Urbanisasi sebagai Pemicu Kemiskinan di Perkotaan

Urbanisasi sebagai Pemicu Kemiskinan di Perkotaan
©RS

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kemiskinan, salah satunya ialah proses urbanisasi penduduk desa ke kota.

Kemiskinan merupakan salah satu masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hal ini saling berkaitan dan belum terpecahkan di Indonesia hingga saat ini. Kemiskinan juga merupakan persoalan yang sangat mendasar menjadi fokus atau perhatian bagi Pemerintah Indonesia.

Pada dasarnya kemiskinan tidak hanya dipahami sebagai ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga bisa dikatakan tidak mampu dalam memenuhi hak-hak dasarnya, seperti tidak terpenuhinya berbagai kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, pertahanan, air bersih, sumber daya alam, dan lingkungan yang memadai.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kemiskinan, salah satunya ialah proses urbanisasi penduduk desa ke kota. Terutama ke kota-kota besar di Indonesia, seperti tiga kota yang menjadi tujuan tertinggi atau menjadi magnet urbanisasi semacam Jakarta, Surabaya, dan Makassar.

Pada sekarang ini, yang kita ketahui perkembangan kota-kota di Indonesia banyak dipengaruhi oleh proses terjadinya urbanisasi yang dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti ekonomi, demografi, dan sosial. Urbanisasi menjadi hal yang tidak dapat dihindari khususnya di kota-kota besar di Indonesia.

Terjadinya proses urbanisasi ini telah menimbulkan dan mengakibatkan berbagai macam masalah urbanisasi di perkotaan, sebab tidak dapat dikendalikan dengan baik. Sebagaimana yang kita ketahui peningkatan jumlah penduduk di perkotaan yang selalu berhubungan dengan meningkatnya urbanisasi di suatu wilayah terutama di kota-kota besar di Indonesia.

Urbanisasi dalam Konteks Kemiskinan

Lalu, mengapa urbanisasi dapat dikatakan menjadi salah satu faktor pemicu kemiskinan perkotaan? Karena urbanisasi dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru apabila Pemerintah Daerah maupun Pusat tidak mampu dan menata dampak dari perpindahan tersebut.

Urbanisasi sendiri merupakan salah satu proses yang mempengaruhi perkembangan kota-kota di Indonesia. Seiring berjalanya waktu, angka urbanisasi makin meningkat, dan diperlukan adanya pengembangan kawasan yang memadai dan berbagai kebutuhan yang tercukupi.

Ketika bertambahnya jumlah populasi penduduk di perkotaan, jika tidak diikuti atau diimbangi bertambahnya tingkat taraf hidup yang memadai bagi masyarakat justru akan menimbulkan masalah baru, seperti kenaikan jumlah angkatan kerja yang melonjak akibat urbanisasi, serta tidak diiringi dengan bertambahnya lapangan pekerjaan maupun peningkatan mutu bagi tenaga kerja yang akan menjadi daya saing tinggi.

Selain itu, beberapa akibat negatif urbanisasi akan menjadikan masalah yang cukup serius, karena dapat menurunkan tingkat kesejahteraan penduduk di perkotaan. Seperti sekarang ini, yang terjadi kepadatan penduduk di kota-kota besar jika tidak dapat dikembalikan lagi akan mengakibatkan salah satu faktor kemiskinan perkotaan.

Dampak negatif lainnya yang bermunculan adalah terjadinya “over urbanisasi” atau melonjaknya angka persentase urbanisasi penduduk kota yang sangat besar dan tidak sesuai dengan perkembangan ekonomi negara. Tidak hanya itu, dampak negatif yang akan terjadi lainnya yaitu “under ruralisasi” atau jumlah penduduk di pedesaan terlalu sedikit bagi tingkat produksi yang ada.

Oleh karena itu, pada saat perkotaan mendominasi fungsi sosial, pendidikan, ekonomi bahkan hierarki urban akan mengakibatkan terjadinya angka pengangguran yang tinggi.

Korelasi antara Kemiskinan dan Urbanisasi

Kemiskinan merupakan salah satu faktor permasalahan di perkotaan yang terjadi akibat dari proses urbanisasi. Hal ini sering muncul terkait dengan peningkatan kebutuhan pendudukan perkotaan yang muncul sebagai konsekuensi yang harus dihadapi dari proses urbanisasi. Beberapa kebutuhannya, seperti lapangan pekerjaan dan fasilitas-fasilitas atau prasarana perkotaan yang menunjang, baik berupa fasilitas ekonomi, fasilitas perumahan, dan lain sebagainya.

Sedangkan bila kita melihat berdasarkan aspek sosial, perkembangan dari wilayah perkotaan itu sendiri dapat dilihat dari perubahan pola pikir dan dari gaya hidup masyarakatnya yang individualis. Kemudian, bila melihat dampak positif wilayah perkotaan kini makin tumbuh dan berkembang.

Dampak negatifnya menyebabkan adanya perbedaan seperti dari segi ekonomi dan pendidikan. Inilah yang terjadi akibat adanya pemisah antara kelompok-kelompok penduduk dan tidak mampu menyerap pekerja dengan pendidikan rendah dan kemampuan yang terbatas mengakibatkan persaingan yang sangat ketat.

Tidak bisa dimungkiri bahwa kemiskinan berkaitan dengan adanya proses urbanisasi dan dapat menimbulkan dampak yang negatif, bila tidak ada pengelolaan yang benar terutama untuk kehidupan penduduk perkotaan di Indonesia.

Selain membentuk masyarakat miskin perkotaan juga urbanisasi tampaknya dapat mengakibatkan kompetisi dalam penggunaan lahan. Banyak sekali kita jumpai di kota-kota besar seperti halnya di Jakarta dan Surabaya dalam penggunaan lahan yang bisa dibilang tidak memadai.

Banyak pemukiman-pemukinan penduduk perkotaan yang kumuh milik masyarakat miskin di daerah-daerah yang seharusnya memang tidak pantas untuk dijadikan tempat tinggal, seperti halnya tempat umum berupa kolong jembatan, pinggiran jalan, atau trotoar dan pinggir rel kereta api. Selain memang tidak pantas dan bukan peruntukannya.

Hal tersebut menjadi penyebab perusak dari lingkungan seperti, visual suatu kota dan dapat menghambat pembangunan-pembangunan atau bisa jadi menjadi sarang atau wabah penyakit dan virus akibat sanitasi yang tidak baik bagi masyarakat miskin tersebut.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa urbanisasi memiliki korelasi yang erat dengan kemiskinan di perkotaan. Hal ini disebabkan karena mayoritas dari mereka yang berangkat ke kota kebanyakan berangkat dengan modal nekat. Selain itu mereka juga berangkat tanpa adanya keterampilan serta tingkat pendidikan yang mumpuni untuk mengikuti persaingan di kota yang begitu ketat terutama di kota-kota besar di Indonesia.

Faktor penyebabnya juga karena orang desa tertarik untuk pinda ke kota adalah suatu yang lumrah sebabnya bagi individu atau kelompok memiliki alasan yang berbeda tetapi mayoritas ingin merubah nasib lebih baik, melanjutkan sekolah karena di desa tidak ada fasilitasnya yang memadai atau mutu kurang, tingkat upah di kota jauh lebih tinggi dan masih banyak lagi.