UU Cipta Kerja Permudah Buka Usaha untuk Perbanyak Lapangan Kerja

UU Cipta Kerja Permudah Buka Usaha untuk Perbanyak Lapangan Kerja
©Maxmanroe

Nalar Politik – Akademisi Universitas Brawijaya (UB) Malang Moch Fauzie Said menilai, Undang-Undang Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja mempermudah pelaku usaha untuk memulai buka usaha, yang imbasnya pada penciptaan lapangan kerja yang banyak.

“Diharapkan, Pemerintah dengan UU (Cipta Kerja) ini mempermudah membuka usaha-usaha, kemudian akan berdampak lapangan kerja makin banyak, sehingga menaikkan angka serapan pengangguran,” katanya dalam seminar daring bertema Membedah Peluang dan Tantangan Ekonomi Digital dalam UU Cipta Kerja, yang digelar Ikatan Alumni Lemhanas Republik Indonesia ToT/Taplai KBS Angkatan III, Sabtu (19/12).

Hal itu dilakukan dengan mempercepat dan memangkas birokrasi izin berusaha. Dengan percepatan itu, akan mempercepat menciptakan lapangan kerja baru.

Namun demikian, ia menggarisbawahi, penciptaan lapangan kerja juga harus memperhatikan persoalan ketenagakerjaan.

Fauzie mengingatkan soal kondisi kesiapan sumber daya manusia (SDM) pekerja Indonesia saat ini. Meski banyak pekerja Indonesia yang berkualitas, tapi, menurutnya, itu tidak merata. Masih banyak yang kualitasnya masih rendah.

Agar serapan pada tenaga kerja lokal makin maksimal, tidak hanya perlu upaya peningkatan kualitas SDM. Ia menyarankan, perlu ada pembatasan maksimal Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di Indonesia. Ia pun menganalogikannya dengan kebijakan pemenuhan kuota 30% untuk perempuan.

Fauzie menegaskan, dengan berpendapat seperti itu, dirinya tidak anti-asing. Menurutnya, TKA tetap diperlukan, tapi harus dibatasi demi kepentingan masyarakat Indonesia.

“Orang asing yang bekerja di Indonesia dibatasi, misalnya maksimal berapa persen. Ini juga untuk melindungi warga negara kita,” usul Ketua Badan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fisip UB Malang itu.

Selain memberi usulan soal pembatasan kuota maksimal TKA, Fauzie juga mengusulkan agar keberpihakan kepada pekerja lebih ditingkatkan lagi, supaya tidak terlalu berpihak pada pengusaha dan kurang memperhatikan kepentingan pekerja.

Karena, hubungan antara pengusaha selaku pencipta lapangan kerja dengan pekerja, itu mutualisme. Dua kelompok ini saling membutuhkan.

“Sebab, pengusaha apa pun, tanpa adanya tenaga kerja yang memadai, maka tidak ada artinya,” ucapnya.

Meskipun terdapat kekurangan, Fauzie memandang UU Cipta Kerja perlu disambut positif.

“Karena tujuannya baik, untuk memudahkan (buka usaha) dan menciptakan lapangan kerja, kemudian membuat masyarakat yang nganggur makin berkurang,” tuturnya.