Untuk yang Layak Dipuja

Untuk yang Layak Dipuja
©Hipwee

Halo. Aku Tiara. Aku hanya seorang gadis remaja yang sedang menikmati hal baru—menulis cerita yang sedang indah-indahnya. Aku ingin menoreh kisah tentang seseorang yang memberi arti baru tentang kehidupan. Sampai tiga tahun ke depan, mungkin kisah-kisah ini hanya akan bercerita tentang dia.

Tepatnya satu tahun yang lalu, aku dipertemukan pada seorang yang sangat layak untuk dikagumi.

Sebelum hari ini, aku sempat ingin berhenti menuliskan cerita tentang seorang ini. Namun entah mengapa, makin niat untuk tidak menuliskan apa-apa tentang dia, makin liar untuk giat berkisah apa saja tentangnya.

Menulis bukan hobi dan keahlianku. Tetapi apa salahnya mengabadikan kegaguman terhadap seseorang melalui tulisan—walau hanya sekadar puisi, basa-basi, atau entah? Setidaknya, bagiku, ini hal yang bagus jika dilakukan.

Sebelum menuliskan tentangnya dengan menggebu, aku ingin memulai kekaguman ini dengan sebuah sajak sederhana:

Rasa yang Berharga

Pagi ini begitu cerah
Sang surya memberi senyum padaku
Berjalan perlahan menikmati ciptaan tuhan di tengah keramaian sekolah
Sembari mengagumi manusia-manusia yang layak dikagumi

Aku rasa aku gadis yang penuh rahasia
tidak hanya tentang diri, tetapi tentang seseorang yang aku kagumi
lagi-lagi, aku memperhatikan dan mengaguminya
dia seorang….
tak salah, bukan, mengagumi manifestasi tuhan?

Menginjakkan kaki di bangku SMA, oleh sebagian orang, merupakan hal yang sangat menyenangkan dan banyak didambakan. Terlebih dibarengi dengan hadirnya sosok yang sangat memicu hadirnya semangat baru dalam hidup: semacam cinta pertama, mungkin. Sayangnya, aku tidak merasa demikian walau itu aku alami.

Ah, aku ingin segera menceritakan lebih dalam tentang hal-hal itu—tentang seseorang yang masih aku kagumi. Aku tidak punya sebutan khusus untuknya. Sebab menuliskan namanya saja aku gugup. Tetapi kalian bebas ingin memberinya nama siapa setelah apa-apa yang akan aku ceritakan tentang dia.

Begini. Aku yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Atas mengagumi kakak kelas yang sebenarnya tidak tampan, hanya saja gaya humornya sangat tinggi, dan ini hal menarik bagiku. Lain waktu, aku sarankan kalian untuk mengenal dan memulai obrolan dengannya. Betapa bisanya dia melontarkan kata demi kata yang sangat menarik.

Dari pengetahuanku yang sedikit tentangnya, aku berani menyimpulkan bahwa dia orang yang sangat bijaksana. Sampai di sini, sebenarnya aku tidak ingin memujinya lebih jauh. Sebab aku tak mau jika kalian sampai jatuh hati padanya.

Sebenarnya ini hal konyol, dan aku berusaha berhenti dari kekonyolan ini karena kawanku: tentang rasa kagum dan sukaku yang selalu aku rahasiakan, menceritakannya pada seorang yang aku kagumi itu.

Sejujurnya membuatku malu. Tapi tak apa, sudah telanjur. Aku akan terus bernostalgia tentang perasaaan-perasaanku padanya. Sebab dia memang layak untuk dikagumi pada sosoknya yang sederhana. Aku mengagumi apa-apa yang ada pada dirinya—senyumnya, tutur katanya, dan caranya memperlakukan orang lain. Ini baru sebagian darinya yang membuatku kagum.

Sebenarnya aku ragu melanjutkan tulisan ini, tapi lagi-lagi aku ingin bernostalgia tentang dirinya walau mungkin kakak kelasku yang sudah lulus itu tidak pernah tahu perasaan ini, juga tidak mengingat apa pun yang terjadi, yang bagiku sangat berarti.

