Yang Penting “Pokoknya”

Yang Penting “Pokoknya”
Ilustrasi: I Need A Guide

Dalam sesi diskusi, kita sering disuguhkan pernyataan “pokoknya…”, “pokoknya harus begini…”, “pokoknya harus begitu…”. Kita seperti dipaksa menerima pernyataan yang dilemparkan tanpa menjelaskan mengapa.

Tidak jarang si pelempar pernyataan merujuk pada sebuah dalil: semua telah tertera; kita tinggal mengeksekusi. Dan inilah titik soalnya.

Bagaimana bisa kita mengeksekusi sesuatu tanpa memahami? Bukankah tindakan tanpa pemahaman seperti kita berjalan dalam gelap? Dan bukankah itu sangat berisiko bagi keselamatan kita?

Kita tidak tahu, dalam ruang gelap, bahaya apa yang akan kita hadapi. Apakah di depan terdapat jurang menganga yang akan membuat kita ditelan bumi. Atau jangan-jangan di depan kita ada seekor singa lapar yang siap menerkam.

Kita hanya disuruh “pokoknya” harus—“iya”. Selanjutnya adalah menjalankan. Tanpa protes.

Yang jadi masalah, dalil yang dikutip, yang kita dimintai mengikuti, selalu lahir dalam konteks tertentu. Itu kadangkala tidak sesuai dengan konteks dunia hari ini.

Padahal, bukankah konteks adalah peta jalan kita menuju suatu tujuan? Tanpa peta, kita akan tersesat!

Ketersesatan bukan berarti kita tidak tahu mau ke mana, tetapi kita tidak tahu, kita sedang ada di mana?!

Kita mungkin punya tujuan. Kita ingin ke Semarang, atau kita ingin ke Yogya, misalnya. Tetapi kalau kita tidak tahu jalannya, mungkin kita akan tersesat ke pelaminan, eh.

Yang berbahaya ketika istilah pokoknya itu menjadi legitimasi pemilik otoritas. Otoritas agama, otoritas akademis, bahkan otoritas politik.

Di hadapan otoritas, otonomi kita sebagai subjek seperti mati. Kita dituntut patuh. Kepatuhan pada “pokoknya….”.

Pernyataan yang keluar dari pemilik otoritas “menjadi” tanpa diuji. Kita menerimanya begitu saja. Pokoknya benar.

Kita seperti kambing yang digiring seorang penggembala. Tanpa tahu maksud bahwa ternyata si penggembala menggiring kambing-kambingnya ke tempat penjagalan. Tempat inilah yang mengantarkan kita pada suatu malapetaka.

Bagi suatu kelompok, kita akan vis-a-vis dengan kelompok lain penuh kebencian dan berdarah-darah. Sedangkan bagi suatu bangsa, ia berpotensi akan terkubur.

Semua hanya gara-gara pokoknya! Sebuah kesimpulan yang berujung pada tindakan tanpa penjelasan. Dan ini tentu berbahaya.

Edi Subroto
Edi Subroto 2 Articles
Peneliti dan Penulis