Waktu Itu di Laut Loloda

Waktu Itu di Laut Loloda
┬ęPoros Timur

Masih segar dalam ingatan
Memandang laut yang sempatku abadikan
Birunya laksana cinta kekasihku
Yang membentang mendekap rindu

Pagi tiba memanen senyuman yang memerah
Menebar pesona ikonik laut yang membiru
Ah, indahnya aku tak lupa, dibingkai batu cinta
Perjumpaan riak bersama rijang

Hari-hari kala itu, sempatku habiskan sore
Memandang senja di atas galampa
Riak begitu mesra memainkan gucefa
Bersama anak-anak laut Loloda
Yang gemar menari-nari di atas laut
Mengepakkan dada
Mengepakkan senyuman
Sembari balapan sampan

Tak menunggu laut pulang
Aku menyelami dengan kegirangan
Sungguh sejuk, kuhabiskan tawa
Sebelum senyuman berganti duka

Laut Loloda, masih kuingat
Di sana lalulintas para nelayan
Para ikan dan petani
Bukitnya tumbuh kekuningan hamparan rumput
Terikat bersama jere dan kan putih
Penuh harap dan munajat

Bila malam, laut laksana perkampungan
Dari jauh cahaya lampu menyapa kegirangan
Menandakan ada rupiah yang lagi mengapung
Ada mimpi yang bergelantungan

Politik Itu Polusi

Politik itu polusi
Setiap manusia di dalamnya
Terdesak dan pengap bingung
Tak ada yang bersih apalagi suci

Politik itu polusi
Di antara yang jujur
Mereka kotor berlumuran lumpur
Meracuni segala pikiran
Demi kekuasaan

Baca juga:

Politik itu polusi
Tak ada yang baik
Apalagi benar
Mengatasnamakan keadilan
Namun penuh kemunafikan
Mengorbankan banyak orang
Perpecahan juga persatuan

Katamu Dadaku dan Kataku

Ketika pagi menyapa
Kau membawa matahari di dadaku
Katamu, agar kau tak dikepung kegelapan
Bila kau bersembunyi di sana
Saat dadaku penuh risau dan rapuh

Namun kau tak perlu bersusah-payah
Gelap mungkin mengusik
Kau tak mungkin nyaman
Matahari kadang berlebihan
Tak perlu membawanya
Cukup kau yang ada di sana
Dadaku terangnya tak pernah redup

Katamu, dadaku sedang gerimis
Menciptakan genangan, tanpa kenangan
Tentang langkah yang menerka-nerka
Tentang jalan yang tak berarah

Kau tak perlu cemas
Sedang dadaku bila kau berlabu
Setiap rentikan gerimis yang menciptakan genangan
Kau adalah harapan yang menjadi cawan
Menyatukan semua kenangan
Bahkan menyematkan kekuatan

Bila Kembali Itu Tak Mungkin

Bila kemudi waktu dalam genggamanmu
Setiap detik dapat kau hendaki sesuka hati
Apa kau ingin kembali pada hari kemarin?

Menyimpan tenaga melewati luka
Merubah segalanya yang berlindung di balik air mata
Meraba-raba kegelapan yang mendekap mu
Untuk melepaskan penyesalan
Yang kini selalu berucap manis
Disaat awan lebat berbicara tanpa kata
Akankah kau kembali pada kemarin?

Banyak tanya yang akan datang
Saat itu jika tak begini atau begitu
Mungkin tak seperti ini
Tak juga seperti itu
Ah, benarkah begitu

Baca juga:

Tak mungkin!
Jangan gegabah!
Jangan lengah!

Kekalutan hidup menyapa lirih
Gemulai suaranya mensyaratkan senja tanpa janji
Bahwa setiap jalan punya resiko
Kau tak mungkin menuai kebahagiaan
Di setiap dekapan musim gugur
Apalagi dugaan-dugaan

Dalam khayalan kau terjebak
Pada kemungkinan-kemungkinan
Tak ada yang melerai
Kau luntang-lantung tak punya pilihan
Dilema melemahkan raga
Kau tak mungkin kembali

Fikram Guraci
Latest posts by Fikram Guraci (see all)