Waspada Evolusi Jamaah Islamiyah dan Euforia Taliban

Waspada Evolusi Jamaah Islamiyah dan Euforia Taliban
©TW

Nalar Warga – Tragedi Bali 12 Oktober 2002, tragedi paling kelam kebrutalan Jamaah Islamiyah menembus batas kemanusiaan. Bom meledak, 202 nyawa orang tak bersalah melayang.

Jamaah Islamiyah makin brutal. Malam Natal 24 Desember 2000, JI meledakkan gereja-gereja di Medan, Pematang Siantar, Batam, Pekanbaru, Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Pangandaran, Kudus, Mojokerto, dan Mataram secara bersamaan. Bahaya terorisme itu nyata!

Jamaah Islamiyah ini lahirnya dibidani mantan tokoh NII, yakni Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar pada 1993, dengan tujuan tegaknya Daulah Islamiyah di Indonesia tercapai dan bertransformasi jadi monster.

53 teroris JI dan JAD kembali ditangkap Agustus ini di 11 provinsi. Mereka mempersiapkan amaliyah di Hari Kemerdekaan RI. Kesigapan Densus 88 kita apresiasi. Aksi mereka gagal. Terima kasih, Polri. Jangan kasih ruang.

Penangkapan Jamaah Islamiyah ini menguak evolusi mereka perihal pendanaan dana operasionalnya. Ditangkapnya Ketua LSM Syam Organizer, dengan bukti 1.540 kotak amal, adalah contoh kecil JI menggalang 124 miliar lebih untuk operasionalnya.

Walaupun Taliban dan Jamaah Islamiyah tidak ada hubungan ideologi dan organisasi, tujuan mereka sama, yakni terwujudnya negara agama. Persamaan mereka ada irisannya dengan Ikhwanul Muslimin dan organisasi ini lahir dari ideologi salafi-wahabi yang mengklaim kebenaran inklusif.

Jamaah Islamiyah memang tidak berafiliasi langsung ke Taliban. Tapi ingat, para petinggi JI adalah alumni pelatihan militer di Afghanistan yang saat ini dikuasai Taliban. Polisi menyatakan, kurang lebih 6.000 jaringan JI aktif terafiliasi di Indonesia perlu diwaspadai.

Euforia Taliban ini di Indonesia terlihat juga dieskalasikan oleh beberapa politisi, seperti Hidayat Nur Wahid dari PKS, yang mendesak Indonesia melakukan lobi internasional demi perdamaian di Afghanistan.

Ahmad Sahroni, anggota Komisi 3 DPR, mengatakan, Taliban itu adalah kelompok teroris yang nyata dengan rekam jejak kekejian yang jelas. Tidak ada alasan untuk Indonesia mendukung Taliban, apalagi mengatasnamakan agama Islam.

Ingat, harus kita sikapi tegas. Tidak ada ruang di republik ini untuk kelompok-kelompok teroris berkembang. Bahaya terorisme terekam jelas. Mereka predator yang telah mengorbankan banyak rakyat sipil tak berdosa. Lawan terorisme!

*NinjaCir3ng

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)