Pecundang Politik

Pecundang Politik
©Pixabay

Siapakah pecundang politik?

Nalar Warga – Saat korona terjadi, oposisi minta pemerintah lakukan lockdown dan bagikan uang ke rakyat dengan membatalkan proyek ibu kota baru. Jokowi jawab, dengan PSBB, esensinya sama dengan lockdown. Tidak menjamin makin semua orang, namun hanya orang kurang mampu saja.

Proyek ibu kota baru tetap jalan karena di APBN 2020 hanya Rp2 triliun. Jauh lebih sedikit dari dana hibah DKI ke ormas sebesar Rp2,8 triliun yang tidak digeser sama sekali. Jokowi jawab dengan paket stimulus Rp405 triliun. Manyun lagi.

Ketika masalah lockdown sudah dipatahkan, kini muncul lagi serangan terhadap utang untuk menghadapi Covid-19. Ternyata uang Rp405 triliun buan dari utang ke IMF atau asing, tetapi utang dari internal sendiri. Manyun lagi oposisi.

Kemudian ribut lagi soal pembebasan napi koruptor karena alasan korona. Padahal Menkumham Yasonna tidak beri koruptor asimilasi. Ternyata yang ngotot pembebasan napi koruptor adalah PKS dan Partai NasDem. Itu terbukti dalam dengar pendapat dengan Menkumham di DPR. Manyun lagi.

Begitu hebat pujian kepada Anies atas kasus Covid-19 ini. Namanya sengaja dilambungkan sebagai kepala daerah yang paling di depan yang peduli kepada kemanusiaan. Ternyata baru tahu hanya DKI yang terlambat realokasi APBD untuk fokus Covid-19. Daerah lain malah sudah cair anggarannya.

Bagaimana peduli kalau anggaran tidak ada. Kan bullshit. Alasan ada piutang DKI ke Menkeu soal dana perimbangan. Ternyata itu bukan piutang. Gerindra pengusungnya sendiri cemas Anies, agar tidak melakukan pencitraan soal piutang, segera alihkan dana Formula E ke korona. Manyun lagi.

Baca juga:

Semua pengamat oposisi merasa orang pintar dan tentu mengerti hukum. Ketika dilayani LBP ke ranah hukum karena tuduhan mereka, semua panik dan seret masalah hukum ke politik dan SARA.

Padahal tidak ada kaitannya dengan mereka beroposisi yang memang dilindungi oleh sistem demokrasi. Tetapi berkaitan dengan masalah LBP sebagai warga negara. Karena yang diserang oleh oposisi bukan pemerintah, tetapi pribadinya. Lagi-lagi mereka manyun dan meriang khawatir lebaran di penjara.

Apa yang dilakukan oposisi memang seperti ayam berkotek, yang tidak tahu di mana kepalanya. Mereka ngomong, tetapi tidak paham apa yang diomongin. Terbukti semua omong kosong.

Terakhir ada wacana lengserkan rezim. Bukan lagi omong kosong, tetapi onani, sifat pecundang politik sejati. Maksud hati ingin bersenggama dengan Yuliet, tapi apa daya dompetnya cuma bisa beli sabun doang.

*Salma Brecht

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)