Yang Jujur yang Gugur

Yang Jujur yang Gugur
©YouTube

Di negara ini banyak orang yang tidak jujur. Sekalinya ada orang jujur, susah untuk dinaikkan.

Pada pagi hari yang cerah di sebuah kampung di daerah Cilegon, seorang laki-laki yang sudah rapi dengan seragam satpamnya bersiap untuk sarapan di meja makan. Dengan tangan yang lembut, seorang wanita mengambilkan nasi dan lauk ke dalam piring.

“Bapak jadi mencalonkan diri?”

“Insyaallah jadi, bu. Ibu masih belum setuju?”

“Sebenarnya ibu setuju-setuju saja, tapi kan kita bukan dari orang berada, pak.”

“Tapi kan bapak punya niat yang baik, bu.”

“Niat bapak sudah bagus. Tapi itu saja tidak cukup, pak.”

Di tengah pembicaraan, suara tangis seorang anak perempuan terdengar. Sang wanita pun langsung bergegas menghampiri.

Laki-laki itu bernama Wandi, wanita yang bersamanya adalah istri tercintanya yang bernama Mira. Mereka adalah pasangan suami istri yang dikaruniai satu orang anak perempuan. Wandi sendiri bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan, tetapi ia memiliki minat untuk menjadi politisi.

Suatu hari, ia bergabung dengan salah satu partai politik. Dari situ ia mulai suka dengan dunia politik.

Ternyata, Wandi sangatlah memiliki potensi. Bukan hanya dari rekan partainya saja, dari lingkungan sekitar pun mengagumi Wandi. Ia juga memiliki keinginan untuk membantu orang-orang. Ia ingin mewujudkan ideologi politik yang benar.

Sampai pada akhirnya ia ditawari untuk menjadi caleg mewakili partainya. Wandi pun tertarik dan mendaftarkan diri dan lolos sebagai calon DPRD Kota Cilegon.

“Wandi, kalau kamu diajukan jadi calon, bagaimana?”

“Kalau saya sih mau saja. Tapi, bukankah ada yang lebih pantas dibanding saya?”

“Kamu sudah paling pas, Wan. Kalau mau, besok kamu daftar ya!”

“Iya, insyaallah.”

Sejak saat itu juga, Wandi menjadi orang yang disegani. Semua orang menganggap Wandi sebagai tokoh penting. Dalam persiapannya, tentu saja membutuhkan modal. Walaupun ia hanya bekerja sebagai satpam, tidak mengurangi tekadnya. Ia terus bekerja keras mengumpulkan modal semampunya.

Berkampanye pun ia lakukan, dari tempat satu ke tempat yang lain. Menyampaikan niatnya yang hendak menjadi perwakilan aspirasi warga, yang ingin memakmurkan kesejahteraan masyarakat di daerahnya. Semua yang ia sampaikan adalah yang ia pikirkan, tidak kurang dan tidak dilebih-lebihkan. Wandi tidak berani menjanjikan hal-hal yang ia merasa tidak sanggup menepatinya.  Semuanya murni cita-cita Wandi, jika ia terpilih nantinya.

“Untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, silakan pilih saya jika sekiranya saya memenuhi kriteria sebagai pemimpin yang baik untuk bapak dan ibu sekalian. Saya akan dengan sepenuh hati menyampaikan aspirasi-aspirasi dari masyarakat.” Seperti itulah janji yang diucapkan Wandi saat berkampanye.

Di sisi lain, ada seseorang yang merupakan lawan politik dari Wandi, yaitu Jaka. Kebetulan ia adalah tetangga Wandi, rumah mereka samping-sampingan. Bedanya persiapan dari mereka berdua adalah jika Wandi yang ikut turun langsung dalam persiapan, memperhatikan detail, Jaka hanya duduk memerintah orangnya untuk mengerjakan semunyanya, seperti mengumpulkan orang-orang yang dibayar untuk memilihnya. Ia hanya hadir di saat kampanye, memikat orang-orang dengan janji-janji yang menggiurkan. Janji tersebut pun sebelumnya tidak dipikirkan matang-matang. Tentu saja dengan iming-iming uang.

