Perempuan Lintingan yang Terjerat Moralitas Kolot

Perempuan Lintingan yang Terjerat Moralitas Kolot
©Amny

Ini cerita perempuan yang hidup dalam balutan rokok lintingan dengan liur sebagi perekat kertasnya. Cerita ini muncul di cerita rakyat Jawa yang tertuang dalam kitab Babad Tanah Jawi. Menggambarkan sosok perempuan yang bebas akan nilai moral yang sudah kolot, membuatnya merasa merdeka akan penolakannya terhadap penindasan.

Roro Mendut adalah nama perempuan tersebut. Ia adalah gambaran perempuan asli Indonesia. Sebab ia bertanggung jawab terhadap dirinya, tanpa ada dikotomi di luar dirinya.

Setelah kita membahas kemerdekaan Roro Mendut dalam penolakannya terhadap penindasan yang ia temui, kita menemukan sepenggal kata “moralitas kolot”. Moralitas kolot semacam ketidakmampuan berpikir atau ketakutan terhadap realitas yang sudah menjadi budaya.

Padahal budaya tersebut belum final dan seharusnya bisa kita kembangkan melalui pikiran. Dengan dalil, mungkin akan menyebabkan tuhan murka terhadap kita, apalagi ini masalah moral, “ketakutan bangsa kita” sampai saat ini.

Pemahaman seperti itu sangat berbahaya, apalagi ia masuk dalam ruang pendidikan dan mimbar keagamaan. Penanaman pemahaman seperti itu dalam ruang pendidikan, secara tidak langsung, membatasi pikiran dan membuat pikiran tidak terbuka.

Padahal, pada dasarnya, pikiran tidak punya batasan dan tidak bisa pula terbatasi. Sebab ia akan terus berkembang seiring perkembangan sosial. Mengebiri pikiran bukanlah hal yang mendidik. Sebab ia bukan mesin, semacam robot, dan hewan peliharaan.

Namun tempat yang paling berbahaya menyebarkan pemahaman seperti itu, yaitu di mimbar. Sebab tidak adanya interaksi tanya jawab.

Mungkin tujuan mimbar yaitu tidak membolehkan pikiran terbuka. Salah-benarnya penyampaian sang pencerah mengharuskan robotnya menerima. Kebodohan yang berkepanjangan terjadi karena ketakutan kita terhadap moralitas kolot. Itulah gambaran betapa berbahayanya pemahaman itu.

Baca juga:

Jika kembali melihat realitas Roro Mendut, mungkin akan muncul lagi batasan-batasan dan penilaian yang berlebihan atas dasar moral. Apalagi ia seorang perempuan menyentuh rokok lintingan, barang yang menurut sang ekstrem itu haram; dan kafirlah ketika ia tidak mendengar perkataan sang ekstrem.

Terkadang kita melakukan penilaian secara berlebihan tanpa tersadari. Para ekstrem tersebut ada sebab mereka sudah tidak mampu menggunakan pikiran sehingga dengan gampang memfinalkan sesuatu.

Kecantikan Perempuan dalam Balutan Lintingan

Sosok Roro Mendut menjadi inspirasi dan menjadikannya sebagai dasar atau tolok ukur dalam kemerdekan dan kebebasan seorang perempuan dari nilai-nilai moralitas kolot serta hasrat pejantan laki-laki. Perempuan yang menyentuh lintingan menggambarkan dan menimbulkan kemenarikan diri, tetapi bukan sebuah kemenarikan yang negatif.

Perilaku itu membuat pikiran terbuka. Seakan-akan ia mengajak kita semua biar tidak terjerat pada moralitas kolot.

Terkadang kecantikan dan kebijaksanaan perempuan menjadi objek yang selalu salah di mata kaum-kaum yang bermasalah dengan otaknya. Di era supercepat ini, kecanggihan makin pesat dan perkembangan sang ekstrem-ekstrem juga sangat pesat pula.

Lintingan tersebut, di tangan perempuan, akan menjadi sebuah objek penilaian dalam pandangan umum. Sebab itu menjadi sebuah keanehan di mata kaum-kaum penganut moralitas kolot. Zaman sudah sangat canggih, tapi pikiran masih kolot.

Pelatihan berpikir harusnya kita lakukan untuk memberi ruang orang-orang kolot biar tidak kolot dalam menilai sesuatu. Sebab perkembangan zaman harus mencerdaskan.

Penilaian yang baik harusnya jauh dari model mimbar penceramah. Sebab penceramah tak bisa berinteraksi dengan jemaahnya, apalagi di atas mimbar.

Halaman selanjutnya >>>

Iqbal Maulana
Latest posts by Iqbal Maulana (see all)