Yesus Kristus Itu ‘Pejuang Antirasisme’

Yesus Kristus Itu ‘Pejuang Antirasisme’

Pada tulisan ini kita akan bersama-sama merefleksikan Yesus Kristus secara Historis sebagai seorang pejuang Antirasisme yang gigih, ulung dan sejati. Umat Kristiani yakin dan percaya bahwa Yesus Kristus datang, terlahir dan hadir di dunia ini semata-mata untuk menyelamatkan umat manusia, terutama mereka yang terlilit dosa.

Kita semua juga tahu bahwa Yesus Kristus memiliki jiwa dan spirit universalisme yang khas. Ia lahir, hidup, berkarya, sengsara, wafat dan bangkit pertama-tama diperuntukkan bagi seorang orang, seluruh umat manusia, bahkan untuk alam semesta.

Yesus Kristus tidak memetakan, membedakan, mempolakan, dan menyusun manusia berdasarkan tipe, suku, bahasa, budaya, gender, ras, golongan, kelompok, idelogis, keyakinan dan lainnya, tetapi lebih itu Yesus datang untuk semuanya dan bangkit pergi menghadap Allah untuk semuanya pula.

Jadi pada kadar universalisme Kristus seperti inilah sudah layak dan pantas Yesus Kristus kita imani dan sebut sebagai Pejuang Antirasisme yang Agung dan Sejati. Ada beberapa landasan biblis dan dogma yang penulis jadikan sebagai pijakan bahwa Yesus Kristus itu benar-benar seorang pejuang antirasis yang ulung dan tersohor;

Pertama, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Tema perikop ini adalah “Percapan Dengan Nikodemus”. Nikodemus adalah seorang dari para pengajar Yahudi yang terkemuka. Karena merasa bahwa apa yang diajarkan oleh Yesus adalah sebuah kebenaran yang dari Allah, maka Nikodemus merasa bahwa penting untuk belajar bersama Yesus.

Ia datang tengah-tengah malam ke Yesus, mau menunjukkan bahwa ia mengagumi Yesus secara diam-diam. Ia tidak mau ada umat Yahudi yang tahu bahwa ia merajut hubungan dekat dengan Yesus, apalagi ia adalah seorang ahli taurat yang notabene waktu itu teramat bersebelahan dengan Yesus.

Tapi kembali lagi bahwa ada hal menarik yang mereka bicarakan dalam diskusi di tengah malam suntuk itu, yakni bahwa setiap orang yang hendak masuk ke dalam kerajaan Allah ia pertama-tama mesti lahir kembali dalam roh dan kebenaran.

Yesus menandaskan bahwa Ia datang dari Allah untuk melahirkan umat manusia itu menjadi manusia-manusia baru melalui Air dan Roh. Yesus tidak secara jelas mengatakan bahwa Ia datang untuk orang Yahudi dan hendak menebus mereka, tetapi sekali penekanan Yesus Kristus selalu umum, bagi semua, setiap orang.

Kedua, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat. 5:45).

Tema perikop bacaan Injil Matius ini adalah “Yesus dan Hukum Taurat”. Yesus berkata bahwa Ia tidak datang untuk meniadakan ajaran para rabi dan hukum taurat, bahkan satu iota atau titik pun tidak akan Ia ubah. Ia hanya menyempurnakannya dengan ajaran Cinta Kasih yang Ia bawah.

Ayat yang penulis kutip di atas itu muncul dalam konteks ajakan Yesus Kristus untuk senantiasa mengasihi Musuh, bukan teman, Sahabat, keluarga kenalan atau apalah. Sebab serupa dengan Allah Bapa, Yesus mau agar umat manusia tidak bersikap dikriminatif, apalagi rasis dalam menyalurkan energi-energi positif.

Ketiga, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk. 16:15).

Tema perikop bacaan Injil ini adalah “Kebangkitan Yesus”. Teks Injil ini bercerita tentang peristiwa kebangkitan Yesus Kristus, cerita yang kurang lebih sama juga bisa dilihat dalam bacaan Matius: 28:1-8; Lukas. 24: 1-12; dan, Yohanes. 20:1-20.

