Pemberhentian Terakhir

Pemberhentian Terakhir
Foto: Japanesestation

Kereta kembali bergerak, menuju pemberhentian terakhir.

Sungguh waktu cepat berlalu. Empat tahun setelah aku dikenalkan pada uang, hidupku menjadi makin beringas di jalanan. Tidur di mana saja; di emperan, di kolong jembatan, atau bahkan di atas tanah sekalipun. Tidak ada yang mengajarkanku hidup sehat. Yang diajarkan padaku hanya cara untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Tentu saja dengan cara mengamen.

Om Keriting bertambah gemuk karena sudah jarang terjun ke jalanan. Kini ia mengandalkan segalanya pada isi kaleng dari hasilku mengamen setiap harinya. Tak sedikit teman-temanku mengatakan kalau Om Keriting mau merawat dan membesarkanku hanya untuk menjadikanku sebagai budaknya.

Aku meyakini itu, tapi apa salahnya? Aku harusnya berterima kasih. Sebab karenanya, aku bisa menikmati rasanya sepotong roti.

Di lain hal, aku terpancing akan hasutan-hasutan yang dilemparkan oleh mereka. Akibatnya, aku mogok kerja atau tak menyetor hasil yang kudapat kepadanya. Setiap kali ia menyadari pembangkangan yang kutunjukkan, maka ia akan datang menjemut dan menceramahiku tanpa jeda.

“Bayangkan, kau kugendong ke mana pun aku pergi. Om tak pernah sedikit pun keberatan karenanya. Lalu kenapa denganmu? Om hanya memintamu mengamen saja, dan kau sudah mengeluh. Padahal hasilnya juga untuk makan kita berdua.”

“Tapi…Om….aku…..”

“Baiklah, kalau lebih percaya dengan yang mereka katakan, maka pergi saja. Tak usah kembali. Om akan cari uang sendiri.”

“Tapi….Om….”

“Ah, kau selalu membuatku kehilangan kesabaran. Aku mengasuhmu sejak kecil, dan sekarang kau membangkang perintahku. Kalau waktu itu aku memungutmu, sudah kupastikan tubuhku dimakan anjing, diserbu semut merah.”

Perlahan-lahan pikiranku menjadi tenang. Aku bergerak memeluknya.

Tinggiku sudah mencapai bahunya. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang menyentuh bahu kiriku. Aku dapat menangkap degup jantungnya yang terpompa begitu cepat. Tak beraturan.

Lagi-lagi ia menemukan kelamahan itu. Aku makin tak berdaya dibuatnya. Semarah apa pun diriku yang datang dari pertigaan, akan menjadi dingin dan lesu begitu menatap matanya.

***

Sudah berapa stasiun yang terlewati, aku tak tahu. Yang kutahu, kereta ini telah jauh meninggalkan Kota Malang yang membuatku terpuruk.

Matahari tampak jelas menyebarkan sinarnya ke permukaan bumi. Dari balik kaca, mataku menangkap burung layang-layang mengudara di atas bentangan sawah. Beruntung aku tak punya ilmu mengubah diri. Kalau saja punya, mungkin aku ingin menjadi matahari saja.

Wanita yang di sebelahku berdiri. Menurunkan koper dan tas kecil dari kabin. Ia beranjak menuju pintu keluar mengikuti penumpang lain yang ingin turun di tempat yang sama.

Seorang lelaki paruh baya menggantikan bangku wanita itu. Lain dengan wanita tadi, lelaki yang kutaksir berumur lima puluhan tahun ini murah senyum. Ramah.

“Di mana orang tuamu?” katanya mengawali pembicaraan.

“Tidak ada.”

“Memangnya mau ke mana, dek?” tanyanya lagi.

Aku menatapnya lama sekali sebelum menemukan jawaban yang pantas atas keramahannya. Dan ia terus tersenyum menungguku membuka mulut.

“Di perhentian terakhir kereta.”

“Kok, jauh? Apa tidak takut sendirian?”

Aku tak menjawab. Kubiarkan bapak itu menungguku penuh keheranan. Dipikirnya mungkin aku sombong, dan kukira ada benarnya.

Kereta melaju makin jauh meninggalkan beberapa stasiun. Meninggalkan luka-luka yang sengaja dikeringkan agar dapat melukainya kembali. Aku yang memang tidak diinginkan hidup sama sekali oleh orang tua, tetapi sengaja dihidupkan seseorang untuk merasakan bagaimana rasa tak diinginkan itu. Bagaimana rasanya dipaksa untuk bergantung kepada orang lain dengan dalih sebagai balas budi. Entahlah.

Tut… tut… Kereta tiba di pemberhentian. Kuangkat kardusku, kubiarkan lelaki itu menatapku aneh. Aku turun menerobos semua penumpang dan hilang di dalam keramaian. Kereta kembali bergerak, menuju pemberhentian terakhir.

*Cerita sebelumnya

    Latest posts by Sammad Hasibuan (see all)