Yang Rentan di Tengah Pandemi

Yang Rentan di Tengah Pandemi
©Pixabay

Di tengah gelombang pandemi Covid-19, LGBTI menjadi salah satu kelompok paling rentan.

4 April, delapan hari lalu, seorang transpuan dianiaya, dipukuli, disiram bensin, dan dibakar di Cilincing, Jakarta Utara. Namanya Mira. Meninggal sehari kemudian di Rumah Sakit Koja.

Kekejian itu berlangsung di depan mata kerumunan orang. Polisi memburu pelaku. Tiga orang sudah tertangkap.

Di dalam negeri, tidak begitu banyak media yang meliput. Mungkin ini dianggap peristiwa biasa. Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu itu baru muncul di media di Hari Selasa (New York Times, 8/4).

Keesokan harinya, Rabu, otoritas kepolisian memberi keterangan pers. Kapolres Jakarta Utara, Kombes Pol. Budhi Herdi Susianto menyimpulkan bahwa pembakaran itu dilakukan tidak dengan sengaja (Media Indonesia, 13/4; dan NYT, 8/4).

Kalau tidak sengaja, bagaimana proses penyiraman bensin terjadi? Mengapa ada yang menyiram dan ada yang menyalakan korek? Pernyataan itu mengundang pertanyaan.

Kekerasan terhadap transpuan dan kelompok LGBTI secara umum bukan kali ini saja terjadi. Mereka menjadi salah satu kelompok minoritas yang paling banyak dipersekusi, dipermalukan di depan publik, diusir, digerebek, dibully di sekolah, tidak diterima oleh keluarga, dilecehkan di tempat kerja. Mereka adalah warga yang tidak dikehendaki adanya.

Dengan hanya menjadi diri sendiri, tanpa melakukan apa pun, mereka bisa didiskriminasi dan dilecehkan. Itu sebabnya banyak di antara mereka yang tidak betah di sekolah dan tidak sanggup masuk ke dunia kerja formal. Ketika mereka ditolak keluarga, sekolah, dan tempat kerja, banyak di antara mereka akhirnya terjun ke jalanan. Menggeluti sektor informal yang keras.

Di tengah gelombang pandemi Covid-19, LGBTI menjadi salah satu kelompok paling rentan secara ekonomi. Persoalannya, apakah dana-dana publik yang dikeluarkan pemerintah untuk membantu kelompok rentan juga menyentuh kelompok ini? Saya ragu pemerintah punya perhatian itu.

Bagaimana dengan dana-dana sosial dari kelompok swasta? Demikian pula adanya. Sejauh ini, bantuan sosial hanya datang dari kelompok mereka sendiri. Sudah pasti jauh dari cukup.

Semoga badai pandemi ini segera berlalu. Semoga diskriminasi ikut musnah bersamanya.

Baca juga:
Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)