Wabah Menakutkan adalah Politisi Populis di Tengah Krisis

Wabah Menakutkan adalah Politisi Populis di Tengah Krisis
©DeSmog

Ancaman bukan korona, tetapi lahirnya politisi populis di tengah krisis.

Indonesia tidak menerapkan lockdown, tetapi PSBB. Artinya, ekonomi tetap bergerak walau lambat, tetapi tidak jatuh ke jurang resesi.

Dengan adanya kebijakan PSBB yang membutuhkan dana tambahan Rp405 triliun, defisit makin melebar. Mengapa? Karena Maret, APBN tetap defisit. Itu sebabnya pemerintah harus cara solusi pembiayaan APBN.

Tanpa ada perubahan UU atas Batasan pagu defisit jelas, pemerintah tidak bisa terbitkan surat utang (SBN). SBN diterbitkan dengan BI sebagai the last lender. Artinya, kalau pasar tidak bisa menyerap, BI akan membelinya. Makanya perlu PERPPU terhada UU BI. Agar BI bisa membiayai defisit APBN.

Yang membuat saya kagum, solusi itu yang pemerintah lakukan. Menteri bidang ekonomi dan BI merupakan tim yang sangat solid. Mereka bisa memberikan solusi yang luar biasa. Itu karena kehebatan Jokowi memimpin mereka.

Jokowi tetap tenang dan tidak panik dalam kondisi terburuk. Para menteri diminta fokus kepada solusi. Kritik dari mana pun diterima, namun tidak membuat stabilitas politik terganggu. Sehingga kepercayaan publik meningkat.

Jual Global Bond dalam mata uang US dengan nilai terbesar dalam sejarah tetap didukung oleh lembaga keuangan kelas dunia dan sold out. Padahal bond berkategori unsecure alias tanpa collateral. BI dapat fasilitas REPO line dari The Fed sebesar USD 60 miliar. Pemberian fasilitas itu bukan atas dasar politik, tetapi atas dasar vote of confidence.

Artinya, likuiditas dolar terjamin dalam nilai raksasa. Hebat, kan?

Baca juga:

Karena solusi itu butuh dukungan DPR, bagaimana kalau DPR menolak?

Tidak usah khawatir. Solusi itu tetap jalan. Karena dasar PERPPU tentang stabilitas ekonomi diterbitkan sudah sesuai dengan UU. Yaitu, negara dalam keadaan genting. Tidak ada satu pun oposisi bilang kita tidak genting korona. Tidak percaya? Tanyalah sama oposisi dan Anies. Genting bangeeet. Pakai bangeeettt.

Saat sekarang, tidak ada negara yang bebas dari krisis. Kalau ada pengamat/ekonom mengatakan hanya Indonesia yang krisis, itu jelas hoaks. Hanya saja, daya tahan masing-masing negara berbeda dalam menghadapi krisis.

Yang masih mencatat pertumbuhan positif adalah Cina, India, dan Indonesia. Yang lainnya jatuh semua, mendekati nol bahkan merah alias negatif. Apa artinya? Ancaman kemiskinan akibat menyusutnya PDB dan melonjaknya PHK tidak bisa dihindari. Pada titik ini, yang menentukan selamat bukan lagi ekonomi, tetapi karakter bangsa dan kepemimpinan yang kuat.

Dalam situasi depresi, situasi rakyat gamang, wabah baru yang menakutkan adalah lahirnya monster dari politisi populis. Yang menciptakan hoaks dan mimpi di siang hari kepada rakyat yang malas berpikir.

Saya suka cara Cina yang langsung kandangi pengusaha dan rakyat pengeluh di tengah Covid-19. Arab memborgol semua elite kerajaan yang oposisi. Sudah 52 orang ditangkap karena hoaks korona.

Kalau pemerintah tidak tegas kepada sikap oposisi di tengah krisis gabungan, ancaman bukan korona, tetapi lahirnya politisi populis di tengah krisis. Lebih buruk dari Hitler; rasis dan psikopat.

*Salma Brecht

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)