Untuk Perempuanku di Seperempat Abadmu

Untuk Perempuanku di Seperempat Abadmu
©Pinterest

Hari itu, 25 tahun yang lalu. Setelah sembilan purnama berlalu, di waktu subuh ibumu bertaruh ruh memperjuangkan kelahiranmu. Sedang ayahmu, perempuanku, berpeluh cemas didesak perasaan tak menentu menunggu di depan pintu.

Lalu tibalah momentum yang mereka tunggu. Tangis pertamamu melengking membawa haru bagi orang tua dan kerabatmu. Selamat datang di dunia, perempuanku.

Perempuanku, pertama harus kusampaikan permintaan maaf atas sajak singkat yang menggambarkan suasana kelahiranmu. Ya, karena sejujurnya aku tak benar-benar berada di sana ketika itu. Yang kulakukan sebenarnya hanya meminjam mesin waktu Doraemon untuk melakukan perjalanan. Melintas waktu kembali ke masa lalu untuk melihat proses kejadianmu.

Tapi tenang saja, aku sudah memintakan izin sebelumnya pada Doraemon kok. Meskipun pada awalnya si Doraemon ini enggan dan menolak membuka kantong ajaibnya. Namun syukurlah dia kemudian berubah pikiran setelah kurayu dengan menawarkan piring berisikan kue dorayaki sambil membungkuk. Sehingga badik yang kusarungkan di pinggangku terlihat sedikit muncul dari sela baju.

Sejurus kemudian, segera kupersiakan diri untuk memulai perjalanan menjelajah waktu dengan mesin pinjaman itu. Dan seperti yang kuceritakan di awal tadi, yang kutuju adalah momentum saat hari kelahiranmu 25 tahun yang lalu.

Harus kuakui, aku merasa puas dan terharu karena rasa keingintahuanku terjawab sudah ketika melihat proses kelahiranmu, perempuanku. Tapi di saat bersamaan, ada perasaan aneh lainnya yang timbul dalam benakku yang sebenarnya lebih mirip pertanyaan.

Hal ini berkaitan tentang apa sebenarnya makna dari peristiwa kelahiranmu? Kenapa pertambahan usia itu dirayakan?

Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini yang sebenarnya kuajukan sendiri, maka mau tak mau aku harus memperpanjang durasi peminjaman mesin waktu milik tokoh maskot kartun asal Jepang yang juga kau senangi itu.

Baca juga:

Untungnya konsekuensi perpanjangan peminjamannya tak begitu rumit jika dibandingkan dengan pengurusan tetek bengek riba di lembaga-lembaga peminjaman yang beralamat di tiang listrik atau tembok-tembok sudut gang. Jadi soal ini tak perlu kau risaukan perempuanku.

Lagi pula, bukannya mau hitung-hitungan budi, tapi memang si Doreamon ini sering mampir di kontrakan tanpa diundang. Itu saat akhir bulan untuk sekadar basa-basi dan memancingku mengobrol dengan harapan bisa joinan tembakau dan kopi.

Perempuanku! Permintaan maaf kedua kumohonkan karena di momen kelahiranmu hari ini tak ada hadiah berupa kado. Atau kejutan dengan kesan romantis yang bisa kuberikan sebagai ekspresi kegembiraan menjengkelkan layaknya remaja tanggung yang saling colek kue dan saling lempar tepung dan telur. Atau seperti mereka yang merayakan hari jadinya di tempat-tempat berkelas. Jadi mengertilah. Sebab nilai tukar rupiah makin rendah dan perekonomian juga sedang susah.

Selain itu, realitasnya kita memang tak bisa bertatap muka. Tapi tenang saja, karena aku punya cara berbeda mengatasi ini dengan mengajakmu berimajinasi lewat tulisan ini. Semoga saja kau berkenan menyelami. Jika kau tersenyum, berarti kuanggap itu sebagai “pengiyaan”.

Baiklah. Sebelum kujemput kau untuk turut bersamaku melakukan perjalanan waktu untuk mencari makna hari kelahiranmu, sebaiknya duduk atau berbaringlah dulu. Agar lebih rileks mendengarkan celotehku yang bawel ini. Lalu kita bisa memulai dengan menuju pada asal-usul perayaan hari kelahiran di kawasan Timur Tengah.

Konon kayaknya jauh ribuan tahun yang lalu, sebelum negara “api menyerang”, bangsa Mesir Kuno mengganggap hari saat Firaun memakai mahkota dan mengangkat dirinya sebagai dewa dipercaya sebagai hari penting yang terus dirayakan setiap tahunnya.

Sedangkan bangsa Yunani yang memperkenalkan tradisi lilin ulang tahun dengan mempersembahkan kue berbentuk bulan yang di atasnya dihiasi lilin untuk Artemis sebagai refleksi kecantikan cahaya bulan. Dan, sebagai awal kehidupan baru yang lebih bersinar.

Kemudian perayaan ulang tahun untuk masyarakat ‘biasa’ mulai berlaku pada bangsa Romawi. Meskipun pada era kekaisaran ini perempuan baru boleh merayakan pada abad ke-12. Hmm,, syukurlah kau lahir sebelum abad masa itu. Hampir saja kaisar menangkapku karena merayakan hari ulang tahunmu dengan tulisan ini.

Halaman selanjutnya >>>
Muhammad Al-Akram