Waktu Aku Kebingungan

Waktu Aku Kebingungan
©IDN Times

Pukul 22.00

Tiba-tiba aku teringat sebuah lika-liku cerita berbentuk
labirin yang mengabstraksi alam pikiran. Kebetulan kamu
datang malam ini dan kita bercakap-cakap dalam sebuah
perspektif yang sama. Kita saling pandang tak karuan.

Aku ingin tidur dan mulai menarik selimut serta tidak
lupa mengatur alarm agar bangun sebelum fajar tiba.
Kamu, aku tempatkan di bawah lemari baju dan berharap
akan tersapu oleh ibu yang selalu beres-beres rumah.

Aku mencoba cuek untuk mengurangi mobilitas
Pikiran dan menyadari paradigma yang salah
sebelumnya. Padahal aku merasa baik-baik saja,
bahkan tidak sampai meminum dua gelas kopi hari ini.

Pukul 05.00

Aku bangun. Ada beberapa sajak yang
menunggu untuk disentuh. Aku mendengar
kamu membuka pintu kamarku untuk pamit
pulang sambil tersenyum manis. Aku tahu tabiatmu.

Sebetulnya, ada orang yang sudah menantiku
pada ujung jalan sana. Sedangkan aku masih
terdiam di persimpangan jalan yang terus-terusan
dihasut ke kanan atau ke kiri.

Catatan Rumah Tangga

Pagi-pagi istriku sudah berada di tempat kerja,
membuatkan sarapan dan segelas teh manis.
Rencana mengenai hari ini kita bicarakan sambil
ditemani udara pagi, tapi kamu malah
mengkhawatirkan hari esok, sontak saja aku
benturkan gelas teh manis ke lantai. Kemudian,
kamu terdiam dan hujan turun di bawah pelipis matamu.

Aku tahu, irama ini hanya bagian kecil kisah semu.
Bilik-bilik rumah menyaksikan dengan serius kejadian itu.
Aku keluar rumah untuk berpikir dan merenung.
Sepertinya, keluarga ini mempunyai masa depan.

Merenung Adalah Keterampilan Hidup

Air mengalir di tengah dua landas tumpu leluhur
yang bergerak menuju lautan lepas.
Dari hulu sampai ke hilir, perahu-perahu mengayuh
meninggalkan irama rumah tangga.

Aliran sungai selalu menyimpan
kehidupan sepanjang ratusan kilometer.
Kanan kiri terdapat rumah-rumah kayu,
termasuk rumahku.

Aku selalu tersenyum
melihat cakrawala dalam harapan.
Dua, tiga, sampai beberapa kali perahu lewat
selalu kudoakan sebagai tanda persamaan nasib.

Aku memasak sembari menunggu Juragan pulang.
Kakak mengasuh adiknya bermain
bersama teman-temannya sambil kegirangan
walau hanya memakai celana tanpa baju.

Sungai itu menyimpan jiwa dan
memberi maslahat dalam kehidupan.
Juragan pulang, anakku menghampiri untuk
memeluknya agar diberi uang jajan.

Juragan selalu menyimpan topinya
dekat lemari tua yang berpenghuni rayap.
Karena lelah, ia tertidur pulas
membawa tanggungan sampai ke mimpi .

Pagi-pagi, udara membuat bibir sungai tersenyum sumringah.
Aku menghangatkan makanan sisa kemarin untuk dijadikan sarapan.
Juragan segera menyantapnya, kemudian pergi dan
membuka jalan panjang untuk hidup lebih lama.

Hari ini, ia janjikan pulang untuk membeli
jam yang menunjukkan waktu
datangnya keberhasilan
dan menenggelamkan puing-puing kebatilan.

Aku terdiam karena Juragan
selalu pulang membawa kabar nelangsa.
Bagiku, merenung adalah keterampilan hidup
Aku harus berharap pada siapa?

    Alvian Rivaldi Sutisna
    Latest posts by Alvian Rivaldi Sutisna (see all)