UU Cipta Kerja, Ujung Tombak Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

UU Cipta Kerja, Ujung Tombak Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
©YouTube

Nalar Politik – Upaya Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) terus digalakkan. Pengesahan UU Cipta Kerja jadi salah satu upaya yang utama.

Seperti disampaikan peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Zamroni Salim, UU Cipta Kerja merupakan ujung tombak yang perlu dioptimalkan terus agar Indonesia benar-benar terbebas dari jebakan tersebut.

“Secara teori, UU Cipta Kerja harus selalu dipromosikan sebagai ujung tombak agar dapat keluar dari middle income trap,” kata Zamroni dalam webinar tentang investasi dan perdagangan di Jakarta, Selasa (15/12).

Ia menjelaskan, UU Cipta Kerja sangat penting mengingat kehadirannya bisa memangkas beragam perizinan yang terdapat di berbagai peraturan perundang-undangan. Hal ini yang kemudian akan memajukan aktivitas perekonomian nasional.

“Apalagi saat ini berbagai daerah termasuk kawasan khusus perdagangan masih banyak yang prosesnya jalan di tempat sehingga ada berbagai PR yang harus dikerjakan.”

Zamroni mencontohkan, dalam sektor pangan seperti hortikultura, harus ada integrasi tanggung jawab untuk mendorong industri lokal yang mampu mengolah produk pangan/hortikultura menjadi produk penciptaan nilai tambah.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM Yuliot menyatakan, agar tidak terjebak ke dalam negara berpendapatan menengah, maka perlu meningkatkan GDP pada 2020 sebesar 4.546 dolar AS/kapita menjadi 12.233 dolar AS/kapita pada 2035 dan 23.199 dolar AS/kapita pada 2045.

“Untuk produk domestik bruto (PDB) riil dalam jangka waktu 2015 hingga 2045, perlu pertumbuhan rata-rata 5,7 persen per tahun.”

Yuliot menilai Kawasan Timur Indonesia adalah kawasan harapan karena banyaknya sumber daya alam dan energi yang tersedia. Ini penting untuk mengoptimalkan hal tersebut sebagai bentuk kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.

Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pengembangan budaya inovasi menjadi kunci kemajuan suatu negara. Hal ini, menurutnya, harus terus dilakukan Indonesia untuk bisa keluar dari middle income trap.

“Pengembangan budaya inovasi menjadi kunci untuk dapat menjadi negara maju,” kata Menristek Bambang di Jakarta dalam sebuah acara beberapa waktu lalu.

Ia menyebut, Indonesia saat ini masih mengandalkan sumber daya alam sebagai tulang punggung perekonomian. Akibatnya, Indonesia masih belum mampu untuk keluar dari jebakan negara dengan pendapatan kelas menengah.

“Berdasarkan pengalaman beberapa negara yang dapat lolos dari kondisi middle income trap seperti Korea Selatan, pengembangan budaya inovasi menjadi kunci untuk suatu negara untuk meningkatkan ekonominya dan menjadi negara maju.” [an]