Ya, Saya Mendukung RUU Cipta Kerja!

Ya, Saya Mendukung RUU Cipta Kerja!
©Indeks

Ada alasan “ideologis” yang lebih dari cukup bagi saya untuk mendukung RUU Cipta Kerja. Teman-teman yang sering berinteraksi dengan saya, baik secara offline maupun online, kiranya maklum bahwa saya sudah sejak sangat lama mendukung ide-ide kebebasan ekonomi, jauh sebelum kemudian ide-ide ini—tidak semua, namun sebagian yang sangat penting—dituangkan dalam rumusan RUU Cipta Kerja.

Saya memaklumi bahwa alasan-alasan ideologis liberalisme ekonomi itu akan sulit diterima oleh teman-teman dengan preferensi ideologis yang berbeda. Tapi, mari tinggalkan sejenak perbedaan preferensi ideologis tentang apa yang baik bagi masyarakat untuk menengok hasil Survei Angkatan Kerja Nasional, Februari 2020.

Indonesia, berdasarkan data tersebut, memiliki lebih dari 137 juta individu angkatan kerja, setara dengan 69,17% dari total 199-an juta penduduk usia kerja. Dengan mencermati hasil survei angkatan kerja sebelumnya, terlihat bahwa laju kenaikan angkatan kerja baru makin tak berimbang dengan ketersediaan lapangan kerja. Berdasarkan data Februari 2020, lebih dari enam juta individu angkatan kerja menganggur, 4,99% dari total angkatan kerja.

Dengan mewabahnya Covid-19 dan dampak pelambatan ekonomi ikutannya, jumlah individu menganggur menjadi berlipat ganda hingga diperkirakan, dari temuan survei SMRC Juli 2020, sekitar 29 juta! Ekonomi Indonesia hanya perlu sekali lagi terkontraksi sebelum terperosok ke jurang resesi dan jumlah orang yang kehilangan pekerjaan akan makin berlipat ganda.

Seperti sudah terlihat sekarang, kehilangan pekerjaan tidak hanya dialami kelompok buruh/pegawai yang populasinya 39,84% dari total angkatan kerja yang bekerja, tetapi juga kelompok usahawan (38,83%) dan pekerja bebas (8,17%).

Menurut saya, RUU Cipta Kerja jauh lebih baik dari UU Ketenagakerjaan yang kini berlaku. Ancaman resesi akibat Covid-19 dan masa-masa sesudahnya membuat RUU ini makin relevan bagi pemulihan dan keberlanjutan ekonomi sejak sekarang dan sesudahnya.

Baca juga:

RUU Cipta Kerja tidak hanya mengakomodasi kepentingan 52-an juta penduduk Indonesia yang bekerja sebagai buruh (jumlahnya kini banyak berkurang akibat krisis Covid-19!). Dalam RUU Cipta Kerja, juga diakomodasi kepentingan 50-an juta penduduk yang bekerja sebagai usahawan (banyak di antaranya kesulitan dan bahkan tak lagi mampu menjalankan usaha, sebagian besarnya kalangan UMKM), 10-an juta pekerja bebas (freelance) dan 17-an juta pekerja keluarga/tak dibayar yang selama ini kurang terlindungi secara hukum, serta lebih dari enam juta penganggur (jumlahnya jauh lebih banyak lagi akibat maraknya buruh/pegawai yang di-PHK/dirumahkan dan usahawan yang bisnisnya tumbang).

Sama sebagaimana penduduk yang bekerja sebagai buruh/pegawai membutuhkan kepastian hak-hak kepegawaian, penduduk yang bekerja sebagai usahawan membutuhkan kelancaran investasi dan kemudahan berbisnis, sedangkan para pekerja bebas, pekerja keluarga, dan penganggur membutuhkan pasar kerja dengan akses yang lebih terbuka dan persaingan yang adil—yang hanya mungkin tersedia dengan memadai jika kebebasan berinvestasi, kebebasan berbisnis, dan kebebasan pasar kerja terlembaga dengan baik.

RUU Cipta Kerja adalah titik kompromi optimal dari beragam pemangku kepentingan dalam kesatuan ekosistem ketenagakerjaan untuk ekonomi Indonesia yang lebih bebas dan menyejahterakan. Dan, ya, saya mendukungnya!

Nanang Sunandar
Latest posts by Nanang Sunandar (see all)