Yang Lain untuk Papua

Yang Lain untuk Papua
©IDH

Yang Lain untuk Papua

Jalan pengakuan adalah jalan yang panjang, penuh lika-liku seperti jalur Iwur-Waropko, ungkapan dari seseorang di seberang semesta. Manusia tidak lagi manusiawi, berpikir juga harus dinormalisasi hingga identitas dan tanggung jawab adalah satu keutamaan yang tidak pernah serentak. Ia akan serentak bila disertakan kerakusan.

All Eyes On Papua adalah ungkapan untuk menegakkan identitas, identitas yang hadir sebagai pengakuan akan tanggung jawab terhadap alam, bumi, semesta, dan manusia, jawab sang lelaki lusuh sambil merajut sisa embun pagi tadi.

Relatifnya mahkamah agung menjadikan identitas kaum pribumi hanya sebatas pengkloningan. Pengujian kebijakan terus-menerus dilanggenkan seolah-olah sangat mudah menerapkan Indonesia emas. Emas yang terus memudar termakan rakus dan ego, tidak lain ini adalah bullshit.

Pemaknaan akan emas ini, yang membuat beberapa hari awal bulan ini penuh dengan gencatan dan gugatan, emas mana yang harus diberikan bagi Indonesia. Pada pihak lain, terminologi minor-mayor saling terkam, memboikot!! Sedangkan identitas Indonesia terluka para.

Kodrat alamiah berkata bahwa setiap orang ingin diakui karena memiliki kapasitas atau kesanggupan untuk mengakui tanggung jawabnya. Lantas kini yang alamiah di sapu rata, mengejar produk demi kematian konsumen.

Untuk mengakui diri, aspek tanggung jawab sebagai basis antropologis adalah penting karena tanggung jawab dengan kebajikan etis. Bukan sebaliknya, bertanggung jawab hanya berbasis pada egosentrisme. Yang hanya mengenal warna uang tetapi tidak mengenal warna kemanusiaan.

Ini semua adalah tanda bahwa pengakuan adalah suatu perjuangan yang tidak gampang tidak seperti perencangan perpera dari rakyat dan untuk pemerintah. Pengakuan bahkan merupakan suatu kesia-siaan terlebih bila ia harus diuji dan berhadapan dengan faktor pengabaian atau salah pengakuan serta segala bentuk kehidupan yang tidak harmonis.

Baca juga:

Tepat, karena para pelahap semesta menjalani kehidupan yang tidak harmonis, dikejar tuntutan dan hawa nafsu. Kaya kebijakan tapi minus moral, sanggahan sang pendulang emas.

Penindasan terhadap manusia Papua tidak bisa lagi ditolerir, hari-hari hidup mereka terus dihadiri kekerasan. Dalam domain etika, pengakuan akan tanggung jawab pribadi adalah suatu bentuk kebajikan, sangat miris bila di tengah ketertindasan ini peran pers dimusnahkan.

Ini ditandai oleh kemampuan setiap orang untuk membuat keputusan secara tepat dan mengarahkan dirinya dengan baik sesuai bimbingan kehendak dan akal budi dalam tanggung jawabnya.

Seruan petisi untuk Papua dari yang lain adalah bentuk tanggung jawab dan bila tidak adanya kesadaran dari para pemangku kebijakan sebaiknya diboikot. Hanya orang dungu yang membuat kebijakan berdasarkan data semata tanpa acuan berpikir yang benar dan tepat.

Semestinya pengakuan Ellon Musk terhadap Jose Nerotau asal Papua merupakan andil untuk memanusiakan manusia Papua dan bukan sebaliknya memaknai pujian tersebut sebagai event kekuasaan. Alam memberi mereka hidup sedangkan para diktator memberi mereka kematian.

Setiap orang sebaiknya terbiasa dengan latihan membuat keputusan praksis secara bijaksana menuju kebahagiaan di dalam diri kita. Ini adalah kondisi paling mendasar untuk pengakuan akan identitas diri.

Kebahagiaan dalam wasiat Aristoteles adalah tujuan yang harus ditempuh lewat jalan kebijaksanaan praktis, dan jalan ini adalah mungkin karena manusia dari kodratnya memiliki kebijaksanaan itu.

Dan kalau kebijaksanaan para elektoral adalah penindasan terhadap manusia Papua, sungguh disayangkan dan itu berarti mereka gagal dihadirkan serta dipilih sebagai pemimpin bangsa ini. Akhirnya, pertimbangan moral rasional menjadi motif utama dalam setiap tindakan praktisnya.

Baca juga:
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)