Di dalam peristiwa kebangkitan Yesus Kristus itu, Yesus tidak mengatakan kepada para murid-murid-Nya agar pergi mewartakan Injil hanya kepada suku, masyarakat, wilayah, negeri, gender, ras, dan bahasa tertentu saat ini, tapi secara tegas dan jelas Yesus mengatakan bahwa kabar baik yang sudah Ia wartakan, ajarkan, hidupi dan buktikan sendiri itu hendaknya diwartakan sampai ke ujung dunia.

Itu berarti bahwa tersirat di dalam Pesan Agung atau Amanat Agung dari Yesus bahwa Ia datang bukan untuk menyelematkan bangsa, suku, wilayah, negeri, gender, ras, dan golongan tertentu, tapi sekali lagi Ia datang untuk semua dan tetap senantiasa untuk semua khalayak ciptaan mahluk hidup di dalam alam semesta ini.

Keempat, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:19-20).

Tema dari perikop yang penulis kutip di atas ini adalah “Perintah Untuk Memberitakan Injil”. Kurang lebih dari dan maknanya hampir sama dengan perikop pada bagian ketiga di atas, yakni keduanya sama-sama adalah Amanah Agung Yesus Kristus bagi suatu praktek misi pemberitaan Injil kepada para Rasul, Murid hingga kini kepada para penganti para rasul dan murid itu.

Ayat ini selalu menjadi api pengobar semangat aktivitas misionaris di wilayah-wilayah Misi. Teks Injil ini selalu dikutip ulang-ulang oleh para misionaris sebagai ‘lectio divina’ atau sabda penopang aktivitas misinya, dengan senantiasa menghayati spritualitas daripada Amanah Agung dari Yesus Kristus itu para misionaris selalu tampil gigih, berani, dan kuat bertahan jatuh bangun di wilayah misi, walaupun kadang-kadang ada yang berakhir tragis dan heroik.

Intinya saja dari sini kita paham dan sadar bahwa sejatinya Injil itu bukan pertama-tama ditujukan kepada umat Kristen di imperium Yerusalem, Palestina yang berbudaya Yahudi, berbahasa Aram, Ibrani atau Roma, melainkan Injil ini semata-mata diperuntukkan bagi seluruh atau semua mahluk ciptaan Tuhan yang ada di dalam alam semesta ini tanpa diskirminatif kelas, jenis kelamin, asal suku, latar belakang pendidikan atau intelektual, bahasa, stereotip, rasis, dan lainnya.

Di sinilah terlihat jelas aspek universalitas Kristus yang sejati, Ia benar-benar sosok yang berjiwa umum, terbuka, dan bebas, tanpa sekat-sekat atau gap-gap apapun yang menisbikan satu pihak dan mengungguli pihak lainnya, di mata Tuhan semuanya satu, sama, sama-sama secitra dan segambar Allah, sama-sama, ciptaan Allah yang Kudus dan baik adanya.

Selain dari Injil sebagai landasan biblis kita juga memakai beberapa dogmati sebagai landasan teologis bahwa Yesus Kristus itu benar-benar Pejuang Antirasisme yang sejati, yakni;

Pertama, Gelar Teologis Yesus Kristus Sebagai Raja Alam Semesta;

Dari gelar teologis Yesus Kristus sebagai Raja Alam Semesta biasa dirayakan dalam Gereja Katolik pada tanggal 20 November. Gelar Yesus Kristus Raja Semesta Alam ini juga secara gamblang dan sangat sederhana sudah memperlihatkan kepada kita bahwa Yesus Kristus itu bukan raja suku ini atau suku itu, Ia bukan Raja orang Israel, Ia bukan Raja bangsa kulit putih, Ia bukan Raja bangsa kulit hitam.

Halaman selanjutnya >>>
Siorus Degei
Latest posts by Siorus Degei (see all)