Vaksinasi dalam Perspektif Agama dan Konstitusi

Vaksinasi dalam Perspektif Agama dan Konstitusi
©iNews

Vaksinasi dalam Perspektif Agama dan Konstitusi

Menyikapi bencana yang sedang melanda di berbagai negara termasuk Indonesia, hari ini bumi kita sedang tidak baik-baik saja dikarenakan adanya wabah virus Corona (Covid-19). Virus Corona yang telah menjadi pandemi global ini berdampak secara langsung terhadap ketahanan nasional, di antaranya roda perekonomian, roda pendidikan, melemahnya rupiah, serta instabilitas harga-harga bahan pokok.

Selain itu, Virus Corona juga mengakibatkan terjadinya suasana “Kepanikan” sosial secara berlebihan, yaitu rasa curiga satu dengan yang lain, sehingga masyarakat diharuskan bahkan wajib melakukan protokol kesehatan, di antaranya menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi.

Hampir dua tahun pandemi Covid-19 melanda, berbagai macam kebijakan telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, di antaranya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), pemberlakuan New Normal, PPKM Mikro dan PPKM Darurat yang tentunya bertujuan untuk menekan penyebaran dan penularan wabah Covid-19.

Penanganan Virus Corona oleh Pemerintah telah masuk pada tahap kulminasi, yaitu Vaksinasi secara menyeluruh sebagai bagian dari penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan, orang yang pertama kali disuntik vaksin buatan Sinovac adalah Presiden Joko Widodo dan pada saat yang sama pejabat, tokoh agama, organisasi profesi, serta perwakilan masyarakat turut mengikuti vaksinasi.

Persentase Vaksinasi di Indonesia baru mencapai 4%, padahal para ahli di dunia mengatakan bahwa herd immunity dapat tercapai jika proporsi minimal 70% persen penduduk sudah divaksin terpenuhi. 70% dari jumlah penduduk  Indonesia, artinya sekitar 189 juta penduduk Indoneia sudah mendapat vaksin penuh (dua dosis vaksin Covid-19).

Jika dibandingkan dengan negara AS dan Inggris, angka vaksinasi Indonesia termasuk rendah. Angka vaksinasi Amerika serikat sudah mencapai angka 45,8 persen, artinya sudah hampir setengah populasi AS sudah mendapat vaksin. Begitu juga dengan Inggris, angka vakinasi di negara Ratu Elizabeth itu sudah mencapai 47,2 persen. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara, angka vaksinasi Indonesia masih di bawah Singapura dan di atas negara seperti Kamboja, Myanmar, dan Vietnam.

Faktor rendahnya angka vaksinasi Indonesia, dikarenakan stigma (ciri negatif) info tentang vaksin yang  tengah beredar di masyarakat luas. Info tersebut dibuat dan dibagikan melalui platform-platform media sosial oleh oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga menimbulkan kegaduhan serta rasa paranoid masyarakat terhadap vaksin yang dipakai.

Baca juga:

Akibatnya, masyarakat jadi takut dan cemas akan keamanan serta efek setelah vaksinasi. Padahal sebelum dipakai, vaksin melalui uji klinis terlebih dahulu untuk memastikan aman digunakan manusia dan memiliki efektivitas menghasilkan imunitas tubuh terhadap Covid-19.

Apa Itu Vaksinasi?

Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin melalui disuntikkan maupun diteteskan ke dalam mulut untuk meningkatkan produksi antibodi guna menangkal penyakit tertentu. Vaksinasi sebagai upaya pencegahan primer yang sangat handal mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi, dengan prosedur vaksinasi yang benar diharapkan akan memperoleh kekebalan yang optimal.

Vaksinasi dalam Pandangan Agama Islam

Islam mengatur tata kehidupan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan, baik hidup di dunia maupun akhirat nanti. Sehingga umat muslim akan terdorong untuk selalu melaksanakan tindakan yang positif dan bermanfaat bagi orang lain.

Dalam ajaran Agama Islam, ada lima tujuan pokok hukum Islam yang harus dijaga keberlangsungannya oleh umat Islam.

Pertama, memelihara Agama (Hifdzud Diin). Pengertiannya, umat Islam berkewajiban menjaga Agamanya dengan baik, esensinya yakni menjaga rukun islam yang lima mulai dari syahadat, salat lima waktu, membayar zakat, ibadah puasa, dan melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu.

Kedua, memelihara keturunan (Hifdzun Nasl), artinya umat islam berkewajiban untuk menjaga keturunan yang jelas nasabnya. Oleh karena itu islam mengharamkan adanya praktik perzinahan.

Ketiga, memlihara harta (Hifdzun Maal), artinya umat islam diharuskan memelihara hartanya melalui usaha yang halal. Sehingga harta yang diperolehnya menjadi berkah dalam kehidupannya dan diridai oleh Allah SWT.

Keempat, memelihara akal (Hifdzun Aql), artinya umat islam diharuskan menjaga akal yang sehat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga umat islam diwajibkan untuk mencari ilmu dan pengetahuan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan dan terhindar dari godaan dunia.

Halaman selanjutnya >>>
Muslim