Untuk Perempuanku di Seperempat Abadmu

Untuk Perempuanku di Seperempat Abadmu
Ilustrasi: NET

Hari itu, 25 tahun yang lalu. Setelah sembilan purnama berlalu, di waktu subuh ibumu bertaruh ruh memperjuangkan kelahiranmu. Sedang ayahmu berpeluh cemas didesak perasaan tak menentu menunggu di depan pintu.

Lalu tibalah momentum yang ditunggu. Tangis pertamamu melengking membawa haru bagi orangt ua dan kerabatmu. Selamat datang di dunia, perempuanku.

Perempuanku, pertama harus kusampaikan permintaan maaf atas sajak singkat yang menggambarkan suasana kelahiranmu. Ya, karena sejujurnya aku tak benar-benar berada di sana ketika itu. Yang kulakukan sebenarnya hanya meminjam mesin waktu Doraemon untuk melakukan perjalanan. Melintas waktu kembali ke masa lalu untuk melihat proses kejadianmu.

Tapi tenang saja, aku sudah memintakan izin sebelumnya pada Doraemon kok. Meskipun pada awalnya si Doraemon ini enggan dan menolak membuka kantong ajaibnya. Namun syukurlah dia kemudian berubah pikiran setelah kurayu dengan menawarkan piring berisikan kue dorayaki sambil membungkuk. Sehingga badik yang kusarungkan di pinggangku terlihat sedikit muncul dari sela baju.

Sejurus kemudian, segera kupersiakan diri untuk memulai perjalanan menjelajah waktu dengan mesin pinjaman itu. Dan seperti yang kuceritakan di awal tadi, yang kutuju adalah momentum saat hari kelahiranmu 25 tahun yang lalu.

Harus kuakui, aku merasa puas dan terharu karena rasa keingintahuanku terjawab sudah ketika melihat proses kelahiranmu, perempuanku. Tapi di saat bersamaan, ada perasaan aneh lainnya yang timbul dalam benakku yang sebenarnya lebih mirip pertanyaan.

Hal ini berkaitan tentang apa sebenarnya makna dari peristiwa kelahiranmu? Kenapa pertambahan usia itu dirayakan?

Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini yang sebenarnya kuajukan sendiri, maka mau tak mau aku harus memperpanjang durasi peminjaman mesin waktu milik tokoh maskot kartun asal Jepang yang juga kau senangi itu. Untungnya konsekuensi perpanjangan peminjamannya tak begitu rumit jika dibandingkan dengan pengurusan tetek bengek riba di lembaga-lembaga peminjaman yang beralamat di tiang listrik atau tembok-tembok sudut gang. Jadi soal ini tak perlu kau risaukan perempuanku.

Lagi pula, bukannya mau hitung-hitungan budi, tapi memang si Doreamon ini sering mampir di kontrakan tanpa diundang. Itu saat akhir bulan untuk sekadar basa-basi dan memancingku mengobrol dengan harapan bisa joinan tembakau dan kopi.

Perempuanku! Permintaan maaf kedua kumohonkan karena di momen kelahiranmu hari ini tak ada hadiah berupa kado. Atau kejutan dengan kesan romantis yang bisa kuberikan sebagai ekspresi kegembiraan menjengkelkan layaknya remaja tanggung yang saling colek kue dan saling lempar tepung dan telur. Atau seperti mereka yang merayakan hari jadinya di tempat-tempat berkelas. Jadi mengertilah. Sebab nilai tukar rupiah makin rendah dan perekonomian juga sedang susah.

Selain itu, realitasnya kita memang tak bisa bertatap muka. Tapi tenang saja, karena aku punya cara berbeda mengatasi ini dengan mengajakmu berimajinasi lewat tulisan ini. Semoga saja kau berkenan menyelami. Jika kau tersenyum, berarti kuanggap itu sebagai “pengiyaan”.

Baiklah. Sebelum kujemput kau untuk turut bersamaku melakukan perjalanan waktu untuk mencari makna hari kelahiranmu, sebaiknya duduk atau berbaringlah dulu. Agar lebih rileks mendengarkan celotehku yang bawel ini. Lalu kita bisa memulai dengan menuju pada asal-usul perayaan hari kelahiran di kawasan Timur Tengah.

