Yang Ditulis Made Supriatma tentang Saipul Jamil Itu Jahat!

Yang Ditulis Made Supriatma tentang Saipul Jamil Itu Jahat!
©Suara

Apa yang ditulis Made Supriatma itu jahat! Di media sosial Facebook, dia masih terang menyebut Saipul Jamil sebagai seorang predator seksual.

“Anda tahu artinya predator? Pemangsa. Dia memangsa anak-anak remaja yang diundang menginap di rumahnya untuk sebuah acara televisi di mana dia menjadi bintangnya,” tulis Made Supriatma.

Anak-anak remaja itu, tambahnya, tertarik karena Saipul Jamil orang terkenal. Dari situlah, kata penulis berbio “galak kalo laper dan bego kalo kenyang” ini, dia bebas memangsa mereka, melecehkan mereka secara seksual.

Yang jahat dari pernyataan Made Supriatma seperti itu adalah isinya yang menjurus ke fitnah. Bayangkan jika Saipul Jamil lantas melaporkannya ke pihak berwajib, bisa kena pasal 310 ayat (2) KUHP tentang pencemaran nama baik secara tertulis, kan?

Segera setelah pembuktian bersalah dan penjatuhan hukuman oleh Pengadilan Negara Jakarta Utara terhadap Saiful Jamil pada 14 Juni 2016, dan sebelum resmi bebas dari Lapas Cipinang pada 2 September 2021, kata-kata Made Supriatma bisa jadi tak punya masalah. Sayangnya, itu terungkap bahkan setelah hari kebebasan sang pedangdut tersebut, ditulis pada 10 September 2021.

Selain jahat karena berunsur fitnah sekaligus pencemaran nama baik, penulis-penulis semacam Made Supriatma ini juga sangat berbahaya. Dia mengancam keutuhan kebebasan individu di ruang publik. Hanya atas nama perasaan individu yang satu, dia lalu hendak membatasi kebebasan individu lainnya.

Mulia, sih, kalau dipandang dari segi sanksi sosial, tetapi itu salah tempat. Tidak ada sanksi sosial yang bisa dibenarkan jika itu tidak menyangkut wilayah hak milik atau properti si pemberi sanksi sosial.

Apakah media-media TV yang berniat menayangkan Saipul Jamil adalah hak milik atau propertinya? Alih-alih dirugikan, Made Supriatma malah merugikan orang lain dengan tulisannya yang bernada jahat seperti itu.

Secara moral, kita memang sebaiknya berempati pada korban pelecehan seksual yang meninggalkan trauma mendalam. Namun, empati yang ditunjukkan tidak berarti mengharuskan kita untuk melanggar hak-hak individu orang lain.

Kita tahu semua, Saipul Jamil adalah mantan narapidana pelecehan seksual. Sebagai mantan, statusnya kini setara dengan status-status warga negara lainnya.

Bukankah setiap warga negara yang telah menjalani masa hukuman (pidana penjara) berdasarkan putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap sama artinya dengan warga lainnya yang dilahirkan dalam keadaan bersih, bebas, berharkat dan bermartabat, serta sederajat di mata hukum? Bukankah status hukum mantan narapidana, setelah menjalani pidana menurut konsep hukum pidana, kembali menjadi masyarakat yang terhormat seperti sediakala dan memperoleh hak hukum penuh?

Saipul Jamil memang pernah melakukan kejahatan berupa pelecehan seksual. Dia pun sudah menjalani hukuman atas tindakannya tersebut. Makanya tak masalah ketika para produser TV berani merancang “come back” Saipul Jamil layaknya merancang acara-acara lain melalui media televisi. Sekali lagi, ini sah secara hukum!