What Is Enlightenment? Kritik terhadap Klaim Abad Pencerahan

What Is Enlightenment? Kritik terhadap Klaim Abad Pencerahan
Β©Hard Things

Sejarah tidak ditulis sebagai sejarah, melainkan untuk menandai satu situasi politik pengetahuan dalam periode tertentu. Bagaimana pengetahuan tersebut muncul, s𝘦𝘡𝘡π˜ͺ𝘯𝘨 historis macam apa yang memungkinkannya hadir, konstruksi metodis seperti apa yang berlangsung di dalamnya, formasi ke-politik-an apa yang membentuknya, serta pertanyaan-pertanyaan remeh mengenai apa dan siapa tokoh yang mengisi etalase sejarah di masa itu.

Kasus paling penting dalam sejarah perkembangan keilmuan yang mesti dipertanyakan secara radikal adalah klaim tentang “abad pencerahan”. Abad yang diidentikkan sebagai satu-satunya rujukan bagi perkembangan pengetahuan manusia modern.

Dari mana ide dan klaim tersebut muncul? Formasi genealogis macam apa yang mengokohkannya hingga hari ini ? Kita bisa memeriksa soal-soal itu dengan berangkat dari beberapa uraian Imanuel Kant sebagai aktor sejarah yang mengusung ide pencerahan ini.

Dalam satu kesempatan di November 1784, wawancara editor majalah Jerman π΅π‘’π‘Ÿπ‘™π‘–π‘›π‘–π‘ π‘β„Žπ‘’ π‘€π‘œπ‘›π‘Žπ‘‘π‘ π‘β„Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘‘ dengan Immanuel Kant yang menyodorkan satu pertanyaan kunci: π‘Šπ‘Žπ‘  𝑖𝑠𝑑 π΄π‘’π‘“π‘˜π‘™π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘”? telah berkontribusi merentang formasi pengetahuan masyarakat modern sekaligus membonsai pengetahuan sosial politik kita hingga hari ini.

Bukan Kant yang pertama kali menerima pertanyaan ini, melainkan dua bulan sebelumnya, pertanyaan ini telah dijawab oleh Moses Mendelssohn di majalah yang sama.

Sayangnya, Kant tidak sempat mengetahuinya saat ia menjawab wawancara tersebut. Argumentasi Kant kemudian menjadi kultus baru yang berpijak pada era pencerahan sebagai satu-satunya simbol kemajuan sejarah. Abad pencerahan dikokohkan menjadi referensi tunggal yang memanipulasi perspektif kita tentang historiografi dalam studi-studi ekonomi-politik. Tak terkecuali untuk melakukan justifikasi tentang perkembangan keilmuan.

Jawaban Kant yang membagi perkembangan pengetahuan ke dalam dua tahapan sejarah: abad kegelapan dan pencerahan, telah berhasil membentuk nalar manusia modern yang angkuh dan gagap dalam berbagai peristiwa sosial-politik besar di sembarang waktu.

Sebut saja perang dunia, pertarungan ideologi, lahirnya manusia-manusia mesin, dan sejumlah model negara maksimus yang berbiak di atas formalisme dan keangkuhan sejumlah institusi politik. Max Weber dan Friedrich Hegel adalah dua tersangka berikutnya yang bertanggung jawab terhadap desain sejarah, model institusi politik, dan konsep kewargaan.

Dalam apresiasi lain, Kant memang berhasil menampilkan semacam π‘Šπ‘Žβ„Žπ‘™π‘ π‘π‘Ÿπ‘’π‘β„Ž atau motto pencerahan: π‘†π‘Žπ‘π‘’π‘Ÿπ‘’ 𝐴𝑒𝑑𝑒!, π΅π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘– π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π΅π‘’π‘Ÿπ‘π‘–π‘˜π‘–π‘Ÿ yang menjadi penanda kemenangan rasionalitas manusia modern. Manusia yang baginya telah keluar dari β€œketidak-dewasaan”. π‘†π‘Žπ‘π‘’π‘Ÿπ‘’ 𝐴𝑒𝑑𝑒 adalah ungkapan penting yang dipinjam Kant dari nasihat Horatius (Horace) kepada Lollius Maximus, seorang pemuda yang sedang belajar retorika di Roma.

