Mayoritas Korban Pelecehan Seksual Ternyata Berhijab

Mayoritas Korban Pelecehan Seksual Ternyata Berhijab
Foto: The Wall Street Journal

Temuan servei membuktikan, mayoritas korban pelecehan seksual ternyata adalah mereka yang berhijab. Ada sekitar 17 persen di antaranya yang jadi sasaran keganasan lelaki bejat.

Selain itu, yang menggunakan celana atau rok panjang sebesar 18 persen. Sementara yang berlengan panjang berada di angka 16 persen.

Dari aspek waktu, mayoritas korban mengalami pelecehan seksual di siang hari (35 persen) dan sore hari (25 persen).

“Ternyata banyak mitos yang keliru,” ungkap Rastra Yasland, tim pengacara survei, sebagaimana dilansir BBC Indonesia, Rabu (17/7).

Dalam survei, tidak ada penyebutan korban dari kalangan yang gemar memakai rok mini atau blus tak berlengan.

“Selama ini, korban pelecehan seksual banyak disalahkan karena dianggap mengundang aksi pelecehan dengan memakai baju seksi atau jalan sendiri di malam hari. Tapi itu semua dibantah dengan hasil survei ini yang jelas menunjukkan bahwa perempuan bercadar pun sering dilecehkan, bahkan pada siang hari.”

Tanggapan Komnas Perempuan

Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin, tampak mengamini kalau mayoritas korban pelecehan seksual itu berasal dari kalangan hijaber.

Menurutnya, hal itu sangat mungkin dan bisa terjadi. Karena saat ini, di ruang publik, sudah banyak orang berhijab atau mengenakan celana atau rok panjang.

Adapun soal waktu siang dan sore hari, bagi Mariana, karena waktu itu memang banyak perempuan yang keluar ke ruang publik.

“Sehingga merekalah yang mengalami pelecehan seksual. Jadi, tidak ada urusan dengan jam malam atau pakai rok mini.”

***

Survei ini dilakukan oleh koalisi sejumlah LSM. Terdiri dari Hollaback! Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (JFDG), dan Change.org Indonesia.

Jumlah respondennya 62 ribu. Mereka adalah warga Indonesia yang disurvei secara nasional akhir 2018. [bi]