Yang Lain Berfilsafat

Yang Lain Berfilsafat
©Sentilan

Yang Lain Berfilsafat

Keterlantaran mereka yang miskin merupakan wujud nyata kehidupan saat ini. Kehadiran mereka di tengah masyarakat kadang kala dianggap sebagai “manusia kelas bawah” yang tidak berarti.

Levinas justru sebaliknya melihat mereka sebagai wajah-wajah yang patut dihargai. Ia melihat wajah-wajah yang tampil dalam kemiskinan dan ketakberdayaannya adalah dia yang mencari perlindungan dan pembelaan dari pihak kita. Kemelaratannya adalah suatu undangan bagi kita untuk mendengarkannya.

Di hadapan dia yang melarat, kita tak bisa berdiam diri. Kita dituntut untuk memahami. Kehadirannya seakan menggugat kita untuk bertanggung jawab atas dirinya. Ia meminta pertangungjawaban etis dari kita.

Levinas tidak mengartikan “wajah” dalam pemahaman yang bersifat fisis-biologis, yang berarti air muka atau muka. Levinas menunjukkan wajah sebagai bentuk kehadiran dia yang lain. Wajah dalam pengertian Levinas adalah dia yang tampil di hadapan saya sebagai realitas yang berdiri sendiri; suatu penampilan dia yang lain.

Lebih lanjut Levinas menjelaskan bahwa penampilan wajah sebagai suatu ketelanjangan. Ketelanjangan wajah adalah ketelanjangan yang paling telanjang. Ketelanjangan yang paling telanjang adalah juga tanda kepolosan dan kelurusan dari wajah itu sendiri.

Karena kepolosannya itu terbesitlah suatu kemiskinan yang amat hakiki. Ketelanjangan mewartakan kemiskinan dan ketakberdayaan orang lain yang tampil di hadapanku.

Orang lain yang tampil sebagai wajah adalah dia yang datang dari kepolosan dan kemiskinannya. Untuk mempertegas kemiskinan dan keberlainannya sebagai penampilan wajah yang telanjang, Levinas memberikan figur lain dari penampilan wajah yaitu dia yang tampil sebagai orang asing, janda, dan yatim piatu. Meskipun dia datang dengan ketelanjangannya, kemelaratannya, serta kemiskinannya, namun aku harus menyapa dia sebagai tuan. Dia yang miskin serentak menjadi tuan.

Baca juga:

Di hadapan dia aku kembali mempertanyakan kebebasanku selama ini. Dengan kehadiran yang lain, kebebasanku dinomorduakan. Dalam arti ini aku harus menyambut kedatangannya sebagai yang miskin dan terlantar, sekaligus sebagai tuan.

Ketelanjangan wajah yang menampilkan kemiskinan, kemelaratan juga serentak menampilkan diri sebagai tuan, seakan menggugat diriku untuk tidak berdiam diri. Aku harus memberikan jawaban atasnya karena merupakan sebuah tugas yang telah ditanggungkan kepadaku.

Tanggung dan Jawab

Dalam etika tradisional, ada tiga hal yang turut berpartisipasi dalam proses pemberian tanggung jawab, yaitu: Pertama, ada sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan dan ada yang bertanggungjawab. Menurut Levinas, apa yang dilakukan itu sudah dapat dikatan kerja (praktik), sedangkan apa yang dikatakan masih dalam perkataan (teori).

Kedua, kita bertanggung jawab terhadap adanya yang lain, karena yang lain itu adalah subjek sebagaimana diri kita yang juga adalah subjek.

Ketiga, tanggung jawab dalam pengertian tradisional berhubungan dengan menjawab. Namun relasi ini agak terbatas. Seseorang bertanggung jawab kepada orang lain karena ia mau menjawab respons dari yang lain.

Respons dalam bentuk jawaban yaitu jawaban atas panggilan orang lain. Ketiga proses tangung jawab ini disebut dengan tangung jawab diri yang merupakan visi terbesar dari sebuah tanggung jawab.

Tanggung jawab diri berarti tanggung jawab yang tidak berasal dari perkataan dan perbuatan itu sendiri, tetapi berasal dari persembahan diri sendiri. Ini berarti bahwa jawaban tidak secara primordial menunjuk pada sesuatu yang “telah” dikatakan dan dilakukan, tetapi lebih kepada yang “harus” dikatakan dan dilakukan.

Menurut Levinas, proses tangung jawab akan yang lain dalam etika tradisional (tanggung jawab diri) berbeda dengan proses menjawab. Levinas menjelaskan hal ini dengan memberikan perbedan antara term “dativus” dan “nominativus”.

Halaman selanjutnya >>>
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)