Why, Pak Jokowi?

Ambisi Kekuasaan Pak Jokowi?

Sekali lagi, memang ada hal-hal yang sangat kompleks untuk menganalisis fenomena belakangan ini. Selain kemungkinan-kemungkinan di atas yang melatarbelakangi, kemungkinan lain yang tidak bisa kita abaikan adalah ambisi kekuasaan dari Jokowi itu sendiri.

Menurut hemat saya, penjelasan bahwa ia berusaha untuk mencari orang yang bisa meneruskan legacy-nya saja tidak cukup. Kita tahu, baik Ganjar maupun Prabowo adalah orang-orang yang berkomitmen melanjutkan kerja-kerjanya, dan apalagi nama-nama yang sebelumnya beredar dan diduga akan menjadi cawapres pun adalah mereka yang masih di lingkaran istana. Jadi, kemungkinan jawaban lain adalah hasrat berkuasa itu sendiri.

Ada adagium lama bahwa kekuasaan itu memabukkan dan dapat membuat orang lupa diri. Hal inilah yang juga tampaknya terjadi. Apalagi kita tahu, sebelum Gibran naik menjadi cawapres, ada isu-isu yang dimainkan oleh orang-orang di sekitar istana mengenai isu 3 periode hingga penundaan pemilu. Menurut hemat saya, wacana tersebut nyaris mustahil muncul ke dalam permukaan jika sekurang-kurangnya tidak ada restu darinya.

Hal lain yang kemungkinan mendasari juga adalah kepercayaan diri seorang Joko Widodo yang sangat tinggi, yang mungkin berpikir bahwa langkah-langkah politiknya tetap akan mendapat banyak dukungan mengingat rating kepuasaan masyarakat terhadapnya yang dinilai tinggi.

Dan terakhir, ambisi kekuasaan Pak Jokowi tampaknya disambut riang gembira oleh partai-partai yang mengaku tegak lurus terhadapnya. Sosok Gibran yang dianggap representasi dari trahnya relatif lebih diterima dibanding sosok nama lain yang digadang-gadang akan menjadi cawapres juga. Jadi, di sinilah salah satu pangkal masalahnya; ambisi kekuasaan pribadi bertemu dengan pihak-pihak yang juga bisa meraup keuntungan atasnya.

Baca juga:
Cusdiawan