Yang Dilakukan Fahri Hamzah Itu Pengkhianatan Seorang Wakil Rakyat

Yang Dilakukan Fahri Hamzah Itu Pengkhianatan Seorang Wakil Rakyat
Ilustrasi: Zulfikar Akbar vs Fahri Hamzah

Yang dilakukan Fahri Hamzah sejatinya adalah pengkhianatan seorang wakil rakyat yang digaji rakyat, tetapi membenturkan rakyat yang jelas-jelas memiliki agama berbeda.

Sejujurnya, sebagai muslim, saya gerah atas kelakuan (pengkhianatan) Fahri Hamzah. Kali ini kutumpahkan sajalah rasa gelisah atas wakil rakyat bermulut sampah: Fahri Hamzah.

Terlalu kasar mungkin kalimat saya dengan menyebut mulut Fahri Hamzah sebagai sampah. Namun, jika ingin melihat dari luar urusan etika, sampah itu analogi untuk sesuatu yang buruk, busuk, dan tidak bermanfaat. Kecuali mengolah lagi menjadi bentuk berbeda, masih memungkinkan bermanfaat.

Memainkan narasi anti-Islam, seperti dilakukan Fahri Hamzah, adalah sebuah narasi yang memang bisa dikatakan sampah. Ada kuman-kuman berbahaya yang bisa mematikan bangsa lewat isi kepalanya; lewat cipratan-cipratan ludahnya.

Kuman-kuman yang menyembur dari mulut Fahri Hamzah bisa membuat gila yang dekat dengannya. Bisa menghancurkan sekeliling dengan kegilaan diciptakan semburan ludah penuh kuman dari mulutnya.

Sekali lagi, kenapa saya melekatkan kuman dengan mulut Fahri Hamzah? Tidak lain karena terlalu banyak sampah dibuang serampangan dari sana.

Dia masih rajin memainkan sentimen agama. Merasa aman karena ia merasa sebagai tokoh partai, punya banyak pembela, merasa sebagai wakil penganut agama mayoritas. Fahri Hamzah alpa melihat bagaimana rasa mereka yang minoritas yang acap dijadikan tersangka anti-Islam.

Rasanya kegagalan kita sebagai rakyat karena kita tak berdaya hingga sampah seperti Fahri Hamzah mendapat kehormatan sebagai “wakil rakyat”. Sementara yang ia berikan hanya sampah.

Ia menghasut dengan menyeret nama agama, seolah membela Islam, dan membenturkan Islam dengan luar Islam. Yang dilakukan Fahri Hamzah sejatinya adalah pengkhianatan seorang wakil rakyat yang digaji rakyat, tetapi membenturkan rakyat yang jelas-jelas memiliki agama berbeda.

Ada pajak umat Kristiani, ada pajak umat Hindu, ada pajak umat Budha, yang dipakai negara untuk membayar Fahri Hamzah sebagai wakil rakyat. Sikapnya yang mengadu pemeluk agama dengan narasi-narasi anti-Islam adalah sesampah-sampahnya sampah. Manusia tidak akan begini.

Bagaimana bisa ia sebagai wakil rakyat merasa tak berdosa lagi dan lagi memainkan isu-isu yang membawa-bawa agama: anti-Islam, anti-ulama, dan lain sebagainya? Ia lupa atas luka yang sering ditelan diam-diam oleh pemeluk agama lain karena merasa minoritas. Karena sering dijadikan tersangka anti-Islam.

Padahal, kalau saja Fahri Hamzah lahir dari ibu yang baik-baik, ia lebih bisa menebar kebaikan. Bukan hasutan, bukan adu domba, apalagi menjual agama hanya untuk semakin mempertebal lemak di perutnya.

Demi kehormatan ibumu, Fahri Hamzah, tolong jaga Ibu Pertiwi ini dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Sudahilah membenturkan rakyat dengan soal-soal agama. Tugasmu buka mulut, tapi bukan beradu mulut selayaknya anjing di depan tulang berulat.

Sudahilah memainkan isu-isu agama. Matamu pun masih cukup terang melihat: dari presiden sampai menteri agama, sama agama denganmu. Siapa pula kau tuduh anti-Islam jika bukan ingin mengadu domba pemeluk agama ini dengan anak bangsa yang beragama berbeda?

Ini suara rakyat jelata, Fahri Hamzah. Suara rakyat yang memang terkadang lebih kasar dari Anda yang memang duduk di kursi dewan terhormat. Sebagai rakyat, saya hanya ingin Anda menghormati rakyat. Kami rakyat di sini memiliki agama berbeda-beda.

Tidak pernah ada amanat dari kami, rakyat, untuk Anda membenturkan kami yang memang berbeda agama, dan memiliki seabrek perbedaan lainnya. Keinginan kami sama, Ibu Pertiwi ini bisa dihormati seperti kau menghormati ibu. Saya kira begitu, Fahri Hamzah.

_____________

Baca juga:
Zulfikar Akbar