Agama Adalah Demonstrasi

Agama Adalah Demonstrasi
©The Guardian

Di negeriku, agama adalah demonstrasi. Di jalan itu, orang berbondong-bondong dengan identitas bahasa tubuh religius. Pemandangan yang indah, tetapi tidak cukup artistik untuk dunia sekuler.

Kepala sudah telanjur ditutup sehingga cenderung irasional. Tubuh dibalut kain putih sehingga isi hati yang pekat tetap terselubung secara luhur. Ada tutur kata seperti credo diucapkan agak keras. Mereka seperti bersorak menyanjung seorang pemimpin. Inikah yang disebut Nietzsche sebagai perbondongan (Herde)? Kolektivitas primodial dengan gaya floating mass, mengikuti begitu saja apa yang dipercaya, siapa yang dipercaya.

Aku coba pikirkan tentang hidupku. Aku memiliki kebersamaan primodial yaitu Gereja yang pada titik tertentu memperkuat determinasi. Aku menjadi ditentukan pada waktu itu bahkan sampai hari ini.

Waktu itu aku masih kecil. Aku dibawa orang tua ke gereja dan aku dibaptis di sana. Ketika imanku cukup dewasa, aku menerima sakramen ekaristi dan sakramen krisma. Aku sah menjadi seorang Katolik. Apakah ini yang aku kehendaki? Atau ini suatu kenyataan terberi?

Beragama atau tidak adalah suatu pilihan bebas manusia. Manusia bebas memilih agama mana yang ia anut. Atau juga ia bebas untuk tidak memilih agama. Orang bisa hidup sebagai warga negara meskipun tidak beragama.

Aku sadari hidupku bahwa sebetulnya aku tidak bebas dan kebebasanku sebagai manusia sudah dideterminasi oleh tradisi tempat di mana aku hidup. Aku hidup di lingkungan Katolik dan pada waktu aku belum paham tentang hidup aku sudah diputuskan untuk hidup seperti itu. Aku ditentukan oleh dasar komunal hidup di dalam Gereja. Aku sebetulnya tidak bebas. Beragama berarti juga tidak bebas merayakan hidup paling autentik.

Fakta hidup macam ini bisa membuat aku tenggelam sebab arah arus hidupku dinakhodai oleh perbondongan. Aku mengikuti koridor umum yang sering kali memberi batas pada kemerdekaan merayakan hidup. Aku mulai sadar bahwa beragama adalah pilihan orang yang tidak merdeka atau takut merdeka.

Aku terlempar ke dalam dunia (Geworfenheit). Faktisitas yang tak dapat aku tolak. Aku tersituasikan oleh sejarah. Faktum ontologis hidupku yang harus aku lampaui.

Aku tak menolak itu. Aku berjuang untuk memaksimalkan kemungkinan untuk hidup secara autentik dalam partikularitas diriku yang khas. Aku mengikuti riwayat hidup umum, tetapi dinamikaku tetap personal. Aku berdoa dan berbuat baik bukan karena aku beragama. Aku berdoa dengan caraku sendiri. Aku berbuat baik karena hidup adalah kebaikan Tuhan.

Memiliki agama (having a religion) adalah hak privat individu. Beragama itu partikularitas. Agama tempatnya di ruang privat. Aku ingat sabda Yesus, “Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah…” (Mat. 6:6). Tindakan beragama datang dari dinamika isolatif. Solilokui yang kudus, tetapi jelas teleologinya: yang transenden. Percakapan di dalam sunyi bersama Dia yang Maha Hening. Betapa dalamnya dan refleksifnya beragama itu.

Baca juga:

Kenyataan menunjukkan bahwa agama adalah demonstrasi. Agama menjadi selebritas. Di ruang publik, orang hadir dengan identitas agama. Agama dipolitisasi demi kepentingan ideologis kelompok. Ini adalah bukti bahwa orang tidak bebas dan takut menjadi bebas. Orang terikat dan hanyut di dalam perbondongan.

Nietzsche menyebut ‘moralitas budak’, ‘moralitas perbondongan’. Orang hanya ikut begitu saja apa yang dikatakan oleh pemimpin. Ketaatan buta orang beragama. Inilah dosa negeri ini yang mengaku Pancasilais tetapi irasional. Tidak paham hidup sebagai warga negara dan sebagai orang beragama.

Mengapa lonceng itu nyaring berbunyi? Memanggil siapa? Mengapa harus berkumpul? Orang berbondong-bondong datang. Saling berpose di gedung megah itu. Wajah pengkhotbah juga direkam kamera. Seremoni itu dibuat dan dizinkan disiarkan secara langsung (live streaming, online). Agama jadi viral di media. Agama adalah demonstrasi dan selebritas.

Aku berada di jalan mana? Di dalam perbondongan atau di lorong sunyi individualitasku sendiri?

Aku berada di dua kenyataan itu antara kolektivitas dan individualitas. Aku belajar memaknai kemungkinan dan memaksimalkan kebebasan untuk berjuang menjadi individu autentik yang tidak tenggelam di dalam massa.

Aku mulai memberontak terhadap kenyataan hidupku. Aku ingin melampaui hidupku. Ada jiwa yang terus mencari dan menolak genealogi dirinya, bahkan genesisnya. Jiwa seorang muda pengikut Firman di jalan sunyi ziarah puisi. Aku akhiri catatan ini dengan mengutip sebagian baris dari puisi “Kucing” karya Sutardji Calzoum Bachri.

tuhan mencipta kucingku
tanpa mauku dan sekarang dia meraung
mencariMu dia lapar jangan beri daging jangan beri nasi tuhan menciptanya tanpa setahuku dan kini dia minta
tuhan sejemput saja untuk tenang sehari untuk kenyang sewaktu untuk tenang..

    Edy Soge
    Latest posts by Edy Soge (see all)