Zhaqi dan Fahri dalam Ketakutan yang Mereka Buat

Zhaqi dan Fahri dalam Ketakutan yang Mereka Buat
©GoTravelly

Aku harus bersikap tenang walaupun takut, untuk membuat semua orang tidak takut (Munir). Namun berbeda halnya dengan anak yang satu ini, Zhaqi namanya. Ia lebih memilih lari untuk menghilangkan rasa takutnya, karena sudah segala cara ia lakukan.

Zhaqi dan Fahri sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Melalui jalan yang penuh pohon beringin yang setiap harinya tak pernah ramai. Sebab jalan itu akan terlalui jika waktu pasar tiba.

Konon katanya dari cerita-cerita terdahulu bahwa jalan itu ada penghuni yang tak terlihat, kata Fahri. Zhaqi pun agak bingung soal yang tak terlihat. Karena Zhaqi pernah mendengar guru ngajinya berkata “bahwa sesuatu yang tak terlihat tidaklah benar adanya”.

Ketika keduanya masih saja berjalan menyusuri pohon beringin. Dengan terik matahari yang menghiasi perjalanan mereka. Zhaqi pun merasakan ketakutan, sebab ia mengingat perkataan Fahri. Bahwa di jalan ini ada hal aneh yang sering terdengar, menurut cerita warga.

Namun ia tak mau mengatakan itu, karena takutnya Fahri akan merasa takut juga. Sementara jarak rumah Zhaqi lebih jauh dari rumah Fahri. Tentunya ia akan melanjutkan perjalanan dengan seorang diri. Pikiran aneh itu makin mengganggunya.

Sesampainya di depan rumah Fahri, Zhaqi pun minta segelas air mengingat matahari yang membuatnya kehausan ditambah perjalanan selanjutnya masih jauh. Karena rumahnya terbilang jauh, ia harus berjalan dan akan berbelok ketika menjumpai pohon mangga yang menjulang tinggi dan akan lurus terus sampai ke rumahnya serta akan menyeberangi jalan yang rusak yang akan berdebu ketika mobil truk melewatinya.

Ibu Fahri menyahut dari belakang, “Zhaqi pulangnya sorean saja, istirahat di sini dulu.”

Zhaqi pun tersenyum dan menjawabnya, “Nenek akan khawatir kalau saya tidak pulang cepat.”

“Ya sudah, hati-hati ya kalau pulang,” ucap Ibu Fahri. Zhaqi pun pamit pulang.

Di mana tempat itu sering ia temui ketika musim buah tiba bersama bapaknya untuk mengisi waktu setelah selesai salat subuh dengan mencari mangga yang biasanya berjatuhan. Terkadang juga Zhaqi dan bapaknya tak membawa pulang mangga. Mungkin ada yang mendahuluinya atau memang mangganya tidak berjatuhan, entahlah.

“Suatu musim yang menarik di kampung jikalau musim buah telah tiba.”

Namun Zhaqi tidak sedang beruntung. Mengingat musimnya belum tiba sebelum ia lewat. Ditambah bapaknya masih berada di perantauan, menjadi buruh di perkebunan sawit.

“Suara dan musim telah pudar termakan waktu dan akan benar-benar hilang ketika dewasa menghampiri. Semua kebiasaan di waktu kecil yang terbilang sederhana itu akan hilang dan tinggal cerita seorang diri.

Semenjak peristiwa berhentinya orang tua Zhaqi menjadi petani penggarap yang mengharuskannya mengadu nasib di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya. Tak ada jalan lain selain meninggalkan keluarga untuk sementara waktu demi keberlangsungan pendidikan dan kehidupan sehari-hari keluarga Zhaqi.

Dan ketakutan tadi seakan-akan tak mau hilang dalam benak Zhaqi sepanjang perjalanan. Ia terus berdiam dan melirik sekan-akan ada sesuatu yang menghampiri.

“Ah, ini cuma pikiran,” katanya.

Tapi, ia terus mengikut bagaikan ekor dan itu benar ia rasakan. Entah itu adalah hasil dari pikiran dan rasa yang sedang memang ketakutan mengingat cerita-cerita yang beredar di masyarakat. Sementara rumah masih jauh dan suasana jalan yang masih saja sepi. Mungkin, karena jam masih berada di pukul 13:30 menandakan waktu itu adalah waktu istirahat.

Segala cara sudah ia lakukan agar takutnya itu bisa hilang, namun tak ia dapatkan dalam pencarian pembasmi ketakutan. Membaca ayat-ayat, bernyanyi, dan tak menghiraukan takutnya, ternyata tidak bisa juga. Dalam pikirnya hanya satu cara yang harus saya lakukan, yaitu berlari sekencang mungkin sampai ke rumah.

    Iqbal Maulana

    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
    Iqbal Maulana

    Latest posts by Iqbal Maulana (see all)