Ungkapan yang kelak menurut Foucault (1789) menjadi pintu masuk paling bijak meskipun belum mampu dijawab oleh manusia modern sekaligus tidak berhasil disingkirkan dalam sejarah pengetahuan dunia. Sebagian besar kepustakaan kita selalu memercayai periode 1600an-1945 ini sebagai satu-satunya titik kebangkitan rasionalitas manusia dan mesin. Fase yang dipercaya selamanya akan bisa melepaskan manusia dari kungkungan otoritas dan kejumudan akal-budi.

Tapi dengan begitu, klaim abad pencerahan tak berarti lolos untuk disoalkan. Pertanyaan metodik bisa diarahkan untuk membongkar klaim manusia pencerahan yang secara gamang telah menempatkan fase sejarah sebelumnya sebagai abad kegelapan (π‘‘β„Žπ‘’ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘˜ π‘Žπ‘”π‘’).

Apakah benar era sebelum abad pencerahan benar-benar gelap sehingga kedatangan masa setelahnya diklaim telah membawa pencerahan? Apakah ada satu formasi homogen tentang sejarah kegelapan dan pencerahan? Apakah sejarah pengetahuan juga berjalan dalam tahapan-tahapan tertentu yang pasti?

Atau jika diperluas, mengapa klaim abad kegelapan yang berlangsung di Eropa harus diduplikasi ke seantero dunia padahal pada masa itu, sebagian Eropa, dan dunia timur justru telah maju? Seolah-olah dunia seutuhnya mengalami kegelapan sebelum datangnya abad pencerahan. Mengapa formasi pengetahuan yang parsial itu kemudian menjadi referensi tunggal tentang perkembangan dan kemajuan dunia hari ini?

Gugatan-gugatan ini datang mulai dari makalah seminar Foucault hingga email Sean Goodlett beberapa tahun lalu yang semuanya mengkritik slogan-slogan pencerahan. Foucault mengkritik secara metodik argumentasi abad pencerahan, sedangkan Goodlett menolak slogan π‘†π‘Žπ‘π‘’π‘Ÿπ‘’ 𝐴𝑒𝑑. π‘π‘œ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘‘π‘œ π‘˜π‘›π‘œπ‘€, 𝑏𝑒𝑑 π·π‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘‘π‘œ π‘Šπ‘–π‘ π‘’! Gugatan ini terwariskan dalam perdebatan-perdebatan paradigmatik antara Foucauldian dan Habermasian hingga hari ini.

Salah satu tulisan terakhir yang diselesaikan Foucault untuk mengkritisi konsep abad pencerahan sebelum kematiannya pada Juni 1984 adalah esai yang berjudul sama dengan yang ditulis Kant, π‘Šβ„Žπ‘Žπ‘‘ 𝑖𝑠 πΈπ‘›π‘™π‘–π‘”β„Žπ‘‘π‘’π‘›π‘šπ‘’π‘›? Esai ini hendak disampaikan di University of California, Berkeley, pada musim semi 1984 sebagai bagian dari seminar tentang modernitas dan pencerahan yang pesertanya termasuk JΓΌrgen Habermas, Charles Taylor, Richard Rorty, Hubert Dreyfus dan Paul Rabinow. (d’Entreves, 1999).

Dalam esai tersebut, Foucault mengurai filsafat era modern yang diklaim Kant sebagai contoh filsafat yang berusaha menjawab pertanyaan yang muncul secara sembrono selama dua abad (1789). Foucault lalu menutup tulisannya dengan melampaui perdebatan tentang penerimaan dan penolakan terhadap abad pencerahan.

Halaman selanjutnya >>>
    Ardiman Kelihu