“Wisata Haram” Lebih Diminati Wisman daripada “Wisata Halal”

“Wisata Haram” Lebih Diminati Wisman daripada “Wisata Halal”
©Monumen Yesus Memberkati/Citraland Manado

Nalar Politik – Terdapat perbedaan tajam antara objek “wisata haram” (wisata biasa) dengan objek “wisata halal” (wisata luar biasa) di negeri ini. Hal itu terlihat jika kita membandingkannya berdasar jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke masing-masingnya.

Bandingkanlah misalnya kunjungan wisman ke destinasi wisata yang berlokasi di Provinsi Sulawesi Utara dengan yang ada di Provinsi Aceh. Menurut sejumlah sumber, objek wisata di Sulut jauh lebih diminati wisman daripada Aceh.

Sebagaimana dilansir Republika, Kementerian Pariwisata menobatkan Provinsi Sulawesi Utara sebagai The Rising Star Pariwisata Indonesia. Menpar Arief Yahya menyebut daerah ini punya performa pariwisata terbaik se-nusantara berdasar kunjungan wismannya yang naik enam kali lipat dalam kurun waktu 2015 – 2018.

“Dalam empat tahun, kunjungan wisman ke Sulut meningkat enam kali lipat. Jadi, tahun ini, Sulut menjadi satu-satunya provinsi yang mendapatkan penghargaan ini,” kata Arief.

Komitmen dari para pimpinan daerah, mulai dari bupati, wali kota, hingga gubernurnya, disebut-sebut menjadi kunci keberhasilan Sulut dalam memajukan objek wisatanya. Manado dan Bitung terpilih sebagai destinasi favorit para wisman.

Wisman ke Aceh?

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Aceh, wisman yang masuk ke Negeri Syariat ini, per Januari 2019, cuma 1.902 orang. Artinya, terjadi penurunan drastis sebesar 32,12 persen jika dibanding Januari 2018.

“Jumlah wisman pada Desember 2018 sebanyak 4.056 orang. Pada Januari 2019, jumlah wisman yang berkunjung ke Aceh 1.902 orang,” kata Kepala BPS Aceh, Wahyudin, via Kumparan.

Dan, jika dibanding lagi dengan jumlah wisman pada Desember 2018, tingkat penurunannya makin dahsyat, yakni 53.11 persen. Untuk itulah Wahyudin turut mendorong agar pemerintah bisa memberi inovasi baru yang mampu memancing minat wisman berkunjung ke Aceh.

“Pemerintah setempat harus melakukan pembenahan dan perbaikan destinasi wisata. Serta meningkatkan event-event budaya dan gencarnya promosi wisata Aceh tentunya.”

***

Demikianlah perbandingan objek “wisata haram” vs “wisata halal” di negeri ini. Bisa disebut, konsep yang “biasa” seperti terdapat di Sulawesi Utara ternyata lebih diminati wisman daripada yang “luar biasa” sebagaimana di Aceh.

Jadi pemerintah harus pilih dan menetapkan konsep yang mana untuk setiap objek wisatanya di masing-masing daerah? Semoga tidak salah ambil keputusan. [re/ku]