Yang Memengaruhi Pandangan-Pilihan Politik Masyarakat

Yang Memengaruhi Pandangan-Pilihan Politik Masyarakat
Ilustrasi: Jawa Pos

Membicarakan perpolitikan nasional, apalagi soal pandangan-pilihan politik masyarakat, memang tidak lepas dari cara buruk aktor politik dalam berkampanye (black campaign). Dari dulu hingga kini, senjatanya sama: isu sentimen-propaganda. Dari mulai isu SARA, sentimen anti-Cina, sampai propaganda agama, atau pun anti-penguasa, tak luput dijadikan alat untuk meraup simpati masyarakat.

Kita bisa melihat pada pemilu 2014 lalu bagaimana perpolitikan nasional bergejolak seiring dengan mencuatnya isu sentimen anti-Cina. Atau ketika Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu yang mengeruhkan suasana nasional dengan propaganda agama.

Tapi, saya tidak akan membahas tentang permasalahan politik macam ini lebih lanjut. Saya lebih tertarik untuk membahas dampak dari cara politik yang buruk (black campaign), yang membuat bervariasinya pandangan masyarakat terhadap politik.

Setelah melalui pengamatan, dari berbagai obrolan masyarakat atau publik, akhirnya saya disuguhi beberapa sikap dan pendapat yang berbeda-beda.

Mengenai perihal perpolitikan, pertama: “Politik adalah sumber permasalahan”. Karena pilihan politik, orang jadi lupa diri. Karena pilihan politik, orang lupa hak dan kewajiban. Demi kekuasaan, orang rela mengabaikan nurani dan akal sehat.

Menurut saya, pendapat seperti ini yang dilontarkan sebagian masyarakat bisa saja hanya bentuk pengejawantahan atas kekesalan mereka terhadap politik yang tak kunjung memenuhi ekspektasi. Dengan ini, pengambilan sikap mereka untuk menutup mata dan tidak memedulikan politik tak bisa dihindarkan lagi.

Tidak heran memang jika mereka kecewa. Pasalnya, sejak dulu hingga kini, perpolitikan nasional nampaknya masih gemar mempertontonkan wajah-wajah politikus korup. Carut-marut politik yang diharapkan rampung setelah runtuhnya Orde Baru, nyatanya belum menemukan jalan yang diharapkan.

Namun, saya tidak akan sedikitpun mempermasalahkan sikap apatis mereka terhadap politik. Saya juga tidak akan sedikitpun mempermasalahkan pandangan negatif mereka terhadap politik. Yang menjadi perhatian saya, perlakuan mereka macam itu justru ditakutkan malah akan semakin menjatuhkan.

Bukankah dengan anti-politiknya, mereka akan semakin mudah untuk dibodohi oleh aktor politik yang hanya memenuhi kepentingan pribadi maupun golongannya saja? Dengan tidak mengikuti perkembangan politik, mereka tidak bisa menakar mana calon pemimpin yang baik dan mana calon pemimpin yang tidak baik, misalnya.

Memang, bisa saja mereka memilih untuk absen dalam pilihan politiknya. Tapi, tetap saja ketika ada kebijakan yang dirasa merugikan, mereka tidak bisa untuk tidak protes. Ada baiknya, dengan perlakuan seperti itu, mereka akan terhindar dari sentimen-propaganda karena tidak ada minat yang besar untuk memikirkan. Atau bisa juga itu bentuk pengelakan atas ketidakpuasan dari cara berpolitik.

Kedua: “Baik-tidaknya politik tergantung orang yang menggunakan”. Politik buruk jika dikendarai oleh orang-orang yang bermasalah. Begitu pun sebaliknya. Politik baik jika dikendarai oleh orang-orang yang tidak bermasalah.

Pendapat seperti ini memang ada benarnya. Iya, baik-tidaknya politik memang tergantung orang yang menggunakannya. Namun, yang menjadi pertanyaan, semudah itukah membedakan mana orang yang berpolitik dengan baik dan mana orang yang tidak baik dalam berpolitik?

Apalagi, ketika orang masuk ke dalam dunia perpolitikan, masalahnya, orang baik bisa berubah menjadi orang jahat. Dengan menyikapi politik seperti ini, mereka seperti terus ada ketertarikan untuk mengikuti perkembangan politik.

Namun, yang dikhawatirkan, karena terlalu semangatnya, itu mengakibatkan mereka terlalu mudah untuk dipengaruhi oleh cekokan informasi serampangan yang bernada provokatif. Alih-alih ingin memilah pilihan politik yang baik, mereka malah terjerumus ke dalam polemik perpolitikan.

Kesimpulannya, pertama, dampak dari cara buruk dalam berpolitik (black campaign) mengakibatkan masyarakat gusar terhadap politik nasional. Bentuk pengejawantahannya, masyarakat menjadi apatis atau anti terhadap politik sehingga mereka tidak bisa memilah calon pemimpin yang baik dan berkualitas, misalnya. Padahal, segala kebijakan dan aktivitas nasional sepenuhnya ditentukan oleh jalan politik.

Kedua, dampak dari cara buruk dalam berpolitik (black campaign) membuat masyarakat yang mengikuti perkembangan perpolitikan akan terbagi menjadi dua.

Bagian pertama, yakni masyarakat yang termakan isu sentimen-propaganda. Mereka cenderung militan, radikal, dan diskriminatif karena memiliki tendensi atau rasa keberpihakan terhadap tokoh atau golongan tertentu.

Yang kedua, masyarakat yang tidak termakan isu sentimen-propaganda. Kebanyakan kadang orang tidak bisa mengkritisi untuk sekadar mengkritik kebijakan suatu tokoh karena terlanjur sudah yakin akan kebaikannya. Padahal, kebijakan tersebut memang keliru dan pantas untuk dikritik.

Namun, kejadian macam itu nampaknya tidak dilakukan oleh golongan masyarakat ini. Mereka cenderung kritis dalam berpikir. Sebab yang terpenting bagi mereka adalah selalu berusaha untuk mencari-cari keabsahan berita berlandaskan data dan fakta.

*Hendra Dipta Wardana, Tinggal di Tangerang

___________________

Artikel Terkait: