Zaman Media: Kemajuan Sekuler, Kemunduran Spiritualitas

Zaman Media: Kemajuan Sekuler, Kemunduran Spiritualitas
©ID Techinasia

Kita bisa katakan bahwa sekarang ini adalah zaman media, zaman emas media. Fenomena bahwa banyak juga media yang bangkrut atau gulung tikar, itu karena mereka tidak sanggup menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi, arus modernisasi.

Media cetak sedang mengalami krisis, yakni suatu kondisi yang di dalamnya mengalami pertentangan tak terhindarkan. Ini mengakibatkan mengharuskannya keluar dari kondisi tersebut alias keluar dari krisis itu.

Teknologi makin progresif di zaman media, tetapi cara produksi mereka konservatif. Karenanya, media-media seperti ini mengalami krisis.

Apa fungsi media? Secara deskriptif sudah jelas, tak lain ialah wadah, wadah informasi yang harus disuguhkan kepada publik. Sebab keterbukaan informasi merupakan tonggak demokrasi.

Saat ini media sudah menjangkau sampai ke pelosok-pelosok negeri. Tentunya pelosok yang sudah akrab dengan internet, karena media sekarang menumpang kepada jaringan internet. Dari internetlah bermula zaman emas media di mana informasi yang dibawanya begitu cepat menyebar.

Buruknya, kuantitas informasi makin meningkat, sementara kualitasnya merosot. Hal ini diakibatkan media juga ikut memakai logika industri; kejar target produksi.

Sekarang media-media komunikasi dialogal yang tidak hanya monologal, seperti media massa kian bermunculan sejak bermula dari Facebook. Muncul banyak media semacam WhatsApp, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Meski memiliki fitur berbeda, tapi tujuannya sama saja.

Entah berapa lagi media semacam ini yang akan muncul bermunculan di masa depan. Pertumbuhan media adalah hal niscaya dalam modernitas. Sebab ia merupakan anak kandung aufklarung (pencerahan) yang sangat menjunjung tinggi kebebasan manusia. Karena itu pun media menjadi salah satu pilar atau penunjang demokrasi. Media begitu menentukan ke mana arah opini publik mau tergiring.

Baca juga:

Menurut Marcuse, manusia sudah makin palsu alias terasing dari diri sendiri. Manusia sudah tidak sesuai dengan diri aslinya alias telah menjadi palsu. Dengan kata lain, manusia adalah produk iklan di zaman media. Keinginannya lebih banyak terinspirasi dari iklan dan bukan keinginannya yang autentik. Ia mengecam manusia ciptaan iklan.

Menurut penulis, tentu kritik Marcuse atas manusia modern itu terutama terarahkan kepada media. Kritik Marcuse implisit tertuju pada media lantaran iklan menumpang pada etalase yang media persiapkan.

Dalam perhelatan nasional maupun lokal yang menentukan arah kehidupan manusia (baca: momen pemilu), lihatlah bahwa media memiliki power sangat besar. Sekurang-kurangnya media menentukan 40 persen. Para calon implisit tunduk pada media demi pencapaian kemenangannya karena di dalam alam bawah sadar rakyat telanjur telah terbentuk dan terbiasakan untuk mengamati etalase yang senantiasa media tawarkan.

Meski media turut andil yang begitu penting dalam demokrasi, persis di sini pula letak persoalannya. Kita saat ini seolah tak lagi dapat menikmati kesunyian. Padahal kesunyianlah yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan Sang Ilahi. Diam dan penghayatan adalah kunci untuk merasakan perintah Tuhan.

Namun kini kondisi demikian begitu sulit kita temukan. Hidup kita waktu demi waktu terjejali informasi; tak peduli benar tidaknya, valid atau invalidnya. Kebebasan manusia kian hari kian meluas akibat media dan dalam waktu yang bersamaan telinga kita sangat bising karenanya. Itulah gambaran realitas zaman media.

Media memang berjasa dalam kemajuan yang bersifat sekuler, tetapi membikin manusia mundur dalam spiritual. Lantaran kondisi kesunyian untuk menghayati eksistensialitas serta untuk menemukan makna hidup makin sempit dan bahkan seolah tak dimungkinkan lagi, dengan demikian zaman di mana berseliwerannya yang orang katakan sebagai media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, juga lain sebagainya menjadikan manusia maju secara sekuler, tapi mundur secara moral-spiritual, bahkan condong ke arah brutal.

Baca juga: