Zumi Zola, Maling Bertameng Agama

Zumi Zola, Maling Bertameng Agama
Zumi Zola saat demo Ahok di Jambi | ©Eddy Junaedy

Melihat Zumi Zola di TV dengan posisi tertunduk lesu, teringat bagaimana ia membenci seseorang yang sangat membenci korupsi: Ahok.

Fenomena Zumi Zola dengan Ahok ini menjadi satu pemandangan menarik. Keduanya bukan sekadar berbeda agama, tetapi juga berbeda dalam memaknai agama.

Zumi Zola cerdas bermain dengan nama agama, tetapi tidak cerdas memuliakan agama dengan sebenarnya. Ahok jarang menampilkan kesalehannya sebagai seorang beragama dengan kata-kata “bau Tuhan”, tetapi ia menempatkan nilai ketuhanan di tempat terdalam: memenuhi ruang kesadarannya.

Kesadaran seorang Ahok: saya tidak melihat Tuhan, tetapi setiap kesalahan tersembunyi pun akan terlihat oleh-Nya. Dalam Islam, ini orang sudah mencapai tingkat ihsan. Tingkat di mana dalam sepi pun ia selalu merasa terawasi Tuhan.

Ahok jarang atau hampir tidak pernah memamerkan ia beribadah di gereja. Namun ia mampu menunjukkan sikap beragama yang esensial: tidak curang meski tidak ada yang melihatnya. Sebab ia mampu merasakan bahwa Tuhan selalu mengawasinya.

Musuh Ahok bisa kita pastikan adalah kalangan maling dan pendukung budaya maling. Ia sendiri memusuhi maling; dan ketika maling sudah begitu kuat, ia terlibas.

Ada kekuatan maling yang lihai dalam memanfaatkan keluguan pikiran orang-orang yang merasa paling beragama, menganut agama terbaik, hingga terbuai perasaan bahwa merekalah yang terbaik.

Oara maling memanfaatkan orang-orang lugu tadi, dan musuh maling seperti Ahok pasti disikat. Tidak mempan dengan harta, disikat dengan isu agama.

Baca juga:

Di negara yang masih gemar mabuk-mabukan (baca: mabuk agama), makin mabuk mereka anggap makin benar. Maling-maling rakus sangat gampang memanfaatkan orang-orang yang merasa paling benar begini. Hingga semua musuh maling harus mereka berangus.

Ahok itu musuhnya para maling. Ia terguling karena kekuatan tangan maling.

Namun, orang seperti Ahok bisa tetap berjalan dengan kepala tegak sampai ia mati. Apakah Zumi Zola dan sejenisnya juga akan bisa seperti ini? Saya sangsi.

Zulfikar Akbar