Victor Yeimo: Patriot Antirasisme Sejati Papua

Victor Yeimo: Patriot Antirasisme Sejati Papua

Passion Victor Yeimo Melawan Victim Blaming dan Rasisme Struktural NKRI di Papua

Kuba punya Che Guevara dan Fidel Castro, India punya Mahatma Gandhi dan Banda Naira, Blackman American punya Martin Luther King Jr, Afrika Selatan punya Nelson Mandela dan Desmond Tutu, Indonesia punya Soekarno dan Soegijapranata, Timor-Leste punya Xanana Gusmao dan Belo, PNG punya Walter Lini, Papua punya Victor Yeimo dan sebagian kecil patriot sejati yang berkarisma dan bernas.

Mengawali tulisan ini, penulis hendak menarasikan ulang sebuah pertanyaan kritis profetis kawan Victor Yeimo yang di-upload pada salah satu media sosialnya (03/03/2023) terkait simbiosis dan metamorfosis rasisme, kolonialisme, dan kapitalisme di Papua.

“Tra tidak bisa pisahkan rasisme dari kolonialisme dan kapitalisme. Sperma rasis membuahi kapitalisme sehingga janin kolonialisme terbentuk. Maka yang terjadi di Papua; bangsanya dihina, rakyatnya dibunuh, alamnya dikuras.

Kemendagri akan kirim 4.212 ASN dari luar Papua duduki 4 DOB Papua. Padahal banyak orang Papua tidak bisa menjadi ASN, bahkan untuk jadi honorer. Inilah prasangka rasis; pandangan bahwa orang Papua tra mampu dan harus dikuasai.

Prasangka rasis itulah yang mengawali pendudukan Indonesia di West Papua. Trikora gunakan prasangka rasis bahwa orang Papua tra layak bernegara sendiri (Soekarno sebut negara boneka).

Dengan prasangka rasis, orang Papua tidak dilibatkan dalam semua perjanjian dan pelaksanaan Pepera 1969 untuk menentukan nasibnya. Hal yang sama dalam Otsus dan pemekaran; semua ditentukan semaunya oleh Jakarta.

Gen kolonial adalah rasisme dan kapitalisme adalah proteinnya. Ia menjadi virus mematikan dalam sejarah umat manusia. Di mulai dari Eropa dan ditularkan kepada Indonesia.

Untuk berantas virus ini, vaksinnya bukan saja solidaritas anti rasisme, tetapi ikut memperjuangankan bangsa terjajah bebas dari kolonialisme dan kapitalisme.”

Kita harus sadar dan berbenah sebagai nation yang sudah mencapai usia 77 tahun, terlebih sebagai salah satu negara yang paling rajin meratifikasi piagam-piagam PBB ke dalam konstitusi, terutama Deklarasi Hak Asasi Manusia Sedunia.

Bahwasanya “Hanya gara-gara nila setitik, maka hancurlah susu sebelanga”. Bahwa karena hanya maraknya bahkan menbudayanya praktik kriminalisasi ‘Pasal Makar’ dalam habitat dan ekosistem tubuh konstitusi kita, maka wajah, fitrah, karisma, dan marwah yang luhur dan mulia daripada Pancasila, UUD 1945, Bineka Tunggal Ika, dan jargon ‘NKRI Harga Mati’ telah, tengah, dan terus tergadai, terurai dan tercoreng di muka etika, hukum, HAM, dan demokrasi internasional.

Bahwa jika praktik-praktik kriminalisasi ‘Pasal Makar’ atas pejuang HAM, kemanusiaan, kebenaran, keadilan, dan kedamaian di bumi Papua itu diminimalisir, bahkan dinihilisir, maka sejatinya Indonesia sudah nyaris menjadi negara demokrasi, negara hukum, dan negara Pancasila yang disenangi dan disegani komunitas internasional.

Tercatat dalam Memoria Passionis bangsa dan tanah Papua bahwasanya dalam periode beberapa tahun belakangan ini saja ada beberapa pejuang dan patriot bangsa Papua yang menjadi target gong-gongan ‘Angjing Ompong’ warisan kolonial bernama ‘Pasal Makar KUHP’. Kita sebut saja;

Pertama, delapan mahasiswa asli Papua yang menjadi tersangka, terpidana dan tahanan Makar pasca mengibarkan kain bermotif Bendera Bintang Kejora di Gedung Olahraga Cendrawasih Kota Jayapura pada Rabu, 01 Desember 2021; Malvin Yobee SAJ. MTP;  Paul Zode Hilapok SAJ. MTP; Melvin Waine SAJ. MTP; Devio Tekege SAJ. MTP; Ambros Elopere SAJ. MTP; Ernesto Matuan SAJ. MTP; Maksi You SAJ. MTP; dan, Luis Urobmabin SAJ. MTP.

Perlu dan jelaskan sedikit di sini bahwa ‘SAJ. MTP’ adalah akronim gelar kesarjanaan yang berarti “Sarjana Anak Jalanan” (SAJ) diberikan oleh rakyat bangsa Papua sementara Mantan Tapol Papua (MTP) adalah gelar kesarjanaan yang diberikan oleh bangsa penjajah Indonesia.

Gelar ini yang diberikan kepada kedelapan mahasiswa Tapol bangsa Papua tersebut oleh Universitas Kaki Abu (UNIKAB) atas passion dan dedikasi nasionalisme dan patriotisme kedelapan mahasiswa tersebut.

Kedua, Kawan Victor Yeimo, Juru Bicara Internasional KNPB. Perkara dugaan makar yang didakwakan kepada Viktor Yeimo itu terdaftar di Pengadilan Negeri Jayapura dengan nomor perkara 376/Pid.Sus/2021/PN Jap pada 12 Agustus 2021.

Halaman selanjutnya >>>
Siorus Degei
Latest posts by Siorus Degei (see all)