Wajah Baru Penghuni Senayan

Wajah Baru Penghuni Senayan
©GenPI

Pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sudah dilaksanakan. Ada banyak wajah baru yang mengisi kursi Senayan selama bakti periode 2019-2024.

Wajah-wajah baru yang tampil di gedung Senayan. Datang dari berbagai latar belakang (track record) politik yang bervariasi. Mereka hadir dengan membawa sejuta kepentingan rakyat, dan diharapkan itu terealisasi.

Kita berharap semoga wajah-wajah baru ini, selain tampangnya yang cantik dan ganteng, juga punya ide, gagasan, dan konsep yang matang. Mampu melaksanakan amanah dan titipan politik rakyat. Rakyat menaruh sejuta harapan besar kepada wakil mereka yang duduk di Senayan. Semoga di atas semua itu mereka tampil sebagai representasi bagi rakyat itu sendiri.

Apalagi dengan terpilihnya Puan Maharani sebagai Ketua DPR. Diharapkan ada terobosan-terobosan baru yang lahir dari masa kepemimpinannya sebagai Ketua DPR dari kalangan perempuan.

Namun terlepas dari berbagai sudut pandang, tulisan ini ingin mewakili suara-suara mereka yang belum terdengar sampai ke Senayan. Bahwa tulisan ini masih jauh dari cukup, itu memang nyata. Tetapi kita harus membangun persepsi yang sama. Bahwa kita mengharapkan hal yang sama bagi DPR yang kemarin sudah dilantik menjadi wakil rakyat. Itu harapan besar kita. Bahwa mereka menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) bagi kepentingan rakyat.

Jika selama ini ketidakpercayaan publik (public distrust) kepada lembaga legislatif yang ada di Senayan begitu santer terdengar di mana-mana, kita pastikan bahwa wajah baru yang hadir dan baru dilantik kemarin bisa mengembalikan lagi marwah DPR sebagai lembaga wakil rakyat. Biar kepercayaan publik kepada wakilnya sendiri tidak terus-terusan terdengar di mana-mana. Saatnya membersihkan nama baik DPR melalui sikap politik mereka selama berada di Senayan.

Apalagi seremoni sewaktu dilantik, diambil sumpah sebagai wakil rakyat yang siap berdedikasi bagi kepentingan rakyat. Sumpah tidak sembarang sumpah. Makna di balik sumpah tersebut harus mampu dipertanggungjawabkan. Mesti wajah-wajah baru DPR yang diambil sumpahnya bisa memahami sekaligus mempertanggungjawabkan sumpahnya.

Karena itu, wajah baru ini perlu menginternalisasikan ke dalam pikiran dan perbuatan mereka selama berada di Senayan. Seturut dengan sumpah yang telah mereka ambil sewaktu pelantikan. Di sana mereka secara meyakinkan harus mampu memikul tanggung jawabnya sebagai anggota Dewan yang dipercayakan rakyat untuk menjalankan amanah.

Perlu diingat, menjalankan amanah tersebut harus dilandaskan dengan hati yang terbuka dan pikiran yang penuh dengan harapan rakyatnya. Secara tidak langsung, wakil rakyat ini harus menjaga agar titipan pesan rakyat tidak menjadi bahan yang ditumpukan di gedung Senayan. Tetapi perlu realisasi sesuai dengan janji politik yang mereka sampaikan sewaktu turun kampanye.

Mengembalikan Citra Dewan

Boleh dibilang bahwa selama ini tingkat kepercayaan publik kepada DPR sudah menurun. Bahkan hampir-hampir citra lembaga legislatif di mata publik dinilai kurang baik.

Pertanyaannya, ada apa sebenarnya dengan DPR kita hari ini? Mengapa kepercayaan itu kini tumpul di mata dan pikiran rakyat terhadap DPR sebagai wakil mereka di Senayan?

Muara dari pertanyaan ini tentu harus dilihat dari situasi serta sepak terjang kinerja DPR selama ini. Dalam beberapa tahun belakangan, kasus korupsi mulai menyedot perhatian khalayak umum (publik). Tidak tanggung-tanggung, kerugian negara dari tindak pidana korupsi mencapai triliunan. Suatu sikap korup yang sangat tidak terpuji sekaligus merusak citra suatu negara di mata negara lain.

Ini menandakan ada yang tidak beres dengan sistem kontrol yang selama ini dilakukan. Ya, meskipun komisi pemberantasan korupsi (KPK) terus melakukan pengejaran kepada para koruptor. Tetapi tetap saja, korupsi tidak akan berhenti sampai di situ bahkan terus dilakukan.

Penyebab itulah yang membuat tingkat kepercayaan publik kepada DPR mulai menurun. Kasus korupsi yang terjadi dan dilakukan oleh lembaga legislatif telah mencoreng citra DPR sebagai wakil rakyat.

Contoh nyata atas semua itu, ialah kasus korupsi yang menyeret Setya Novanto dalam kasus E-KTP. Korupsi yang menelan biaya negara triliunan itu telah berdampak buruk bagi masyarakat secara luas.

Di mana-mana, masyarakat mengeluh dengan proses pencetakan KTP yang banyak mengalami masalah. Kasus korupsi semacam itu telah menjadi sangat buruk bagi masyarakat sendiri. Itu merupakan sikap yang tidak terpuji sebagai wakil rakyat.

Satu dari sekian kasus yang dilakukan oleh DPR inilah yang sebenarnya membuat kepercayaan itu mulai tergerus. Apalagi jika kita menjangkar sedikit lebih luas dari itu, banyak perilaku-perilaku dewan selama ini yang membuat kepercayaan itu menjadi sangat menurun. Itulah mengapa akhir-akhir ini lembaga legislatif banyak disorot oleh publik. Karena perilaku-perilakunya yang tidak sejalan dengan sumpah yang mereka ambil sewaktu pelantikan dulu.

Seharusnya, sebagai lembaga representasi suara rakyat, perilaku serta pikiran DPR harus sejalan dengan harapan dari rakyat yang telah mengutusnya. Tetapi di luar nalar sehat, perilaku DPR justru telah menjadikan publik tidak lagi percaya pada mereka. Inilah wujud dari sikap lembaga legislatif yang tidak mampu menjaga amanah rakyat. Padahal itu adalah titipan moral yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyatnya sendiri.

Tetapi ada harapan baru yang sekiranya dapat mengembalikan citra DPR melalui wajah-wajah baru yang kemarin baru dilantik. Kehadiran wajah-wajah baru di Senayan diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan publik seperti semula.

DPR harus mampu meyakinkan publik bahwa publik tidak sia-sia mengutus mereka untuk duduk di Senayan selama masa bakti 5 tahun ke depan. Karena, jika DPR bisa menarik kembali dukungan publik (kepercayaan), itu berarti pintu masuk bagi produk legislasi DPR dapat benar-benar mementingkan kepentingan rakyat. Sehingga partisipasi publik dalam kebijakan yang diusung oleh DPR dapat benar-benar terlaksana.

Patrisius Jenila
Latest posts by Patrisius Jenila (see all)