Untuk yang Layak Dipuja

Aku tidak tahu harus menulis perbedaan itu seperti apa, sebab belum kutemukan kata-kata yang pas. Yang pasti, bermula dari pertemuan singkat itu, aku juga memesan makanan yang sama dan duduk tepat di sebelahnya.

Aku tahu dia tidak akan memedulikanku apalagi bersua canda. Tapi tidak masalah. Justru ini adalah tantangan untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Aku memiliki pandangan pertama yang indah terhadapnya dan kupikir tidak ada salahnya melanjutkan keindahan itu lebih lama lagi.

Tapi sialnya, harapan untuk mempelajari tentang dirinya lebih dekat lagi justru pupus. Tak terasa dia akan segera lulus dan tentunya keluar dari sekolah.

Benar saja. Tidak lama setelah kekhawatiran ini, dia benar-benar lulus sekolah dan tentunya makin sulit bagiku memendam perasaan yang telanjur hadir walau baru pada tahap kagum. Rasanya kesal sekali—kesal dengan keadaan. Aku membenci sebuah perpisahan, sebab perpisahan selalu melahirkan rindu, dan tidak bertemu adalah beban yang sangat menyiksa.

Pada kekesalan ini, aku menjadi limbung. Kenapa aku tidak lahir di waktu yang sama denganmu, seumuran denganmu? Ini benar-benar menyebalkan.

Mengapa kamu harus menjadi kakak kelas? Mengapa harus dua tahun lebih tua dariku? Baru akan memulai menjadi siswa baru di sekolahmu, kau justru akan menjadi alumni—keluar dan meninggalkan aku beserta rasa-rasaku. Berharap aku bisa mengubah takdirku tentang ini.

Aku tahu kesan ini adalah sebuah kekonyolan, tapi khayalanku jauh lebih konyol lagi setelah kepergianmu: seandainya aku punya kuasa atas takdir dari pertemuan kita, aku ingin kita menjadi satu kelas saja di sekolah ini. Aku duduk di sampingmu, bebas bersua denganmu, dan kita melakukan hal-hal menyenangkan bersama-sama setiap harinya.

Wahai kamu, aku adalah sang pemuja rahasia. Keingintahuanku tentangmu makin menjadi-jadi. Dan aku rasa itu wajar untuk seorang pemuja.

Baca juga:

Walaupun kau tidak lagi bisa kulihat setiap hari, tapi aku putuskan untuk tetap mempertahankan rasa ini. Mungkin ini cobaan yang memang harus aku lewati. Tuhan percaya aku bisa melampauinya, sebab kau tidak akan pernah tahu seperti apa sakitnya memendam rasa terus-menerus.

Pada diary-ku, sering aku kisahkan tentangmu bahwa waktuku seakan samar ketika alpa memikirkanmu. Dalam setiap aktivitasmu, perhatianku penuh. Misal, ketika kau sedang asyik makan di kantin, mataku tertuju padamu. Tak jarang aku tertawa sendiri melihat tingkahmu. Aku hebat, bukan?

Di tempat dan waktu yang sama, kau bahkan tidak paham jika sedang ada sosok yang dengan sungguh memperhatikanmu. Bagiku, itu sebuah keberuntungan untuk pemuja rahasia sepertiku. Aku tahu, yang melakukan hal sama seperti ini tidak hanya aku. Di luaran sana banyak sekali yang tidak hanya kagum, tapi juga suka. Beruntungnya, mereka semua seumuran denganmu.

Untuk saat ini, aku hanya bisa mengucapkan, “Selamat, kakak; antara sedih dan bahagia aku selalu berdoa untukmu. Untuk kesuksesan dan kebahagiaanmu walau baru satu tahun kita dipertemukan dan kita harus berpisah.”

*Tiara, Siswi SMA Negeri 1 Sungai Selan, Bangka Belitung