“Jika kalian pilih saya, saya akan membuat hidup kalian makmur. Saya akan menjadi pemimpin yang jujur, adil, dan amanah. Percayakan semua kepada saya!”

Baca juga:

Ada satu lagi orang yang mencalonkan diri yaitu Bagus. Sama seperti Jaka, ia merupakan dari kalangan atas.

Wandi menyiapkan segala hal untuk ini, dari segi apa pun. Sayangnya, baru kali pertama ia mencalonkan diri, ia langsung gagal. Suara yang ia miliki masih kalah jauh dari lawan politiknya yaitu Bagus. Padahal ia sudah menyiapkan semuanya. Bukan hanya itu saja, ia pun dimusuhi oleh orang-orang di lingkungannya dengan alasan berbeda partai.

“Kan ibu sudah bilang, pak. Tapi bapak ngeyel.”

“Ya sudah, kan sudah terjadi.”

“Sudah menghabiskan banyak uang, dimusuhi orang pula.”

Ya, begitulah Wandi, memiliki tekad yang sangat kuat. Ia ingin mengubah sistem pemerintahan yang merugikan rakyat. Ia memiliki tujuan yang sangat mulia untuk orang-orang di daerahnya.

Sebenarnya ia sudah tahu kalau dia akan kalah dari lawannya. Karena lawannya dari orang berada, artinya dari keluarga terpandang yang sudah memiliki nama dan memiliki banyak uang. Karena, sudah tidak heran jika dalam pemilihan seperti ini, ada calon yang meng iming-imingi uang untuk menarik seseorang agar mau memilihnya. Sedangkan Wandi adalah dari kalangan biasa yang memiliki niat mulia.

Jika wandi menerima dengan lapang dada, beda dari Jaka yang sangat tidak terima atas hasil suara tersebut.

“Bagaimana ini, kenapa bisa? Uang yang saya keluarkan juga sudah banyak,” ucap Jaka dengan nada tinggi.

“Uang dia lebih banyak, pak,” balas orang yang bekerja untuk Jaka.

Tidak menyerah, Wandi mencalonkan diri lagi di pemilihan selanjutnya. Walaupun modalnya tidak banyak, ia tetap semangat karena mendapat dukungan dari istri dan keluarganya. Tentu saja, Jaka pun melakukan hal yang sama.

Kali ini, Jaka benar-benar memakai semua uangnya untuk keperluan kampanye, tak peduli berapa banyak yang ia keluarkan. Uangnya ia pakai untuk memasang baliho yang besar lebih dari satu, memberikan uang lebih banyak lagi kepada orang yang mau memilihnya.

Hasil pemungutan suara sudah keluar. Lagi dan lagi, Wandi kalah. Walaupun suara yang ia miliki hanya kurang lima dari lawan politiknya yaitu Jaka, Wandi tetap lapang dada, karena ia mengira kalau itu bukan rezekinya.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Penyesalan datang dari orang-orang yang dulu memilih Jaka sebagai DPRD Kota Cilegon dibandingkan memilih Wandi. Mereka menyesal karena setelah terpilih. Jaka hanya membantu di awal saja. Lama-lama ia makin tidak peduli. Ia tidak pernah mendengarkan aspirasi-aspirasi dari warga lagi. Mereka menyesal menyia-nyiakan orang yang berpotensi dan jujur seperti Wandi. Mulai tebersit di pikiran mereka.

“Kenapa waktu itu saya mau disuap?”

“Kenapa saya tidak milih Wandi saja?”

Begitulah penyesalan dari warga yang salah pilih pemimpin, yang akan memimpin mereka nantinya. Jika dari awal sudah pakai cara yang salah dan tidak jujur, sudah terlihat jelas bagaimana nanti ketika sudah terpilih. Di negara ini banyak orang yang tidak jujur. Sekalinya ada orang jujur, susah untuk dinaikkan.

    Nida Nafilah
    Latest posts by Nida Nafilah (see all)