Dari dulu aku berusaha mengenalnya lebih dekat, tapi ada perasaan tidak siap. Akhirnya hanya bisa memperhatikan dari kejahuan. Mengagumi diam-diam. Tersiksa memang, tapi ini risiko menjadi secret admirer.

Bermula ketika aku sedang berada di kantin sekolah. Tanpa sengaja melihat sosok lelaki yang sedang memesan makanan dan bercanda ria, begitu luwes bersama kawan-kawannya. Ia terlihat begitu berbeda.

Aku tidak tahu harus menulis perbedaan itu seperti apa, sebab belum kutemukan kata-kata yang pas. Yang pasti, dimulai dari pertemuan singkat itu, aku juga memesan makanan yang sama dan duduk tepat di sebelahnya.

Aku tahu dia tidak akan memedulikanku apalagi bersua canda. Tapi tidak masalah. Justru ini adalah tantangan untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Aku memiliki pandangan pertama yang indah terhadapnya dan kupikir tidak ada salahnya melanjutkan keindahan itu lebih lama lagi.

Tapi sialnya, harapan untuk mempelajari tentang dirinya lebih dekat lagi justru pupus. Tak terasa dia akan segera lulus dan tentunya keluar dari sekolah.

Benar saja. Tidak lama setelah kekhawatiran ini, dia benar-benar lulus sekolah dan tentunya makin sulit bagiku memendam perasaan yang telanjur hadir walau baru pada tahap kagum. Rasanya kesal sekali—kesal dengan keadaan. Aku membenci sebuah perpisahan, sebab perpisahan selalu melahirkan rindu, dan tidak bertemu adalah beban yang sangat menyiksa.

Pada kekesalan ini, aku menjadi limbung. Kenapa aku tidak dilahirkan di waktu yang sama denganmu, seumuran denganmu? Ini benar-benar menyebalkan.

Mengapa kamu harus menjadi kakak kelas? Mengapa harus dua tahun lebih tua dariku? Baru akan memulai menjadi siswa baru di sekolahmu, kau justru akan menjadi alumni—keluar dan meninggalkan aku beserta rasa-rasaku. Berharap aku bisa mengubah takdirku tentang ini.

Aku tahu kesan ini adalah sebuah kekonyolan, tapi khayalanku jauh lebih konyol lagi setelah kepergianmu: seandainya aku punya kuasa atas takdir dari pertemuan kita, aku ingin kita menjadi satu kelas saja di sekolah ini. Aku duduk di sampingmu, bebas bersua denganmu, dan kita melakukan hal-hal menyenangkan bersama-sama setiap harinya.

Wahai kamu, aku adalah sang pemuja rahasia. Keingintahuanku tentangmu makin menjadi-jadi. Dan aku rasa itu wajar untuk seorang pemuja.

Walaupun kau tidak lagi bisa kulihat setiap hari, tapi aku putuskan untuk tetap mempertahankan rasa ini. Mungkin ini cobaan yang memang harus dilewati. Tuhan percaya aku bisa melampauinya, sebab kau tidak akan pernah tahu seperti apa sakitnya memendam rasa terus-menerus.

Pada diary-ku, sering aku kisahkan tentangmu bahwa waktuku seakan samar ketika alpa memikirkanmu. Dalam setiap aktivitasmu, perhatianku penuh. Misal, ketika kau sedang asyik makan di kantin, mataku tertuju padamu. Tak jarang aku tertawa sendiri melihat tingkahmu. Aku hebat, bukan?

Di tempat dan waktu yang sama, kau bahkan tidak paham jika sedang ada sosok yang dengan sungguh memperhatikanmu. Bagiku, itu sebuah keberuntungan untuk pemuja rahasia sepertiku. Aku tahu, yang melakukan hal sama seperti ini tidak hanya aku. Di luaran sana banyak sekali yang tidak hanya kagum, tapi juga suka. Beruntungnya, mereka semua seumuran denganmu.

Untuk saat ini, aku hanya bisa mengucapkan, “Selamat, kakak; antara sedih dan bahagia aku selalu berdoa untukmu. Untuk kesuksesan dan kebahagiaanmu walau baru satu tahun kita dipertemukan dan kita harus berpisah.”

*Tiara, Siswi SMA Negeri 1 Sungai Selan, Bangka Belitung

    Kontributor