauh dari kata sempurna. Tetapi, hadirnya adalah manifestasi Tuhan yang ku yakini bahwa, inilah hadiah terindah selama kata cinta terucap. Aku mungkin bukan orang yang punya segalanya, dan jauh dari keistimewaan.

Namun, bersamanya setiap kekurangan telah ia penuhi dengan bangunan cinta yang begitu megah. Laksana cahaya, yang menerangkan setiap sudut kegelapan.

Orang-orang sering menyapanya dengan panggilan yang beragam; Rifda, Sonya, Niar, Rain, Nia. Dan aku, terkadang memanggilnya dengan sebutan ‘Istri’ kenapa Istri? Ya, karena kita sudah menikah.

Tepatnya di tahun 2023, usia yang cukup belia bagi rumah tangga. Suka duka, dan setiap kesulitan yang dihadapi, kami tetap menikmati itu. Penuh dramatis, seperti rumah tangga lainnya, kadang kala gemuruh ledakan gunung berapi harus hadir di tengah-tengah kami—mengasyikkan.

Dia terlahir dari desa kecil bernama Fitako. Desa yang termasuk teritorial wilayah kepulauan Loloda, yang terletak paling ujung pulau Halmahera. Senyumnya, tawanya sarat akan makna dan kecantikan orang-orang Halmahera yang sangat natural. Dari sanalah kecantikan alami yang ia peroleh. Penuh gelora dan kadang tegas dalam hal apa pun.

Ketika ia tertidur, aku sering memandangnya untuk beberapa lama. Sembari bertanya-tanya, apakah dengan jalan hidup yang sangat terjal ia tetap kuat menahan itu? Dalam hati, aku sering membentak diri sendiri “suami macam apa kamu? Secuplik kebahagiaan saja tak bisa digapai”— kita berdua ingin yang terbaik, semuanya ingin yang terbaik.

Orang tua, Mertua, aku bahkan dia berharap semuanya bisa dijalankan dengan gembira. Namun, rasanya Tuhan menginginkan kami untuk tetap tangguh, dengan menyelipkan segala ujian dan tantangan.

Kadang mendung sengaja mewarnai langit dengan menolak secercah cahaya mentari. Menampakkan segudang tanda tanya dan keluh kesah—tentang hari ini, esok dan nantinya. Laksana bumi yang gersang, setiap simbol kemurungan itu tersusun rapi dalam kepala dan dada yang pasrah.

Sulit rasanya menerima kenyataan ini, tetapi faktanya kami masih terjebak dalam labirin kehidupan. Membuat kita berdua luntang-lantung mencari jalan pintas dan menjadi penyelamat. Di tengah semua kesulitan ini, rasanya tak ada yang bisa diharapkan, dalam batinku terus bertengkar dengan apa saja yang terpikirkan.

Aku tak tahu jalan mana yang harus diambil, apakah harus pasrah dan menyerahkan atau bangkit dan terus maju menentang rintangan apa pun. Tapi sejujurnya aku lelah dan ingin menyerah, tapi yang membuatku tak bisa menghentikan langkah untuk sedetik saja adalah harapan istriku, dan harapan besar orang tua.

Ya, aku tak tahu apa orang tua kami masih punya harapan besar yang dititipkan di pundakku atau tidak. Sebab, mereka telah hilang rasa percaya dengan hadirnya kekecewaan yang begitu besar. Olehnya itu aku terus menyusuri jalan setapak yang gelap mencari cahaya tuk keluar dari segala yang memberatkan dada, dan pikiran.

Halaman selanjutnya >>>
Fikram Guraci