Konon kayaknya jauh ribuan tahun yang lalu, sebelum negara “api menyerang”, bangsa Mesir Kuno mengganggap hari saat Firaun memakai mahkota dan mengangkat dirinya sebagai dewa dipercaya sebagai hari penting yang terus dirayakan setiap tahunnya.

Sedangkan bangsa Yunani yang memperkenalkan tradisi lilin ulang tahun dengan mempersembahkan kue berbentuk bulan yang di atasnya dihiasi lilin untuk Artemis sebagai refleksi kecantikan cahaya bulan. Dan, sebagai awal kehidupan baru yang lebih bersinar.

Kemudian perayaan ulang tahun untuk masyarakat ‘biasa’ mulai dilakukan pada bangsa Romawi. Meskipun pada era kekaisaran ini perempuan baru diperbolehkan merayakan pada abad ke-12. Hmm,, syukurlah kau lahir sebelum abad masa itu. Hampir saja aku ditangkap kaisar karena merayakan hari ulang tahunmu dengan tulisan ini.

Ok, sekarang kita ke daratan Eropa. Menjelang revolusi industri di abad ke-18, perayaan ulang tahun mulai menyebar ke seluruh dunia. Di Jerman, perayaan ulang tahun anak-anak haruslah menyenangkan. Dan untuk alasan itu, dibuatlah kue ulang tahun. Lalu, di atasnya diberi lilin-lilin yang bila ditiup (katanya) dapat mengabulkan harapan.

Kemudian barulah pada tahun 1924, Robert Coleman mengaransemen lagu (Good Morning To All,1893) menjadi lagu ini: “Happy Birthday to You”.

Untuk perempuanku. Selamat ulang tahun di seperempat abadmu.

Sebelum kita mengakhiri kilas balik petualangan waktu ini dan mengantarmu pulang, aku masih ingin mengajakmu ke dua tempat di kawasan Asia.

Perempuanku, tahukah kau bahwa ternyata penduduk di negri Sakura, umumnya, sudah memiliki tingkat kematangan kedewasaan dan pemikiran di usai 25 tahun? Dan di negeri kita, usia 25 tahun adalah umur yang dianggap sakral bagi banyak orang. Sebab di usia ini seseorang dipercaya telah mencapai tingkat kedewasaannya sebagai manusia.

Maka tidak mengherankan jika di usia seperempat abad banyak perubahan dan keputusan besar yang diambil yang kadang juga bisa menciptakan keresahan dalam diri tentang mempertanyakan tujuan dan arah hidup yang sedang atau akan dijalani. Ini bisa saja tentang jodoh, karier, hubungan keluarga, tekanan lingkungan, dan lain-lain. Dalam ilmu psikologi, fase ini dikenal dengan Quarter Life Crisis (krisis hidup seperempat abad) yang umumnya menyerang di usia 25 tahun.

Perempuanku, aku menyampaikan ini bukan untuk menakuti, hanya sebagai nasihat saja. Sebab sepertinya hampir setiap manusia akan atau sudah mengalami masa ini. Aku pun pernah mengalaminya dan bahkan dalam kondisi tak lebih menyenangkan. Tapi yang pasti, aku yakin kau bisa menjalaninya dengan baik.

Kata tetua, usia sebelum 25 merupakan proses pencarian jati diri dan di usia 25 adalah tahap awal menemukannya. Kata ilmu biologi, kemampuan fisik mencapai puncaknya di usia 25. Kata ilmu psikologi, yang diakui orang Jepang, waktu ideal wanita menikah di usia 25. Sedang menurut kata hatiku yang agak ‘gr’, di usia ke-25 ini kau tak lagi sendiri.

Ya sudah. Biar kuantar kau kembali dalam kesadaranmu dan pura-puranya dengarkan saja celotehanku tadi, semoga dapat sidikit menghiburmu. Lagi pula sepertinya mesin waktu ini sudah mulai lowbet. Kasian Doraemon mesti ngecas lagi. Biaya beban listrik juga sedang mahal karena subsidi dikurangi.