Wanita Maskulin dalam Femininnya

Wanita Maskulin dalam Femininnya
©Pixabay

Wanita identik dengan kelembutan, sedangkan laki-laki identik dengan kekuatan. Hal ini yang membuat terciptanya konstruk khusus pembeda antara wanita dan laki-laki.

Konstruk khusus pembeda antara wanita dan laki-laki ini masuk dalam wilayah pekerjaan. Bahwa, adanya pekerjaan yang dikhususkan untuk laki-laki dan pekerjaan yang dikhususkan untuk wanita. Pekerjaan yang membutuhkan otot dan tenaga ekstra menjadi bagian laki-laki, sedangkan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan tidak terlalu membutuhkan tenaga ekstra adalah menjadi bagian wanita.

Namun, adanya pembagian pekerjaan yang telah mengkhususkan antara wanita dan laki-laki bukanlah alasan bahwa wanita tidak dapat melakukan pekerjaan yang pada umumnya dilakukan oleh laki-laki, begitu pun sebaliknya. Perlu diingat bahwa wanita dan laki-laki diciptakan untuk saling melengkapi dan mengisi.

Dalam hal ini, Fahruddin Ghozy menuliskan bahwa pembagian pekerjaan tersebut tidak lalu menjadikan wanita tidak boleh melakukan pekerjaan yang pada umumnya dilakukan oleh laki-laki, demikian juga sebaliknya. Apalagi bila terkait dengan pembagian pekerjaan rumah tangga. Sebab, jika sudah begitu, maka akan ada “sekat” di antara dua orang yang telah mengikrarkan ikatan suci untuk bahu-membahu  dalam mengusung rumah tangga yang sakinah, mawadah, wa rahmah.

Suami wajib memberi nafkah lahir batin kepada istrinya. Namun, hal itu kemudian tidak menjadikan sang istri untuk berdiam saja. Sebab, sang istri juga memiliki kewajiban dalam rumah tangga. Imbal balik dari hak dan kewajiban suami-istri dalam rumah tangga masing-masing berbeda.

Menurut Fahruddin Ghozy, wanita yang tidak terlalu kaku dalam menerapkan pembagian pekerjaan adalah wanita setengah bidadari. Laki-laki harus berupaya untuk mendapatkan wanita pendamping yang bersedia untuk melakukan apa pun yang mereka bisa, selama tidak bertentangan dengan agama, kepatutan, dan kesusilaan.

Sudah menjadi hal biasa apabila suami mampu untuk mendampingi istrinya setiap saat. Hal tersebut dapat terjadi sebab faktor pekerjaan maupun faktor yang lain. Tentu dalam keadaan seperti itu sang suami ingin istrinya rela hati untuk melakukan apa yang bisa dia lakukan, sebelum meminta bantuan kepada orang lain.

Fahruddin Ghozy memberikan permisalan wanita pendamping yang maskulin dalam kefemininnya, yaitu seperti yang telah diperlihatkan oleh dua orang wanita Madyan yang ditemui oleh Nabi Musa ketika melarikan diri dari kejaran Fir’aun. Kedua wanita tersebut bersedia menggantikan pekerjaan ayahnya yang sudah tua untuk mengembala ternaknya.

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua wanita itu menjawab: Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” (al-Qashash: 23)

Selain itu, Fahruddin Ghozy juga memberikan permisalan kisah Asma’, putri Abu Bakar, yang berkhidmat kepada Zubair bin Awwam, suaminya. Kisah tersebut tertuang dalam hadis yang diriwayatkan oleh Asma binti Abu Bakar r.a..

Asma binti Abu Bakar berkata, “Zubair menikahiku, sedangkan ia tidak memiliki harta atau hamba sahaya atau apapun kecuali kudanya. Akulah yang memberi makan kudanya, mencukupi bahan makanannya, mengurusnya, menumbukkan bji bagi hewan penyiramannya. Memberinya makan, memberi minum, menjahitkan timbanya, dan membuatkan adonan rotinya. Tetapi, aku tidak pandai membuat roti. Karena itu, wanita Ansar tetanggalah yang membuatkan roti untukku. Mereka adalah wanita jujur. Ia berkata, Aku biasa memindahkan biji kurma dari tanah Zubair yang diberikan Rasulullah saw. Dengan memanggulnya di atas kepal yang berjarak kira-kira dua pertiga farsakh (1 farsakh= 3 mil/8km).” (HR Bukhari dan Muslim)

Fahruddin Ghozy juga menceritakan kisah Fathimah, putri Rasulullah saw., yang berkhidmat pada suaminya, Ali bin Abi Thalib. Dikisahkan bahwa suatu hari masuklah Rasulullah menemui Fathimah. Didapati putrinya sedang menggiling syair (sejenis bji gandum) dengan menggunakan sebuah penggilingan tanah dari batu sambil menangis.

Kemudian, Rasulullah bertanya kepada putrinya tentang mengapa ia menangis. Kemudian, Fatimah bercerita bahwa urusan-urusan rumah tanggalah yang menyebabkan ia menangis dan Fatimah juga mengatakan, “Ayahanda sudikah kiranya yang meminta ‘Ali (suaminya) mencarikan saya seorang pembantu untuk menolong saya menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah?”

Rasulullah tersenyum, kemudian memberikan bimbingan kepada yang lebih baik dari sekadar seorang pembantu.

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu? Apabila kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring, bacalah Allahu Akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali, dan Alhamdulillah 33 kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”

Kemudian Rasulullah saw., melanjutkan nasihatnya, “Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya, maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.”

Menurut Fahruddin Ghozy, begitulah wanita mulia yang pantas didambakan menjadi pendamping hidup. Tidak takut kuku patah dan kulitnya berubah untuk melakukan pekerjaan yang kasar. Berkhidmat pada suaminya yang juga sama kerasnya berjuang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Tetapi meskipun begitu, menurut Fahruddin Ghozy, wanita pendamping juga harus memiliki aturan dan patokan dalam memilih sesuatu yang akan dikerjakan. Sebab, suami tentu tidak ingin karena kekhidmatan seorang wanita kepada suaminya kemudian kepatutan dan nilai dilanggarnya. Sehingga menjerumuskannya dalam tindakan “wanita yang menyerupai laki-laki”, yang justru akan mendatangkan kerugian besar baginya.

Sumber Referensi:

Ghozy, Fahruddin. 2011. Mencari Wanita Setengah Bidadari. Jakarta: Gema Insani.

    Gibran Zahra