Untuk Kristiani yang Tersinggung dan Berniat Laporkan si Somad

Untuk Kristiani yang Tersinggung dan Berniat Laporkan si Somad
©Tribun

Tulisan ini ditujukan untuk kristiani yang tersinggung dan berniat laporkan si Somad. Datang dari Afi Nihaya Faradisa sebagai saran untuk tidak menindaklanjuti kasus ustaz yang dinilai menghina simbol salib tersebut.

“Untuk umat kristiani yang tersinggung dan berniat melaporkan Pak Somad ke polisi, saranku, JANGAN,” tulis Afi, Minggu (18/8).

Apa maksud Afi membawa saran semacam itu? Bukankah ujaran kebencian dan/atau penghinaan, apalagi terhadap agama di negeri ini, layak dipidanakan sebagaimana terhadap Ahok?

“Jadi begini,” tulis Afi. “Mungkin kalian akan menang di pengadilan, tetapi kalian sebagai minoritas akan makin tertekan dalam jangka panjang. Kalian yang akhirnya tetap kalah.”

Kok bisa?

“Karena yang kalian hadapi ini bukan umat dengan ajaran jika pipi kanan ditampar, kasih pipi kiri; jika mata dibalas mata, seluruh dunia akan buta; kasihilah musuhmu, karena dia tak tahu apa yang dia perbuat; atau ajaran yang tidak berdosa, silakan melempar batu untuk pertama kalinya.”

Ya, yang mereka (kristiani) hadapi, kata Afi, adalah umat yang sungguh berbeda. Mereka toh sudah tahu kalau umat yang akan dilawan itu punya sepak terjang yang luar biasa. Efeknya besar karena mereka mampu melakukan sesuatu yang tidak terduga sekalipun.

“Jika Pak Somad dipenjara, itu bisa jadi pembenaran bagi mereka untuk makin mengintimidasi para siswa beragama minoritas di sekolah atau di universitas. Bisa jadi pembenaran untuk melakukan diskriminasi, penolakan lebih jauh terkait izin mendirikan tempat ibadah. Dan serentetan bisa jadi-bisa jadi lain. Bukankah kalian juga sudah mulai merasakan kehadirannya sejak lama?”

Menurut Afi, langkah hukum yang salah akan berujung kemarahan. Kemarahan bisa jadi bibit dendam.

“Ingin tahu kekuatan sebuah dendam? Tengok kerusuhan 98. (Walaupun peristiwa tersebut latar belakangnya cukup kompleks).”

Pada akhirnya, yakin Afi, mereka jugalah yang akan kalah.

“Karena, ya, mau bagaimanapun, kalian tetap kalah jumlah. Pahit memang. Serbasalah memang. Tetapi beginilah dunia nyata, bukan utopia.”

Dalam banyak kasus, terang Afi, dunia cuma bisa dihadapi dengan langkah-langkah realistis, bukan dengan rumitnya kajian akademis.

“This time, you might lose the fight, but you can win the war. For your own good, let that Pak Somad go.”

Afi mengaku tidak bermaksud mengatakan kepada kaum kristiani agar tetap menahan diri, menjadi tempat sampah emosi bagi mereka yang tidak tahu ke mana harus melampiaskan hasrat untuk menghina. Ia pun tidak mengartikan saran tersebut agar mereka rela jadi keset yang terus diinjak-injak dari masa ke masa.

“Tidak, saudara-saudara tersayangku. Pikirkan ini sejenak. Hanya orang yang kakinya cacat yang akan tersinggung saat dikatain, ‘Dasar kaki cacat!’ Orang yang tahu bahwa kakinya baik-baik saja umumnya tidak tersinggung. Bahkan mungkin mereka cuma tertawa.”

Terlepas dari tidak etisnya melakukan penghinaan jenis apa pun kepada siapa pun di ruang publik, lanjut Afi, mereka harus tahu bahwa faktanya agama Kristen tidak hina, tidak cacat, dan tidak sesat.

“Kalian tahu persis. Benar, kan? Benar, kan, bahwa agama kalian TIDAK seperti yang dituduhkan?”

Maka, saran Afi, anggap saja si Somad ngelantur, menuduh tanpa dasar, kewarasannya patut “dipertanyakan”, karena dengan bangga mengoceh omong kosong yang tidak sesuai dengan realitas.

“Sehingga, apa sih yang bisa kita harapkan dari orang dengan KUALITAS seperti dia? Sekuat apa pun mencoba, kalian tidak bisa melatih seekor ular untuk berjalan tegak. Ular akan tetap merayap sampai kiamat.”

Jikapun dihina, pungkas Afi, itu tidak menunjukkan kualitas diri yang dihina, melainkan menunjukkan kualitas diri si penghina. Sedangkan kualitas diri yang dihina akan terlihat bagaimana yang bersangkutan meresponsnya.

Tetapi bagaimana jika mereka terus menghina?

“Jadi kamu berharap harimau tidak akan menggigitmu hanya karena kamu tidak menggigitnya? Biarkanlah harimau jadi harimau, sayang. Yang bertindak seperti harimau. Mengaum seperti harimau. Menjalankan hukum rimba seperti harimau. Tetapi kamu, tetaplah jadi manusia.”

Dan satu lagi, simpul Afi, dalam pertarungan antara 2 ego, yang mengalah akan selalu jadi pemenangnya. [fb]

Baca juga: