5 Penanda Islam Nusantara

5 Penanda Islam Nusantara
Ilustrasi: Muslim Indonesia (Foto: IST)

Nalar PolitikAda 5 penanda Islam Nusantara menurut KH Ma’ruf Amin. 5 penanda itu ia terangkan dalam artikelnya berjudul Khitah Islam Nusantara; edisi Kompas, 29 Agustus 2015.

Menurut Rais Aam PBNU yang juga merupakan Ketua Umum MUI ini, penanda pertama adalah reformasi atau islahiyyah. Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para nahdliyin senantiasa harus selalu berorientasi pada upaya perbaikan.

“Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah). Dan, karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.”

Adapun penanda yang kedua, yakni keseimbangan atau tawazuniyyah. Penanda ini berarti seimbang di segala bidang. Menimbang segala sesuatunya dari aspek keadilan.

“Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazuniyyah ini menimbang dengan keadilan.

Yang ketiga adalah sukarela (volunterisme) atau tatawwu’iyyah. Dalam aspek kesukarelaan, para nahdliyin diharapkan untuk tidak memaksakan pemikiran, gerakan, dan amalannya kepada pihak lain (la ijbariyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU, sekalipun wujudnya berbeda dengan pandangan orang NU.

“Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbariyyah). Harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara (pemikiran atau fikrah, gerakan atau harakah, dan tindakan nyata/amalan atau amaliyyah). Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan berarti tidak berbuat apa-apa.”

Dan yang keempat adalah santun atau akhlaqiyyah. Bahwa segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini, dijelaskan Ma’ruf Amin, berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.

Terakhir, kelima, yakni toleran atau tasamuh. Sikap ini berarti respek kepada pihak lain, terutama bagi yang berbeda pandangan.

“Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian, warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.”

Meski 5 penanda Islam Nusantara di atas, secara konseptual, mudah diucapkan, tetapi, bagi Ma’ruf Amin, hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan.

“Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah.”

Baginya, kedua arus tersebut boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Dan prinsip yang harus dipegang teguh dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional.

___________________

Artikel Terkait:
Redaksi NP
Reporter Nalar Politik