UU Cipta Kerja Bantu Indonesia Maksimalkan Bonus Demografi

UU Cipta Kerja Bantu Indonesia Maksimalkan Bonus Demografi
©Kompas

Dengan adanya UU Cipta Kerja tersebut, Indonesia bisa maksimalkan bonus demografi.

Nalar Politik – Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) Dhaniswara K Harjono melihat bahwa di tengah pandemi Covid-19, Indonesia mampu menghadirkan produk hukum baru yang memberi harapan, yakni Omnibus Law atau UU Cipta Kerja.

Menurutnya, UU Cipta Kerja yang terdiri 116 pasal ini mampu merevisi 77 undang-undang sebelumnya yang ternyata isinya saling tumpang-tindih dan tidak ada kepastian.

Adapun UU Cipta Kerja, bagi Pakar Hukum Pembangunan Ekonomi tersebut, menyentuh masalah perizinan dan penanaman modal di mana implementasi dari UU ini sebagai upaya meningkatkan investasi yang akan membuka lapangan kerja lebih luas.

“Sekarang kalau kita bikin perusahaan, mudah, nggak perlu banyak modal. Kalau dulunya minimal Rp50 juta, sekarang nggak ada,” ujar Dhaniswara dalam diskusi Outlook Indonesia 2021 yang disiarkan secara virtual pada Jumat (18/12).

Ia juga menilai, dengan adanya Omnibus Law tersebut, Indonesia bisa maksimalkan bonus demografi. Artinya, manusia di Indonesia yang berusia 16-64 tahun lebih banyak dibandingkan usia non-produktif.

“Prospek bonus demografi terjadi mulai 2020, kemudian mengalami puncaknya di 2030 dan berakhir 2040.”

Menurut Dhaniswara, yang namanya bonus demografi seperti layaknya pedang bermata dua. Bila tidak dipersiapkan lapangan pekerjaan, justru akan berdampak buruk di masa depan.

“Bonus demografi ini seperti pisau bermata dua. Kalau tidak hati-hati, ini akan membawa malapetaka, sehingga usia-usia produktif ini harus kita siapkan dengan baik.”

Dhaniswara juga menyebutkan, hingga kini Indonesia masih punya pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, yaitu kesenjangan sosial. Mengutip dari kajian Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Indonesia masih berada di urutan keempat di dunia tentang kesenjangan sosial.

“Kita masih di bawah Rusia, India, dan Thailand. Posisi keempat ini bukan hebat, tapi artinya kita masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan.” [wk]