Yamin dan Sumpah Pemuda

Yamin dan Sumpah Pemuda
Foto FB Goenawan Mohamad

Yamin membuktikan, ia diri yang dinamis, subjek-dalam-proses, tak mandeg di satu tempat, tak berpusar di satu kenangan. Ia seorang nasionalis dalam arti radikal: membongkar desain dasar kolonialisme.

Nalar Warga – Siapa yang berperan pada 28 Oktober 1928? Pemuda. Bukan wakil “suku”, wakil “etnis”, wakil kelas sosial. Bahkan bukan wakil kelompok umur, meskipun orang-orang muda itu menyebut diri “kami, putra-putri Indonesia”. Youth has no age, konon kata Picasso. Hari itu, “pemuda” adalah energi.

Dengan itu, dalam masa ketika pergerakan nasional semakin menggedor-gedor bangunan kekuasaan kolonial, kesatuan “Indonesia” ditegaskan. Bukan dalam ruang yang artisifial. Bukan dalam sebuah laboratorium.

“Sumpah Pemuda” yang dinyatakan hari itu bukan diucapkan ribuan suara, bahkan mungkin tak sampai 100 suara yang bertemu di sebuah asrama mahasiswa di Batavia. Tapi bahwa statemen 28 Oktober 1928 itu berubah dari kejadian kecil jadi sebuah peristiwa—sesuatu yang menggugah dan mengubah—menunjukkan bahwa energi di ruang itu bertaut dengan energi sosial yang sedang pasang.

Pertautan itu hanya mungkin karena di masyarakat jajahan telah berlangsung apa yang mungkin bisa disebut proses “dekonstruksi”: ketika sistem kekuasaan, yang dikukuhkan lembang-lambang dan ordonansi, sedang dibongkar, dan tampak apa yang selama itu dianggap bukan kenyataan, yang dibungkam, ditutup-tutupi. Dari dekonstruki, lahir wawasan yang beda.

Menurut sebuah catatan sejarah, perumus pernyataan itu—disebut “sumpah”, atau janji, atau kehendak, seperti “Sumpah Palapa” Gajah Mada di abad ke-13—adalah seorang sastrawan berumur 25 tahun: Muhammad Yamin.

Di akhir kongres di Jalan Kramat di Batavia itu, ia menyodorkan secarik kertas kepada ketua sidang, berisi rumusannya yang ia yakin lebih “elegan” ketimbang resolusi semula (“Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie”, katanya). Bagi saya, rumusan itu juga pas buat gerak transformatif yang sedang berlangsung.

Yamin sendiri sebuah transformasi.

Pemuda kelahiran Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat itu, dalam umur 21 menulis satu sajak:

…hutan rimba dan ngarai
lagi pun sawah, telaga nan permai:
Serta gerangan lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa:
Itulah tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku

Tapi ia tak berhenti. Kemudian terbukti anggota Jong Sumatranen Bond (“ikatan pemuda Sumatra”) ini seorang pembongkar batas.

Dalam energi menciptakan ruang baru yang tak tersumbat, Yamin tak hendak dibatasi satu identitas. Ia dilahirkan Muslim, sebagaimana umumnya orang Sumatra Barat, tapi ia pengikut teosofi. Ia pasti hafal cerita Bunda Kandung dan Kerajaan Pagaruyung, tapi ia mengagumi puisi Jawa Kuno dan kebesaran Majapahit.

Ia bukan saja menulis lakon dari sejarah Jawa lama; ia memberi nama anaknya “Rahadian”, gelar Ken Arok sebagai raja Singasari, Jawa Timur. Dalam sajak di atas ia puja Sumatra, tapi pengertian “Sumatra” itu sendiri sebuah peleburan batas: yang datang dari Minangkabau bertemu dengan yang datang dari Toba dan Karo, yang datang dari Mentawai berada dalam satu konsep dengan yang dari Lampung.

Yamin membuktikan, ia diri yang dinamis, subjek-dalam-proses, tak mandeg di satu tempat, tak berpusar di satu kenangan. Ia seorang nasionalis dalam arti radikal: membongkar desain dasar kolonialisme. Kolonialisme, khususnya yang dialami orang Indonesia, membekukan manusia—dan sebab itu diri yang dinamis adalah bagian ikhitiar pe-merdeka-an.

Proyek kolonialisme membikin pagar dan batas dan membangun identitas bagi para kolonialis dan juga penduduk yang ditaklukkan—batas etnis, batas kultural, batas lapisan sosial, batas wilayah. Yamin, “Sumpah Pemuda”, dan kemudian Revolusi Agustus, menghantam semua itu—sebagaimana arus kehidupan.

Ada sebuah telaah ilmiah yang teliti dan memberikan perspektif baru—dan patut dibaca di sekitar 28 Oktober: Kolonialisme dan Etnisitas, oleh Daniel Perret, (yang diterjemahkan dari bahasa Prancis dengan bagus oleh Saraswaty Wardhani), dari tesis yang terbit di Paris pada 1995

Jika bisa saya ikhtisarkan, studi tentang “Batak” dan “Melayu” ini menunjukkan kekeliruan antropolog Barat dan administrasi Hindia-Belanda yang dilanjutkan dengan latah oleh orang-orang jajahan sendiri bahkan setelah kemerdekaan. Orang mencari landasan pengertian “etnis” dalam “kumpulan ciri-ciri yang asli dan tak berubah”.

Padahal, sebagaimana ditunjukkan Perret, etnisitas terbentuk, “berubah dan menyesuaikan diri mengikuti zamannya”—karena sejarah sosial-ekonomi, kebutuhan hidup, hubungan kekuasaan, dan migrasi.

Adapun “suku” (dari pengertian Belanda, stam) dikonstruksikan dan tak jarang diberi nama untuk keperluan administrasi pemerintahan—dan dipakai penduduk sendiri untuk memperkuat diri di hadapan “orang luar”. Padahal pengertian “Batak”, “Melayu”, “Mandailing”—yang seperti ditunjukkan Daniel Perret—adalah penamaan yang dulu dipersoalkan, digugat, dan bertumbuh dalam sejarah interaksi keragaman penduduk di wilayah Sumatra Timur Laut.

Siapa bilang hidup segamblang lajur sensus? 28 Oktober 1928 merayakan hidup yang majemuk itu, sambil meneguhkan: justru karena itu, kita adalah sesama.

*Goenawan Mohamad

___________________

Artikel Terkait:
Warganet